Ian Dallas, Eric Clapton dan Tarekat

Ian Dallas, Eric Clapton dan Tarekat

Musisi Eric Clapton berkisah tentang  tembang “Layla” yang legendaris itu. Ia mengatakan bahwa lagu itu terinspirasi dari puisi klasik “Layla dan Majnun,” sebuah puisi romantis dari penyair Persia abad ke-12 , Niẓāmi Ganjavi. Eric Clapton mendengar puisi itu dari teman Sufinya, Abdalqadir as-Sufi.

Nama Syekh Abdul Qadir as-Sufi dikenal luas di kalangan para pengikut sufisme di wilayah Benua Afrika. Dia adalah pemimpin Tarekat Darqawiyah Syadziliyah-Qadiriyah, sebuah aliran tarekat pada era modern yang memuliakan kemiskinan dan asketisme. Abdul Qoadir juga kesohor sebagai pendiri Murabitun World Movement, sebuah gerakan keagamaan yang bercita-cita menegakkan ajaran Islam secara kaffah.

Kendati sosoknya kini dikenal luas sebagai seorang ulama di seantero Afrika, mulanya adalah seorang seniman. Lahir pada 1930 di Ayr, Skotlandia, dengan nama Ian Dallas tumbuh dan bekerja dalam lingkungan panggung teater. Selepas dari  Royal Academy of Dramatic Arts, London University, Dallas memulai kariernya di bidang seni sebagai seorang penulis drama. Ia pernah dikontrak oleh jaringan televisi BBC sebagai penulis naskah sejumlah sandiwara dan drama. Tak jarang pula sebagai pemain.

Read More

Ketertarikan Dallas terhadap Islam bermula saat melakukan per jalanan ke Maroko. Selama di Maroko, ia banyak berinteraksi dengan komunitas Muslim khususunya para dan pengikut tarekat. Pada tahun 1963 tepatnya di Kota Fes, Maroko, Dallas memutuskan memeluk Islam di bawah bimbingan Imam Masjid al-Qarawiyyin, Syekh Abdul Karim Daudi. Namanyapun berubah menjadi Abdul Qadir.

Dia kemudian bergabung dengan Tarekat Darqawiyah, sebuah gerakan tarekat terkemuka di Maroko yang menisbatkan namanya pada Syekh Muhammad al-Arabi al-Darqawi (1760-1823). Dibawah bimbingan  langsung sang pemimpin tarekat, Syekh Muhammad bin al-Habib. Darinya Dallas memperoleh gelar As-Sufi. Bersama Syekh al-Habib, dia menjelajahi Maroko dan Aljazair untuk belajar sufisme dari Sidi Hamud bin al-Bashir (ulama Bilda) serta Sidi Fudul al-Huwari as-Sufi (ulama Fes).

Pengalaman spiritual yang dilalui Abdul Qadir selama pengembaraannya di tanah Afrika telah membuka cakrawalanya mengenai ajaran-ajaran Islam. Terlebih setelah perjumpaannya dengan seorang mursyid besar dari Meknes. Setelah kembali ke Eropa dari perjalanan spiritualnya di Maroko, Abdul Qadir menuju ke Benghazi, Libya, bersama Syekh al-Fayturi dan melakukan khalwat dan kemudian ditasbihkan menjadi mursyid Tarekat Darqawiyah.

Sejak saat itu, Syekh Abdul Qadir memprakarsai pengembangan komunitas-komunitas Muslim di jantung peradaban Barat di Eropa. Ia gigih mendidik kaum Muslim Eropa tentang ajaran agama dengan  mengemban tugas transformasi Islam.