Cerpen: Koes yang Suka Menolong

Cerpen: Koes yang Suka Menolong

Cerpen: Koes yang Suka Menolong

Koesnandar nyaris saja menikah dengan Asih, cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya. Sayangnya, Koes urung mempunyai istri lantaran Asih keracunan empat jam menjelang prosesi akad nikah. Perempuan malang itu meneguk jamu yang dibikinkan budenya demi kelancaran malam pertama. Jamu tersebut sebenarnya jamu biasa saja. Namun, seperti halnya semua bude di dunia ini yang sudah menua dan mulai rabun senja, Sukaesih mengira ramuan yang ia tuang dalam kuali jamu adalah air sirih. Padahal racun tikus. Sukaesih yang penuh percaya diri memberi contoh cara meminum jamu pahit dan ditiru langsung oleh Asih. Seketika keduanya kojet-kojet di lantai dengan mulut berbusa. Begitulah cara kematian kekasih Koesnandar. Atas musibah itu, Koes mengalami guncangan yang luar biasa. Kini Koes hanya tidur dan terus tidur. Ia selalu berdoa menjelang tidur. Dalam doanya ia memohon sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan Asih di alam mimpi.

Suatu siang, Koes terbangun karena suara panik di sekitar rumahnya seperti gemuruh langit yang mengandung badai. Ia melompat dari dipan dan segera menyingkap gorden jendela. Ia melihat para tetangga lari kalang kabut: mengangkut ember, berteriak-teriak mencari selang, dan menangis meraung-raung. Dari kejauhan asap hitam mengepul. Rumah seorang tetangga ludes terbakar. Koes segera membantu memadamkan api. Di tengah barisan para tetangga menyiram berember-ember air ke tengah kobaran api, tiba-tiba Koes merasa berbakat dengan pekerjaan ini. Setelah kejadian itu, Koes mantap mendaftarkan diri menjadi petugas pemadam kebakaran.

***

Bertahun-tahun ia menjalani rutinitasnya sebagai petugas damkar dan jarang orang mendengarnya mengeluh. Satu-satunya beban hidupnya adalah merindukan Asih. Tiada yang bisa memberikan solusi atas kerinduannya pada Asih, kecuali petuah-petuah usang: “Dikirimi Al Fatihah, Koes…”; “Bacakan Yasin tiga kali…”; “Sambangi makamnya, Le”; “Coba buka hatimu, cari pendamping yang lain…” Maka, Koes berhenti mengeluh. Ia mengendapkan rasa kangennya sembari terus bekerja.

Tak perlu waktu lama—atau sebenarnya lama tapi karena Koes tak lagi punya ikatan dengan waktu, jadi terasa begitu cepat dan alamiah—ia pun diangkat menjadi Kepala Dinas Penanganan Bencana. Koes menerima jabatan puncaknya dengan takzim. Ia terlihat seperti semacam biksu yang menjabat sebagai pimpinan di departemen tersibuk di Kabupaten Tirtomolo. Para bawahannya segan pada Koes. Para awak media selalu mencari Koes yang selalu ada di lokasi kejadian bencana. Banyak rakyat kecil yang lebih akrab mendengar nama Koes daripada nama bupati mereka sendiri.

Bagaimana pun, Koes memang menjadi salah satu pejabat Pemkab yang paling aktif bekerja dan paling sering dikutip ucapannya di media. Anehnya, beberapa pejabat justru dengki melihat kinerja Koes. Padahal, segala hal yang dikerjakan Koes wajar-wajar saja, karena toh, Kabupaten Tirtomolo adalah salah satu kabupaten yang paling rutin ditimpa bencana alam di negeri ini. Sejak zaman penjajahan, bencana macam pageblug selalu terjadi. Meski sulit dibilang sebagai bencana alam, kematian massal misterius di suatu desa juga akan menyeret Koes untuk turun tangan sebelum Dinas Kesehatan menetapkan wilayah tersebut dengan status Kejadian Luar Biasa.

Bencana memang menjadi langganan Kabupaten Tirtomolo di segala musim, di sepanjang tahun. Saat kemarau, sawah dan ladang kering-kerontang. Saat penghujan, bencana banjir dan longsor menyambangi warga. Saat pancaroba, angin puting beliung menjadi selingan yang mematikan. Rasa-rasanya, Koes tak punya fase tenang dalam perjalanan kariernya. Ia selalu siaga dan waspada.

Suatu ketika, Koes dipanggil oleh Pak Bupati. Ia bertanya-tanya, apakah ada yang salah dari kerjanya selama ini? Apakah lembar evaluasi menunjukkan penurunan kualitas layanannya sebagai garda terdepan penolong korban bencana alam? Apakah ada pernyataannya yang fatal di media massa? Atau adakah hal yang sangat darurat semisal ramalan BMKG yang belum ia ketahui?

“Pak Koes, Anda tahu kita tengah ada masalah dengan warga Desa Ora-Ora?” tanya Pak Bupati.

“Soal… saluran limbah TPA Ora-Ora yang macet, Pak?” tanya Koes memastikan. Semua orang di Kabupaten Tirtomolo juga tahu kasus pencemaran limbah TPA Ora-Ora kini mencapai puncaknya. Warga berdemo menuntut ganti-rugi dan penutupan permanen tempat pembuangan sampah tersebut. Terlebih, saking parahnya, pencemaran itu membuat padi tak tumbuh, air berbau busuk dan banyak warga mengidap bisul-bisul dari ujung kepala hingga kaki.

Pak Bupati lalu membahas bagaimana strategi Pemkab untuk merespons masalah tersebut agar amukan warga mereda dan TPA Ora-Ora tetap buka. Ia menyebut-nyebut Kepala Dinas Lingkungan, Sugondo, tidak becus dalam menangani permasalahan tersebut. Koes diam saja, menyimak dengan takzim. Sebenarnya, ia bingung mengapa Pak Bupati memilih curhat kepadanya. Namun, disimpannya saja dalam batin rasa penasaran tersebut. Ia pulang setelah dua jam duduk di pendopo kepatihan yang menjadi bagian rumah dinas bupati.

Sepekan kemudian terdengar kabar Koes dilantik menjadi Kepala Dinas Lingkungan yang baru. Menggantikan Sugondo yang kini dimutasi menjadi Kepala Seksi Urusan Razia Satpol PP. Para pejabat yang lain memberikan ucapan selamat yang penuh basa-basi. Toh, tidak ada bedanya dipindah dari satu departemen ke departemen yang lain dan tetap menjadi pimpinan tertinggi. Tapi Koes tidak terima. Ia menolak dipindahtugaskan ke departemen yang sedang bermasalah itu.

Ia berusaha bicara empat mata dengan Pak Bupati. Tapi Koes bukanlah tipe pejabat yang pintar melobi. Susah payah ia menyusun argumen yang lemah untuk menjelaskan mengapa ia harus menolak jabatan tersebut.

“Pak Koes, diri Anda itu potensial. Anda harus tahu itu. Anda mendapat amanah baru yang lebih berat, artinya Anda naik level. Anda mengerti itu. Saya sepenuhnya percaya Dinas Lingkungan akan semakin maju di bawah kepemimpinan Anda.”

Koes pulang dengan gontai. Semalaman ia terus menangisi nasibnya yang buruk. Keesokan harinya ia tak masuk kerja. Pertama kali dalam hidupnya, ia membolos kerja. Para anak buahnya mencarinya. Tapi ia tak mau mengangkat telepon. Bahkan untuk sekadar mengarang alasan jatuh demam atau diare atau ambiennya kumat, ia enggan. Menjelang tengah malam Koes keluar rumah dengan menenteng gergaji mesin.

“Bapak mau apa tengah malam begini bawa-bawa gergaji?” hadang Prayitno, salah satu mantan bawahannya yang paling setia di Dinas Penanganan Bencana. Ternyata Prayitno sudah berjaga-jaga di pos satpam menunggu atasannya menampakkan batang hidung.

“Minggir! Bukan urusanmu, No.”

“Bapak mau saya temani?”

Koes berpikir sejenak. “Boleh, asal kamu berjanji membiarkanku membuat kerusuhan.”

Jantung Prayitno mencelos mendengar ancaman di balik jawaban tersebut. Mendadak Koes seperti orang yang berbeda dan tampak berbahaya. Prayitno mengangguk mantap. Ia merasa perlu melindungi atasannya dari sisi gelap yang ia sendiri tak pernah ketahui selama ini.

Kerusuhan yang Koes maksud adalah menebang pohon mati di sepanjang ruas-ruas jalan kabupaten yang lengang malam itu. Prayitno keheranan menonton Koes menggergaji pohon-pohon itu seperti orang kesurupan.

“Pak, ada apa sebenarnya?”

“Kamu diam saja! Yang perlu kamu catat cuma satu. Kita punya Perda yang melarang Dinas Lingkungan menebang pohon mati dan menggantinya dengan yang baru.”

“Tapi.. Pak, kalau ada Perda seperti itu berarti Bapak melanggar aturan, dong?”

“Ya. Tepat sekali! Kamu saksinya bahwa aku melanggar aturan di hari pertamaku menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan.”

“Tapi.. Pak, apa maksud Bapak dengan melanggar aturan…?”

“Kamu nggak pernah baca koran, ya?”

“Pernah, Pak… tapi, berita apa yang Bapak maksud?”

“Banyak warga mengeluh soal pohon-pohon mati yang bikin suasana gersang di pinggir jalan kota. Mereka ingin pohon-pohon ini segera diganti agar teduh kembali. Tapi Perda melarangnya! Perda hanya mengizinkan kita memangkas dahan-dahan pohon, bukan menebangnya bahkan meski pohon itu sudah tak berdaun. Perda mengharuskan kita berdoa menunggu angin kencang dan hujan menumbangkan mereka baru kita bisa menggantinya!”

“Tapi, Pak… maksud Bapak apa?”

“Dipecat, No! Aku ingin dipecat!”

Yang tidak diketahui Prayitno dan seorang pun pegawai Dinas Penanganan Bencana, di balik sifat ksatria Koesnandar, tersimpan rahasia yang menggetarkan. Semenjak ia menjadi kepala dinas tersibuk di kabupaten tersebut, tiap usai menunaikan tugas, Asih selalu mendatanginya dalam mimpi dan mereka berdua bercinta hingga benar-benar membuat sprei kasur pejabat itu basah.

Seusai mendatangi lokasi longsor di Kecamatan Tepar Jaya untuk menyalurkan bantuan sembako, Asih datang menjenguk Koes, menanyakan berapa jumlah korban yang perlu dievakuasi karena rumahnya tertimpa tebing yang keropos. Lalu mereka bercinta.

Seusai mendata kerusakan rumah karena tanah bergerak yang menyebabkan tembok-tembok retak dan membuatnya bersitegang dengan satu keluarga yang ketakutan dan ngotot mengungsi ke kandang kambing, Asih datang kembali, menyarankan sebaiknya Koes mengerahkan petugas dan warga untuk bergotong-royong membangun rumah baru di lahan baru untuk keluarga tersebut. Lalu mereka bercinta.

Seusai terjun ke Sungai Giliterban menyisir bocah SD yang tenggelam, seusai mengevakuasi seorang nenek yang ditemukan membusuk di dasar sumur, seusai mengamankan sarang tawon seukuran galon air mineral, seusai menyelamatkan seorang penderes nira yang takut turun dari pohon aren, bahkan seusai ia mampu menyelamatkan seekor kucing milik seorang janda yang naik ke atas rangka jembatan Giliterban, Asih selalu datang dengan senyum penuh kelembutan dalam mimpinya. Dan keesokan harinya Koes selalu terbangun dengan itikad untuk bekerja lebih giat lagi.

Tetapi kerusuhan kecil yang telah diperbuatnya tengah malam tersebut belum berhasil membuatnya dipecat, hingga Koes terpaksa menyewa sekelompok preman dan bersama-sama mendatangi alun-alun kota untuk menebang pohon beringin keramat. Saat itulah Pak Bupati menyerah dan menyuruh Koes pulang ke habitatnya, kembali mengurusi segala perkara bencana dan perkara aneh lainnya di Kabupaten Tirtomolo.

***

Bertahun-tahun kemudian, ada satu perkara kecil yang membuat Koes menghilang dari muka bumi. Saat itu bencana angin puting beliung sedang marak terjadi di berbagai daerah. Seorang warga mendatangi Koes dan menyampaikan keresahannya atas sepotong awan di langit yang berbentuk aneh yang tepat berarak di atas ladangnya. Ia takut awan itu bukan awan yang lumrah. Bentuknya pipih dengan warna biru berpendar-pendar di beberapa titik gumpalan tersebut.

“Apa mungkin awan itu menyimpan tanda-tanda pageblug, Pak? Saya merasakan firasat buruk. Tolong Pak, kalau bisa awan itu diamankan.”

Koes segera mengambil perlengkapan kameranya dan bergegas memotret awan tersebut. Kebetulan saat itu ada wartawan yang ngepos di kantornya. Ia ajak ikut serta. Tak lama kemudian, jadilah sebuah berita: Awan Berbentuk Ufo Gemparkan Warga.

Berita tersebut viral di media sosial dan entah bagaimana takdir mengembuskan berita tersebut hingga ke Amerika. Di suatu pagi yang cerah, seolah tiada lagi bencana yang mampu menghadirkan kesusahan di hati warga, Koes mendapat telepon dari Pak Gubernur. Lalu dari Pak Presiden. Lalu dari orang-orang penting lainnya yang terdengar sangat asing. Mereka semua meminta Koes berangkat ke Amerika, menjadi bagian dari Tim Pencegahan Teror Antariksa, untuk mendeteksi gejala alam yang berhubungan dengan bencana yang tak biasa. Koes tak punya pilihan lain. Ia harus melepaskan rutinitasnya dan pindah ke NASA, lembaga antariksa Amerika. Diam-diam ia berharap Asih akan merestuinya dan mereka berdua bisa bercinta di bulan.

Di benua baru tersebut, Koes seperti terdampar, terasing dengan segala bahasa yang tak cukup ia mengerti. Namun, Asih terasa semakin nyata. Tidak lagi datang di alam mimpi, melainkan hadir terus-menerus sepanjang Koes sendirian. Ketika duduk di taman kota, di kompartemen kereta cepat hingga di kamar mandi, Asih ikut menemani Koes. Meski demikian ia tak tersentuh. Belakangan wajah Asih selalu murung. Tak pernah lagi memasang senyum. Koes kadang merasa alam mimpi lebih nyata dan lebih indah daripada jika Asih terus hadir seperti hantu. Hanya kesedihan perempuan itu yang terasa kuat.

Koes semakin kebingungan atas sikap Asih. Sementara itu, ia juga sulit memahami tugas resminya di kantor yang baru. Benar, ia selalu didampingi penerjemah saat kerja, tapi bukan berarti pekerjaannya semakin mudah. Ia hanya disuruh menganalisis lusinan gambar awan, petir, angin tornado dan kejadian alam lainnya untuk menemukan sesuatu yang janggal, yang bukan buatan alam, melainkan penampakan terselubung makhluk luar angkasa. Ia tidak tahu darimana datangnya keahlian itu. Ia bisa mengetahui dan menjelaskan asal muasal benda-benda alam.

“Asih, kamu tidak suka ya aku kerja di sini?” bisik Koes suatu malam di atas ranjang. Ia melihat sosok Asih berdiri di ambang jendela. Menatap gedung-gedung pencakar langit.

“Kamu tak lagi menolong,” ucap Asih tanpa menoleh.

“Aku berharap pekerjaan baruku bisa menolong umat manusia sedunia. Keahlianku sekarang seperti mukjizat. Aku juga tidak tahu dari mana datangnya bakat membaca tanda-tanda alam yang janggal.”

“Kamu bukan nabi, Koes kasihku. Kamu tak perlu punya keinginan muluk seperti itu.”

Koes tercenung. Asih pamit pergi. Besoknya, perempuan itu kembali muncul dengan raut wajah sedih. Semakin hari Koes semakin tersiksa mendapati kekasihnya membisu, tidak memberinya semangat seperti hari-harinya yang dulu. Baru kali ini merasa kehilangan dukungan Asih ketika ia mulai bisa menciptakan harapan sendiri atas sesuatu yang ia kerjakan. Sementara itu, penerjemah dari kedutaan besar negerinya yang selalu mendampingi selama ia bekerja, lambat-laun menyimpan perasaan terhadap Koes. Koes merasakan getaran perasaan tersebut saat sang penerjemah menciumnya seusai ia menyelesaikan laporan atas pengamatan aurora.

Suatu malam, sepulang kerja, Koes mendapati kamarnya berantakan. Daun jendela terbuka lebar, tirai putih berkibar-kibar. Seseorang berdiri di balik tirai tersebut. Koes menghampirinya dengan perlahan.

“Halo, Pak Koes. Bukan tugas Anda untuk merusak kejutan. Tanpa kejutan masa depan manusia akan hambar. Bahkan kiamat pun tetap menjadi kejutan yang menegangkan selama Anda tak membocorkannya ke siapa pun.”

Seusai menyapa dan berucap demikian, sosok di balik tirau tersebut menodongkan benda tumpul yang bercahaya ke perut Pak Koes. Belum sempat Koesnandar mencerna perkataan orang asing tersebut, pandangan lelaki kesepian itu menggelap.

***

Koes menghilang dengan misterius setelah tiga bulan kepindahannya ke Amerika. Tiada yang tahu penyebab lenyapnya Koes, bahkan sekelas badan intelijen internasional pun gagal memecahkan misteri ini. Warga sekabupaten Tirtomolo berkabung selama tiga hari. Kini, di depan kantor Dinas Penanganan Bencana berdiri monumen bertuliskan: Di sini Pernah Hidup dengan Penuh Dedikasi untuk Umat Manusia, Koes yang Suka Menolong.