Awal Mula Politik Identitas dalam Sejarah Islam

Awal Mula Politik Identitas dalam Sejarah Islam

Muawwiyah menyadari pasukannya akan kalah. Pasukannya segera mengambil al-Qur’an dan menaruhnya diujung tombak. Mereka meminta penangguhan hukum (tahkim) dan menyelesaikan pertikaian politik berdasarkan al-Qur’an.

Sahabat Ali RA menyadari bahwa ini hanyalah siasat licik Muawiyyah. Ia tahu rekam jejak anak seorang panglima perang ini. Muawiyyah adalah putra Abu Sufyan, panglima perang dan ahli strategi militer. Sun Tzu-nya Arab ini berasal dari klan Quraisy yang ditugasi khusus mengurusi urusan perang.

Ketika perang Uhud di mana umat Islam mengalami kekalahan telak, Abu Sufyan adalah panglima perang di pihak musuh (kafir Quraisy). Di awal peperangan pasukannya sengaja mengalah untuk memancing pasukan panah umat Islam agar turun meninggalkan Bukit Rummat. (Bukit Rummat adalah salah satu bukit kecil di kawasan Uhud. Sekarang berada tepat di depan pekuburan Syuhada Uhud. Di bukit berwarna merah ini Nabi Muhammad SAW menempatkan sekitar 50an pasukan pemanah sebagai pertahanan utama dari serbuan musuh. Sebelum perang dimulai, Nabi Muhammad SAW berkali-kali mewanti-wanti regu pemanahnya agar tidak meninggalkan bukit ini. “Apapun yang terjadi jangan sekali-kali pergi meninggalkan tempat ini,” ujar Nabi SAW)

Read More

Begitu melihat Abu Sufyan dan pasukannya mundur dan meninggalkan banyak sekali perbekalan perang, pasukan panah Nabi segera menyusul turun berebut ghanimah (harta rampasan perang). Taktik dan siasat licik Abu Sufyan berhasil. Ia membawa pasukan berkudanya (kaveleri) mengelilingi Bukit Rummat untuk memukul pasukan Islam dari belakang. Tentara umat Islam kocar-kacir. Syuhada islam banyak bergelimpangan.

Salah satu paman nabi yang paling disegani dan sangat disayangi, Sahabat Hamzah, tewas tertusuk tombak Wahsyi. Nabi Muhammad SAW beserta sisa pasukannya berlari berlindung ke atas Gunung Uhud dan menghujani pasukan musuh dengan batu.

Dalam perang yang menewaskan banyak sahabat terbaik Nabi ini, Nabi Muhammad SAW sempat pingsan dan hampir saja— di tengah-tengah kecamuk perang sempat diisukan—meninggal. Beberapa gigi beliau rontok. Salah satu sahabat yang melindungi beliau, Abu Dujana, punggungnya seperti binatang Landak karena dipenuhi tusukan busur panah.

Dalam perang Shiffin, Ali RA menyadari betul tipu daya Muawiyyah. Sehingga, ketika Muawiyyah mengajak berdamai dengan mengacungkan al-Qur’an sekalipun, Ali RA tetap menolak. Namun, karena mayoritas pasukan Ali adalah Qurra (penghapal al-Quran) sehingga mendesak Ali menerima ajakan damai Muawiyyah. Dari sinilah episode sejarah kelam umat Islam dimulai.

Di saat mengalami kekalahan diplomasi perang (tahkim) dengan Muawiyyah, sebagian pasukan Ali menyempal dan membentuk blok sendiri yang kemudian dikelan dengan kelompok Khawarij. Padahal merekalah yang selama ini mendesak Ali menerima perundingan damai dengan Muawiyyah dan malah berbalik memusuhi Ali. Merekalah yang pertama kali mengusung jargon “La Hukma Illa Allah” (Tidak ada hukum [kedaulatan] selain hukum Allah)

inilah sejarah politik identitas Islam dimulai. Mereka menjadikan simbol-simbol keislaman dan seolah-olah sedang memperjuangkan islam, padahal untuk (tujuan) kekuasaan. Kita bisa belajar dari sejarah, jangan mudah tertipu jargon-jargon murahan. Sahabat Ali RA sendiri menanggapi jargon-jargon Khawarij dengan sebuah pernyataan tegas dan lugas: “Kalimatu haqqin urida bihi al-Bathil” (Jargonnya benar tapi untuk tujuan kebathilan). Apakah Anda masih meragukan ucapan seseorang yang rela tidur di tempat tidur Nabi ketika Nabi sedang dicari dan dikejar-kejar musuhnya untuk dibunuh?