Cerpen: Kupu-Kupu di Atap Masjid

Cerpen: Kupu-Kupu di Atap Masjid

Cerpen: Kupu-Kupu di Atap Masjid

Seharusnya dia tenang, bertingkah seolah-olah melaksanakan perintah suci. Berisik ranting kering pohon mangga yang terinjak kakinya tak akan membuatnya dicurigai apabila ia tenang seperti malam-malam sebelumnya. Dia ustadz. Warga pasti memaklumi apabila ia berjalan menuju masjid di penghujung malam. cerpen kupu-kupu

Setelah melewati pos ronda, hatinya sedikit lega. Ia merasa beruntung karena petugas-petugas itu tengah asyik bermain kartu. Walau memakai baju koko dan sarung berwarna putih, keberadaannya tidak diketahui oleh para penjaga itu. Ia memang berusaha sekuat tenaga agar tidak sedikit pun suara keluar dari langkah kakinya.

Kini keadaannya benar-benar aman. Yang ditakutkannya hanya cerita keranda yang dapat terbang sendiri ketika sesuatu yang besar akan terjadi. Namun ia berusaha tenang, sebab ia datang dengan maksud suci.

***

Daun pintu sudah dibukanya. Sepasang kaki Dahlan, pemuda berbaju putih itu, bergetar lebih hebat. Dahlan segera menata hatinya untuk bertemu dengan Tuhan dalam munajatnya, memohon keabsahan tindakannya. Ia yakin Tuhan mengerti maksud perbuatannya kali ini.

Tetapi itu tidak cukup menenangkan hati Dahlan untuk segera menuntaskan rencananya. Apakah Tuhan benar-benar mendukung rencana ini? Ia bertanya pada diri sendiri. Keringat dingin mulai bercucuran dari sekujur tubuhnya.

Sementara itu ada seratus, atau bahkan ribuan kupu-kupu raksasa mengitari kubah masjid. Suaranya memekik, memecah malam yang tengah terlelap.

Tiga orang penjaga ronda yang tengah asyik bermain kartu di pos ronda terperangah dengan apa yang mereka lihat.

“Kalong… Kalong nyerbu masjid…” teriaknya bersamaan. Mereka mengira hewan-hewan bercahaya yang berputar mengitari kubah sebagai segerombolan kalong. Ketiganya membuang kartu, lalu mengambil kentongan dan bersiap membangunkan warga yang tentu sudah tertidur pulas.

Suara kentongan berbunyi. Penduduk yang terlelap dalam mimpi masing-masing terbangun. Tanda maling! Mereka menuju muasal suara itu, dengan membawa bermacam-macam alat.

“Siapa yang kemalingan. Siapa?” Pak Bram yang tiba-tiba muncul ke kerumunan warga terlihat paling geram. Dihampirinya petugas ronda dengan tatapan tajam.

“I… Itu Pak. Ada banyak kalong putih berputar-putar di atap masjid,” teriak salah seorang petugas ronda. Tetua itu kemudian memandangi bangunan masjid. Ia hampir tak percaya bahwa peristiwa puluhan tahun silam terjadi lagi di kampungnya.

Para warga kemudian serentak melihat ke tempat yang dimaksud. Mereka terperangah mengamati hewan-hewan bersayap yang berputar-putar di atas kubah masjid.

“Kupu-kupu raksasa? Ya, hewan itu mirip kupu-kupu!” teriak seorang warga. Ia yakin hewan-hewan itu adalah kupu-kupu, bukan kalong sebagaimana dongeng. Hewan-hewan itu seukuran burung elang, dengan sayap-sayapnya lebar dan indah.

“Tidak mungkin. Itu pasti kalong!” teriak seseorang yakin.

“Dan kalong adalah pertanda maling!” timpal Pak Bram. Lalu sorak-sorai kembali membahana. Mereka bersiap-siap menuju bangunan masjid itu.

***

Jika bukan manusia, ada makhluk lelembut yang mengambil sesuatu di dalam masjid sehingga kalong-kalong itu menampakkan dirinya kembali. Cerita mengenai banyaknya kalong yang terbang bukan hal baru di desa itu. Dulu kalong-kalong pernah keluar saat kasus pencurian anak kecil tersiar. Anak-anak ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Tubuh tanpa kepala! Konon kepala mereka dijadikan tumbal pembangunan jembatan raksasa yang berada di ujung timur.

Saat itu kalong-kalong dari goa hutan keluar dan berteriak-teriak, seperti menyampaikan berita kepada para warga. Mereka terbang dari satu rumah ke rumah warga yang lain. Begitu cerita Pak Bram yang dikenal masyarakat.

“Kalong-kalong itu pasti sebuah pertanda, sebagaimana yang kerap terjadi di kampung kita dulu!” ucap Pak Bram kemudian. Ia bercerita, terakhir kali dirinya melihat kalong raksasa ketika masih bujangan. Namun ia heran, kalong-kalong yang dilihatnya kali ini bukanlah kalong hitam yang mengerikan. Kalong di atap masjid itu berwarna putih menyala, memberi kesejukan bagi siapapun yang melihatnya. Walau lengkingan suara kalong seakan memecahkan gendang telinga.

***

“Allah…,” desis pemuda itu. Tak ada kata lain yang bisa ia ucapkan. Air matanya keluar, turun menggarisi wajah kasarnya. Ia ingat betapapun mulianya perbuatannya kali ini merupakan sebuah dosa. Namun ia merasa inilah satu-satunya jalan yang bisa ditempuhnya.

Teringat garis-garis sayu wajah Riana yang memelas di depan masjid beberapa saat lalu. Pada malam harinya, ia mendengar Riana mati tertabrak truk dan mayatnya dilarikan ke rumah sakit. Tetapi sampai beberapa minggu tidak ada tanda-tanda keluarganya bakal mengambil jenazahnya. Atau ia memang sudah tidak memiliki keluarga?

Dahlan teringat bagaimana temannya bercerita bahwa mayat-mayat yang tidak diambil akan digunakan untuk keperluan praktikum. Ia tidak membiarkan ini terjadi pada tubuh Riana, tubuh suci yang harus dikubur secara baik-baik. Untuk mencegahnya diperlukan sejumlah biaya. Dari mana sejumlah uang itu ia dapatkan?

Warga desanya bersikeras menolak iuran yang digagasnya. Pun warga desa Riana yang sudah bersepakat menolak kedatangannya kembali, sekalipun berupa jenazah. Keluarganya? Ternyata Riana sudah tidak lagi memiliki keluarga. Riana merupakan gadis sebatang kara.

“Perempuan jalang itu taubat?! Hah, jangan mengada-ada kamu!” seloroh Bang Jamal, tukang ojek yang biasa nongkrong di depan gardu setelah mendengar cerita Dahlan.

“Dia memang cantik, Lan. Tapi kamu harus membuka mata. Dia itu wanita panggilan.”

“Kenapa kamu ngotot seperti itu? Jangan-jangan kamu mau mengawini mayatnya?”

Berbagai tanggapan dan hujatan mengarah kepadanya. Namun Dahlan berusaha sabar menerima itu semua. Ia bersikukuh mayat itu adalah mayat suci yang harus diperlakukan secara baik-baik. Tidak seujung mata pisau pun boleh menggores kulitnya. Tetapi dari mana uang itu didapatnya? Menjual rumahnya sekalipun tidak cukup menebus tagihan yang ditetapkan.

Ah, entah ini sebuah kegilaan yang melampaui batas atau memang karena bisikan dari-Nya. Tiba-tiba saja terlintas sebuah gambaran ke mana Dahlan harus mencari uang-uang itu.

***

Dahlan kembali mengucurkan air mata mengingat bagaimana ia bisa berada dalam keadaan seperti ini.

“Allah…” desisnya untuk kesekian kali. Matanya sembab akibat air mata yang terus keluar karena pertarungan jiwanya. Ingin ia mundur dan mencari jalan lain, tetapi waktu tidak akan mencukupi. Bayangan kotak berisi uang kas masjid pun sudah terlihat dalam keremangan. Di sana ia melihat setitik harapan dari tulisan yang tertera di atasnya. Kotak amal jariyah.

“Apakah mengambil uang amal untuk tujuan kebaikan itu salah?”

Klek. Dahlan tidak mendengar suara apapun kecuali suara kunci yang membuka gembok kotak itu. Padahal di halaman masjid suara teriakan dan sorak-sorai para warga membahana. Bahkan ia tidak mendengar jeritan hewan-hewan bercahaya yang membuat warga harus menutup lubang telinga menggunakan jari telunjuk.

Dahlan terperangah. Ia tidak melihat sepeserpun uang di dalam kotak itu! Padahal selepas Isya tadi, ia dan takmir masjid baru saja menghitung ulang uang itu. Ia yakin seseorang telah mengambilnya.

***

Dahlan tersentak kala merasakan sebuah pukulan menyambar tengkuknya. Ia tersungkur, berusaha menerka siapa yang ada di ruangan itu.

“Ustadz geblek! Kenapa malam-malam kamu datang kemari?!” hardik seorang tua. Telinga orang tua itu berdarah-darah karena tidak menutup lubang telinganya. “Kamu mau mengambil ini, heh?” imbuhnya sembari memperlihatkan gulungan uang. Lambung Dahlan limbung mendapat sepakan yang menerjang.

Dahlan hanya bisa diam dan pasrah dalam rasa sakit yang mendera. Ia mengenal siapa orang tua yang tengah tersenyum sinis di depannya. Tamparan keras mendarat di pipinya yang sayu.

Warga yang berada di luar dan melihat adanya sosok tubuh terbaring dengan uang berserakan di depannya lantas berteriak-teriak.

“Maling… Maling…” Warga terus berteriak tanpa melepas telunjuk dari lubang telinga. Hewan-hewan itu masih mengeluarkan suara yang mebuat siapapun mengerang kesakitan.

Beberapa waktu kemudian, hewan-hewan itu berhenti memekik. Warga mulai berani melepas telunjuk mereka dari lubang telinganya. Setelah merasa aman, mereka mengambil alat-alat yang sempat dilepas, bendo, clurit, parang, pedang, peso, linggis, batang kayu, dan lainnya. Alat-alat itu diacung-acungkan. Mereka siap melakukan penghakiman yang tertunda.

***

Beberapa warga ditugasi membersihkan ruangan masjid yang anyir darah. Jam berdentang empat kali, menandakan waktu subuh hampir tiba. Di luar, tampak seseorang berpakaian serba putih menuju ke masjid. Dalam keremangan, warga tidak mengenal siapa sosok itu. Sebelum peristiwa malam ini, biasanya Dahlan orang yang pertama masuk masjid guna mengumandangkan adzan.

“Dahlan itu aneh, kenapa ia sampai berani mencuri hanya gara-gara ingin menebus jenazah seorang pelacur?! Pakai alasan pelacur itu sudah taubat segala,” ucap seorang warga.

“Iya. Padahal ia seorang ustadz yang seharusnya memberi contoh yang baik. Kalau sudah digebuk seperti ini, nyawa juga yang hilang,” komentar yang lain.

Tetapi warga yang berada di dalam ruang masjid itu mendadak merinding. Mereka mengenal siapa yang baru saja masuk ke ruangan dan mengumandangkan adzan itu.

***

Sudah sebulan Pak Bram belum menampakkan batang hidungnya. Terakhir kali ia terlihat sebelum peristiwa pengroyokan pencuri di dalam masjid. Waktu itu, ia yang juga takmir masjid mengatakan akan melihat situasi terlebih dahulu. Ia hanya berpesan apabila tak kunjung datang, para warga sesegera mungkin menyusulnya di masjid. Setelah itu dia menghilang begitu saja.

Hingga kini warga tidak pernah menemukan di mana mayat Pak Bram andai tetua itu mati di tangan pencuri. Bahkan warga tidak mengenali siapa pencuri itu. Wajah pencuri remuk akibat serangan warga. Awalnya mereka mengira itu Dahlan. Tetapi nyatanya Dahlan masih ada di tengah-tengah mereka.

Sejak peristiwa malam itu, ribuan kalong hitam terlihat berputar-putar di atas sungai, tempat mayat pencuri itu dibuang.

Pati-Yogyakarta,

29 Maret 2012-09 Maret 2013