Awalnya Melarang Ucapan Natal, Lalu Tidak Sadar Kita Memaklumkan Segala Intoleransi

Awalnya Melarang Ucapan Natal, Lalu Tidak Sadar Kita Memaklumkan Segala Intoleransi

Kita tidak sadar melakukam pemakluman, mulai dari ucapan natal hingga nanti kaget, kok intoleransi kian meningkat?

 

Pada awalnya mengucapkan selamat natal adalah hal sepele. Mungkin sama seperti ucapan selamat pagi atau selamat makan. Tidak ada makna yang mendalam. Semacam laku keseharian.

Namun belakangan ketika muncul larangan, ucapan natal menjadi terasa serius. Bahkan dikesankan seolah-olah itu adalah perkara iman. Mereka yang mengucapkannya seakan-akan membenarkan iman kekristenan.

Read More

Sejak itulah prasangka bermula. Dilatarbelakangi oleh perasaan terancam, ketidakpercayaan, dan fanatisme, ucapan natal berubah menjadi sangat politis. Ia menjadi pembeda antara kami dan mereka.

Prasangka tidak akan tinggal diam. Disulut oleh ketimpangan sosial ekonomi, ia menjadi api yang siap membakar rerumputan yang kering kerontang. Para politisi busuk tinggal mencari atau menunggu momen untuk melalukan pembakaran.

Sejak larangan ucapan natal mengemuka, masalah segregasi pemakaman seperti terjadi di Jogja kemarin tinggal menunggu waktu saja. Bom waktu telah meledak satu per satu. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tetapi cukup pasti jika tidak ada antisipasi oleh semua pihak, disintegrasi sosial akan melumat kita dalam waktu yang tidak perlu lama.

Tentu saja, seperti biasa, mereka yang telah terkena virus intoleransi akan menganggap ucapan natal adalah isu yang dibesar-besarkan. Mereka akan bilang ini hanya ketakutan kaum pluralis fundies yang tidak paham situasi kultural. Jumlah mereka cukup banyak dan kelihatannya terpelajar.

Oleh karena itu tidak heran kalau Jogja masih dianggap daerah istimewa di mana universitas dan kraton berdiri megah, meski kaum minoritas diminta untuk mengalah.