Dari Rasulullah hingga Dalai Lama, Toleransi adalah Bukti Kita Manusiawi

Dari Rasulullah hingga Dalai Lama, Toleransi adalah Bukti Kita Manusiawi

Sejarah dunia sangatlah cukup kalau sekadar untuk memberi teladan. Di berbagai belahan dunia, pernah hidup para manusia yang berhasil menumbangkan kebencian dalam dirinya sendiri.

Dari Rasulullah hingga Dalai Lama, Toleransi adalah Bukti Kita Manusiawi
Foto: Kompas

KBBI memaknai kata manusiawi sebagai sifat kemanusiaan. Sebagian besar kita percaya bahwa sifat kemanusiaan adalah bagian dari diri manusia yang sudah melekat sejak lahir. Lalu pertanyaannya, sifat baik atau burukkah yang dibawa manusia saat ia lahir?

Pada saat gerakan #BlackLivesMatter pecah beberapa waktu lalu, kampanye antirasisme juga ikut merebak di berbagai penjuru dunia. Berupa-rupa argumen, postingan gambar, atau video tentang bukti-bukti rasisme yang masih menjamur tersebar luas melalui sekat-sekat kanal media massa dan media sosial. Di antara jutaan konten tersebut, muncul satu video yang cukup menyentuh, dan sepertinya sangat digemari oleh banyak orang.

Video tersebut mempertontonkan adegan dua anak kecil yang tampak lama tak bertemu, kemudian mereka saling berpelukan sambil bercanda bersama. Seorang anak kulit hitam Afro-Amerika yang kelihatan bahagia bersama sahabatnya, yaitu bocah kaukasian berambut pirang yang tak berhenti melempar senyum pada kawan lamanya itu.

Adegan tersebut tentu saja menunjukkan satu keberpihakan dalam menentang rasisme. Namun di sisi lain, banyak orang kemudian mengamini bahwa sifat rasis bukanlah bagian dari sifat dasar manusia. Sebaliknya, mengasihi dan menyayangi orang lain tanpa pandang latar belakang apa pun adalah sifat paling manusiawi yang kita miliki.

Mengenai tesis itu, barangkali jika Jean-Jacques Rousseau masih hidup dia akan manggut-manggut menyatakan kesetujuannya. Filsuf Prancis kelahiran Jenewa itu sangat mempercayai sifat baik sebagai bawaan lahir manusia. Menurutnya, semua manusia terlahir dengan sifat-sifat baik, namun kebaikan itu kemudian mulai dicemari sifat buruk akibat pengaruh lingkungan dan institusi.

Dalam Islam kita juga mengenal konsep fitrah. Imam Al-Ghazali mengartikan fitrah sebagai sifat dasar manusia yang dimiliki sejak lahir dengan beberapa keistimewaan. Di antaranya adalah beriman kepada Allah SWT, memiliki kemampuan serta kesediaan untuk menerima kebaikan dan keturunan, serta kemampuan untuk menerima pendidikan dan pengajaran.

Semua muara sifat dasar manusia dari berbagai pemikiran di atas adalah kebaikan. Tak ada kebencian yang terbawa saat manusia lahir.

Namun, hal ini menjadi menyedihkan ketika manusia tumbuh dan dihinggapi kebencian secara perlahan. Kebencian hinggap dengan segala faktor dan alasan kepentingan yang melatarbelakanginya. Meski kita memiliki pedoman moral berupa agama, hukum, atau kesepakatan etik dalam masyarakat, namun semuanya seperti tak mampu membendung pertikaian, egosime, dan sifat merendahkan sang liyan yang terus ada.

Bagi sebagian golongan, agama bahkan dijadikan pembenaran atas penghinaan, kekerasan, hingga pembunuhan. Keadilan yang selalu digaungkan Nabi Muhammad dengan mudahnya ditimbun dengan kesombongan dan superioritas yang menempatkan sesorang pada perasaan berderajat paling tinggi.

Sebagai kaum beragama dan beradab, kita masih menjumpai kasus pembakaran seorang waria, penyerangan sinagoge yang meninggalkan trauma mendalam bagi para korban, pengusiran warga Syiah, perundungan komunitas Hindu di Indonesia yang sama sekali tak berhubungan dengan konflik agama di India, atau pengeboman di mana-mana oleh para ekstrmis Islam. Misi Nabi dalam menyempurnakan akhlak umatnya seakan diingkari oleh kesewenang-wenangan. Toleransi jangan ditanya lagi, ia mati, hanyut terbawa pemahaman dangkal pada agama.

Toleransi dalam konteks ini bukanlah sebentuk simbol-formalistik belaka, melainkan suatu aksi yang mendasar dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kita tak membicarakan toleransi pasif dengan sekadar tak mengganggu tetangga beda agama di sebelah rumah atau membangun terowongan antara masjid dan gereja. Bukannya itu tidak baik, tapi masih banyak aksi-aksi esensial yang menunggu kita di depan. Di tengah situasi merebaknya ketidakadilan dan pengingkaran atas prinsip kemanusiaan, mengedepankan dialog daripada memukul adalah sebuah keharusan. Juga melakukan perlindungan pada mereka yang dilemahkan (mustadh’afin) daripada mempersoalkan perbedaan yang tak ada habisnya adalah cermin kemanusiaan yang perlu ada pada tiap entitas.

Sejarah dunia sangatlah cukup kalau sekadar untuk memberi teladan. Di berbagai belahan dunia, pernah hidup para manusia yang berhasil menumbangkan kebencian dalam dirinya sendiri. Dengan kesadarannya, mereka memilih merawat sifat-sifat dasar yang dibawanya sejak lahir, yaitu sifat-sifat kemanusiaan yang sejalan dengan berbagai ajaran agama.

Sebut saja Dalai Lama yang tak pernah menyerah mendesak pemerintahan Myanmar untuk menghentikan represinya pada komunitas Muslim Rohingya. Dalam wawancaranya di Washington, pemimpin spiritual Tibet itu mengatakan bahwa ia telah menekan isu tersebut dalam pertemuan-pertemuannya dengan Aung San Suu Kyi.

“Ia sudah mendapatkan Hadiah Nobel untuk Perdamaian, seorang peraih Nobel, jadi secara moral ia seharusnya… membuat upaya untuk mengurangi ketegangan antara komunitas Buddhis dan komunitas Muslim,” kata Dalai Lama kepada Reuters.

Di Oslo, Norwegia, lebih dari seribu orang membentuk “lingkaran perdamaian” mengelilingi sebuah sinagoge. Sebagaimana kita tahu, beberapa tahun terakhir wilayah Eropa diselimuti berbagai insiden anti-Semitisme yang meningkat pesat. Kebencian kepada komunitas Yahudi itu membuat para pemuda Muslim di sana tergerak untuk melakukan aksi solidaritas tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada Banser NU di Indonesia yang rutin menjaga gereja saat Natal dan Paskah tiba, mengingat banyak serangan pengeboman dari para eksremis Muslim.

Pada November 1984, New York Times pernah menerbitkan sebuah laporan yang menyentuh tentang sekelompok umat Hindu yang melindungi para Sikh dari kerusuhan anti-Sikh yang meletus di India. Di sebuah apartemen di Delhi Barat, sekitar 200 keluarga Hindu membawa orang-orang Sikh yang ketakutan ke dalam rumah mereka. Meski di luar apartemen para perusuh mengancam akan membakar bangunan, mereka tak bergeming. Bahkan kumpulan keluarga Hindu ini membentuk regu pertahanan yang berpatroli di sekitaran gedung.

Pranay Gupte, penulis buku Mother India: A Political Biography of Indira Gandhi mengatakan bahwa konflik sektarian itu dipicu oleh terbunuhnya Perdana Menteri Indira Gandhi oleh dua pengawal pribadinya yang beragama Sikhisme. Dari sanalah kemudian lebih dari 5.000 umat Sikh dibantai, entah itu laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak.

Dalam al-Sirah al-Nabawiyyah Ibnu Hisyam, diceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah mempersilakan rombongan umat Nasrani Najran yang menjadi tamunya untuk melakukan kebaktian di masjidnya. Meski para sahabat terlihat keberatan, Nabi justru berkata kepada para sahabat untuk membiarkan para tamunya melakukan ibadah dengan tenang.

Apa yang dilakukan Dalai Lama, para pemuda Muslim Norwegia, sekumpulan keluarga Hindu India, dan Nabi Muhammad tentu saja bukan berasal dari ego, kebencian kepada perbedaan, atau perasaan paling mulia di antara manusia lain. Bentuk toleransi seperti inilah yang dibutuhkan. Bukan dalam arti perilaku yang sama, melainkan garis nilai yang sejajar antara satu dan lainnya. Bahwa segala bentuk ketidakhormatan, kekerasan, apalagi pembunuhan atas nama agama bukanlah berasal dari ajaran agama itu sendiri.

Di luar sana tentu masih banyak aksi-aksi toleransi yang bisa kita dijadikan teladan. Mereka adalah orang-orang yang terus berjuang menggunakan hati nurani, mempertahankan kemanusiaan, dan melindungi sesamanya dengan tulus. Begitulah manusia seharusnya. Begitulah sepatutnya Islam, juga agama-agama lain diamalkan dalam kehidupan manusia sehari-hari.