Dakwah Kultural Muhammadiyah: Peluang dan Tantangan [Bag-2 Habis]

Dakwah Kultural Muhammadiyah: Peluang dan Tantangan [Bag-2 Habis]

Meskipun Muhammadiyah memiliki lembaga seni budaya, namun perannya belum terlalu kuat di kalangan seniman muslim urban, khususnya pemain film dan musisi. Malah yang mendampingi mereka belajar Islam adalah kelompok Salafi, Jamaah Tabligh, HTI, dan lain-lain.

Dakwah Kultural Muhammadiyah: Peluang dan Tantangan [Bag-2 Habis]
Ilustrasi orang yang sedang berdakwah.

Artikel ini lanjutan dari tulisan sebelumnya, silahkan klik di sini untuk membaca artikel bag- 1.

Dakwah Kultural dengan Merangkul Seniman

Sekalipun Muhammadiyah memiliki lembaga seni budaya, namun perannya belum terlalu kuat di kalangan seniman muslim urban, khususnya pemain film dan musisi. Malahan sebagian besar seniman itu, terutama yang tinggal di Bandung dan Jakarta, belajar Islamnya didampingi oleh kelompok Salafi,  Jamaah Tabligh, HTI, gerakan tarbiyah, ataupun lain-lain. Ini sebetulnya ruang kosong yang masih terbuka, dan belum dimaksimalkan dan diseriusi oleh organisasi besar seperti Muhammadiyah, atau ormas lainnya.

Kendati ada segelintir tokoh Muhammadiyah yang masuk pada segmen ini, seperti komunitas Orbit yang dibentuk Din Syamsuddin, namun gerakannya sangat terbatas dan tidak populer. Bahkan, sebagian dari anggotanya beralih kepada kajian Salafi. Ketika penelitian disertasi, saya bertemu dengan salah satu selebriti yang dulu aktif di kajian Orbit kemudian beralih ke Salafi. Alasannya pindah ke Salafi karena setelah sekian tahun mengikuti kajian Orbit dia tidak tahu bagaimana cara beribadah yang benar. Dia tahu cara wudhu yang benar, shalat yang benar, setelah mengikuti kajian Salafi.

Seniman punya kelebihan dalam pengemesan konten. Mereka mampu menerjemahkan materi yang rumit dan pelik dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti masyarakat. Dakwah dengan menggunakan pendekatan seni dan budaya, hasilnya bisa jadi lebih efektif ketimbang ceramah di masjid, terutama bagi orang yang tidak begitu familiar dengan Islam.

Selain itu, seniman juga memiliki pengikut atau fans yang militan, apalagi musisi dan bintang film. Apabila mereka berhasil dirangkut, kemungkinan besar pengikutnya juga akan ikut. Jamaah Tabligh misalnya, mereka selalu mengincar musisi untuk diajak dakwah, khususnya musisi underground karena basis fansnya lebih militan. Derry Sulaiman, mantan basis Betrayer, tertarik bergabung dengan Jamaah Tabligh, karena selalu diikuti pada saat manggung. Para pendakwah JT tidak sungkan untuk ikut konser metal, kemudian memberi apresiasi kepada para musisi, dan mengajak mereka pelan-pelan untuk berdakwah.

Masalahnya kemudian, para seniman hijrah ini, terutama yang menjadi Salafi, meninggalkan aktivitas kesenian mereka. Yang awalnya pemain film atau musisi, profesi itu mereka tinggalkan, mereka beralih menjadi pedagang, bahkan ada yang menjadi pendakwah. Kenapa demikian? Karena dalam ajaran Salafi musik tidak ditolerir sama sekali. Antara Islam dengan aktivitas musik tidak bisa digabung dan dijalankan secara proporsional. Sementara, bagi JT musik masih ditolerir, walaupun sebagian dari mereka ada juga yang mengharamkan musik.

Kalau setiap seniman yang ingin belajar Islam mesti meninggalkan aktivitas kesenian mereka, tentu ini sangat disayangkan. Kenapa? Hal ini akan menimbulkan prasangka buruk bagi seniman lainnya, mereka akan takut untuk memulai belajar Islam, sebab musik bagi mereka adalah mata pencarian utama. Di samping itu, bila semua seniman muslim meninggalkan profesi mereka dengan asalan untuk belajar agama, di satu sisi bagus, tetapi bagaimana nasib kesenian kita? Produk kesenian akan semakin jauh dari nilai-nilai Islam.

Sebab itu, solusi yang terbaik adalah mendampingi mereka. Memberi penjelasan bahwa Islam tidak anti seni, bahkan kesenian itu dapat digunakan sebagai medium dakwah untuk mempermudah masyarakat memahami ajaran Islam. Seniman perlu diyakinkan selama aktivitas kesenian mereka sejalan dengan syariat Islam, maka profesi mereka itu sama mulianya dengan profesi yang lain.

Muhammadiyah perlu memperkuat basis di kalangan seniman. Mereka dapat dijadikan mitra untuk memperkaya produk kesenian dengan semangat Islam. Tidak banyak seniman, khususnya di perkotaan, yang saya temui tertarik menjadi anggota ormas, atau mengidentifikasikan diri mereka sebagai pengikut ormas tertentu, karena citra organisasi seperti Muhammadiyah di mata mereka adalah sebagai organisasi an sich, bukan tempat untuk belajar Islam. Beberapa orang ketika diwawancarai ada juga yang mengaku berasal dari kultur Muhammadiyah, tetapi mereka juga tidak tahu bagaimana cara belajar agama di Muhammadiyah, harus menghubungi siapa dan tempatnya di mana?

Memperkuat Basis Jamaah Digital

Menggunakan media digital sebagai platform dakwah merupakan sebuah keniscayaan pada masa sekarang. Medium belajar agama sudah berubah. Sekolah, pesantren, majelis taklim, atau perguruan tinggi tidak lagi satu-satunya dapat menimba ilmu agama. Platform digital, seperti Facebook, Instagram, Tik Tok, You Tube, dan lain-lain juga menjadi rujukan utama generasi sekarang untuk belajar Islam. Dalam penelitian yang saya lakukan, salah satu alasan ketertarikan selebritis hijrah mengikuti pendakwah Salafi karena konten dakwah mereka membanjiri internet.

Dibanding ormas mainstream, kelompok Salafi jauh lebih dulu menggunakan media digital atau internet sebagai media dakwah. Nahdlatul Ulama tampak lebih mampu mengejar ketertinggalan di dunia digital. Terbukti, media NU Online saat ini menjadi salah satu media Islam digital yang sangat populer. Akan tetapi, Muhammadiyah terlihat belum berhasil mengejar ketertinggalan itu. Di satu sisi ini agak paradoks, Salafi yang dikenal sebagai gerakan anti pembaharuan dan NU sebagai gerakan tradisional, justru lebih cepat migrasi ke dunia digital, dibanding Muhammadiyah yang sejak dulu dikenal sebagai gerakan modernis, pembaharuan, dan  berkemajuan.

Wahyudi Akmaliah menjelaskan, NU dan Muhammadiyah besar secara populasi, tetapi mereka gaungnya tidak terlalu besar di internet. Ini beda dengan Salafi yang populasinya tidak terlalu besar, tetapi punya gaung yang cukup besar. NU dan Muhammadiyah harus diakui ketinggalan start.

Akan tetapi, di antara dua organisasi ini yang lebih responsif atau reaktif adalah anak muda NU. Mereka merasa tertinggal, tetapi terus berusaha untuk menawarkan wajah Islam NU yang moderat di Internet. Akhirnya muncul NU Online, Islami.co, Bincangsyariah, dan seterusnya. Mereka menjadi responsif karena merasa ada yang dilawan, yaitu ideologi Wahabi dengan agenda purifikasi. Sementara Muhammadiyah tidak memiliki antidote itu. Apalagi modernisasi purifikasi Islam juga beririsan dengan organisasi Muhammadiyah. Sehingga, Muhammadiyah masih cukup kesulitan menemukan cara membangun antidote untuk dirinya sendiri.

Muhammadiyah perlu kerja keras mengejar ketertinggalan itu. Di antara caranya adalah menyediakan kebutuhan praktis yang dibutuhkan masyarakat muslim di dunia digital. Misalnya masalah keislaman sehari-hari, mulai dari shalat sampai haji, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Survey Alvara tahun 2019 masih relevan disebut di sini, temuan surveynya menunjukkan ilmu fiqih dan muamalah merupakan materi yang paling banyak dicari mayoritas umat Islam di Indonesia, kemudian disusul tarikh atau sejarah Islam. Responden yang menyatakan membutuhkan ilmu fiqih sebanyak 58.2%, sedangkan yang membutuhkan ilmu muamalah sebesar 54,6%, dan yang membutuhkan ilmu tarikh sebanyak 28, 6 %.

Adapun kriteria narasumber, ustadz, atau pendakwah yang disukai adalah memiliki rujukan keagamaan kuat dan mendalam, mampu menjawab problematika umat, tegas dan humorits, dan terkenal. Memiliki rujukan ilmu keagamaan yang kuat merupakan hal wajib dan utama yang dilihat oleh umat Islam. Humoris menjadi kriteria tambahan agar jamaah tidak merasa bosan, terutama dari kalangan muda.

Kehadiran media digital juga membuat orang lebih nyaman bertanya kepada “mufti online”, ketimbang Majelis Ulama, Nahdlatul Ulama, ataupun Muhammadiyah terkait masalah sehari-hari. Dengan bertanya kepada penyedia layanan fatwa digital, mereka dapat menerima jawaban secara cepat, tanpa harus melewati proses administrasi yang rumit.

Menurut Nadirsyah Hosen, ada beberapa alasan mengapa generasi muslim sekarang lebih memilih mengajukan pertanyaan secara online atau mencari jawaban tentang Islam di internet, di antaranya, generasi baru muslim merasa lebih sulit menyesuaikan diri dengan metode-metode tradisional dalam penyampaian ilmu pengetahuan Islam dan sedang mencari cara-cara baru untuk menyesuaikan hukum Islam dengan kehidupan sehari-hari. Generasi baru ini, terutama terdiri dari orang-orang Indonesia kelas menengah, relatif berpendidikan, tinggal di kota, dan tidak pergi belajar ke sekolah-sekolah agama. Mereka mencari bimbingan Islam yang instan, segar, pragmatis, dan mudah diakses. Sikap ini berbeda sekali dengan orang-orang pedesaaan yang masih berpergian dari desa mencari kiai yang dihormati untuk dapat meminta nasihat.

Majelis Tarjih Muhammadiyah sudah saatnya berbenah diri agar relevan dengan masyarakat digital. Majelis tarjih atau lembaga dakwah Muhammadiyah secara umum perlu mendiskusikan hal ini secara serius, menyusun langkah strategis untuk melakukan rebranding Muhammadiyah yang cocok untuk segmen anak muda. Muhammadiyah perlu berkolaborasi dengan banyak seniman, influencer, dan anak muda untuk memikirkan bersama-sama bagaimana supaya dakwah yang dikembang Muhammadiyah lebih mudah diterima dan dipahami anak muda atau netizen digital.

Penutup

Muhammadiyah dan jamaah adalah satu kesatuan utuh. Muhammadiyah tanpa jamaah juga tidak ada artinya. Muhammadiyah dan jamaah harus jalan bersama-sama. Muhammadiyah mesti mengupgrade dirinya supaya terus relevan dengan jamaah yang ditemaninya. Jamaah pada umumnya terus berubah, mereka adalah audience yang hidup dengan konteks sosial, budaya, dan teknologi yang terus berkembang dan berubah. Muhammadiyah perlu mempelajari hal itu, agar tidak tercerabut dari akarnya.

Gagasan dakwah kultural yang dikembangkan Muhammadiyah sangat layak diapresiasi. Ini sebuah gagasan yang bagus. Tapi semua itu tidak banyak berpangaruh kalau masih di dalam alam ide, tanpa dikembangkan dalam langkah praktis dan strategis. Budayawan dan seniman merupakan teman kolaborator yang cocok. Mereka sangat mengerti bagaimana supaya gagasan yang diusung lebih mudah dipahami masyarakat awam.

Anak muda juga perlu dilibatkan dalam mengembangkan dakwah kultural. Mereka tumbuh dalam media baru yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka punya bahasa sendiri, gaya komunikasi sendiri, media sendiri, dan seterusnya. Berdiskusi dengan anak muda akan memperkuat konsep dakwah kultural Muhammadiyah, terutama dalam hal bagaimana menyapa audience di media sosial.

Kita tahu perkembangan teknologi begitu sangat cepatnya. Dari hari ke hari, limpahan informasi menyerbu media sosial. Informasi silih berganti dalam hitungan detik. Informasi saling bersaing satu sama lainnya. Dalam situasi seperti itu, tidak mudah menyajikan konten agama yang bisa bersaing dengan konten non-agama. Butuh langkah khusus bagaimana konten keagamaan yang disajikan dapat bersaing dengan konten lain di media sosial. Semua itu tidak bisa dilakukan sendiri, karenanya Muhammadiyah perlu berkolaborasi dengan anak muda yang mengerti dunia digital, untuk memperkuat basis jamaah Muhammadiyah digital.