Berdiri di Samping Netanyahu, Donald Trump Bakal Ambil Alih Gaza

Berdiri di Samping Netanyahu, Donald Trump Bakal Ambil Alih Gaza

Berdiri di Samping Netanyahu, Donald Trump Bakal Ambil Alih Gaza
Trump dan Netanyahu di Amerika Serikat bahas jalur Gaza dan posisi Israel. picty by Anadolu Agency

AMERIKA, ISLAMI.CO – Usai bertemu Presiden Israel Benyamin Netanyahu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia bakal ambil alih  mengambil alih Jalur Gaza, Palestina.

Menurutnya, Amerika akan melakukan sesuatu di sana dan warga dunia akan melihatnya.

“AS akan mengambil alih Jalur Gaza dan kami akan melakukan sesuatu di sana,” kata Trump dalam konferensi pers bersama pemimpin Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa waktu setempat.

Trump lanas mengatakan AS akan menguasai Gaza dan “melucuti semua bom aktif berbahaya dan senjata-senjata lainnya.

Selain itu, Trump bakal meratakan wilayah itu serta melakukan pembersihan, terutama gedung-gedung dan fasilitas yang hancur karena genodisa.

Ia juga mengatakan, banyak warga sekarang yang tidak mau balik lagi ke Gaza karena kota itu hancur lebur.

Maka dari itu, lanjut Trump, Amerika juga akan membangun gedung, perumahan dan pekerjaan di jalur Gaza.

Baca juga: 50 Tahun Lebih Palestina Dijajah, Posisi Strategis Indonesia-Timur Tengah Bisa Tekan Israel

Trump juga mengatakan, saat perang, warga Gaza merasakan seperti neraka dan untuk itu dulu ia sempat mengusulkan untuk pemindahan warga ke negara-negara lain alias relokasi warga Palestina dari negerinya, Gaza.

Ia juga berpikir Yordania dan Mesir, dua negeri terdekat dari Gaza akan menerima relokasi warga Palestina dari Gaza. Padahal, sebelumnya dua negeri itu sudah resmi menolak itu.

Bos negeri Israel itu, Netanyahu itu sendiri merupakan pemimpin negara pertama di dunia yang menyambangi Donald Trump usai resmi dilantik sebagai presiden Amerika Serikat.

Adapun, pendudukan Palestina oleh Israel sendiri sudah berlangsung selama 50 tahun dan membuat kawasan tersebut tak henti-henti diranda konflik. Diperkirakan ada 800.000 warga Israel telah menduduki wilayah kota suci tersebut, 100.000 hektar tanah warga dirampas dan ribuan bangunan diambil alih.

Itu belum pembatasan gerak warga Palestina oleh Israel, khususnya setelah dibangun tembok-tembok pemisah yang kian menyengsarakan rakyat. Belum lagi, Genosida Israel sejak tahun lalu yang menewaskan ratusan ribu warga. Gerakan #AllEyesOnRafah pun mengemuka dan dunia mengutuk agresi itu.

Kini,  gencatan senjata terjadi. Gencatan senjata untuk menghentikan agresi Israel di Jalur Gaza diumumkan Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani di Doha pada Rabu (15/1).

Ia mengatakan kesepakatan gencatan senjata yang diharapkan mengakhiri agresi dan genosida Israel yang meluluhlantakkan Gaza tersebut terdiri dari tiga tahap yang mulai berlaku pada Minggu (19/1) kemarin.

Kesepakatan gencatan senjata tersebut mencakup pembebasan sandera dan pertukaran tahanan, penghentian pertempuran, jaminan keamanan bagi Israel, dan bantuan kemanusiaan yang melimpah masuk ke Gaza. Kesepakatan gencatan senjata yang dirundingkan melalui mediasi Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat tersebut juga disebut mencakup rencana dialog terkait pemerintahan Jalur Gaza pada masa mendatang berikut pembangunan kembali wilayah Palestina tersebut