Kiai Mukhtar Syafa’at dan Teladan Hidup Sederhana ala Ulama Kharismatik dari Banyuwangi

Kiai Mukhtar Syafa’at dan Teladan Hidup Sederhana ala Ulama Kharismatik dari Banyuwangi

Kiai Syafa’at tak pernah membeda-bedakan tamu yang datang. Siapapun dia, baik dari kalangan pejabat atau bukan, selalu dihormati dengan baik. Subhanallah.

Kiai Mukhtar Syafa’at dan Teladan Hidup Sederhana ala Ulama Kharismatik dari Banyuwangi

Dahulu, di Banyuwangi, hidup sosok ulama kharismatik bernama KH. Mukhtar Syafa’at. Ia adalah pendiri Pondok Pesantren Darussalam, yang beralamatkan di dusun Blokagung, desa Karangdoro, kecamatan Tegalsari, kabupaten Banyuwangi. Sebagaimana kiai yang memiliki kekhususan dalam keilmuan, Kiai Syafa’at pun demikian. Namanya selalu identik dengan dunia tasawuf, khusunya dengan Ihya’ Ulumiddin, sebuah karya fonumental Imam al-Ghazali.

Di pesantren yang didirikannya itu, dari dulu hingga kini, kitab Ihya’ Ulumiddin masih dikaji dan dipelajari setiap hari. Semasa hidupnya, Kiai Syafa’at sendiri yang mengajar santrinya. Sekarang teladan itu dilanjutan oleh putra-putranya.

Pergumulan Kiai Syafa’at dengan Ihya’ Ulumiddin tidak hanya sebatas pembacaan dan pengajaran, namun juga pengamalan. Lewat banyak hal yang dilakukannya, para santri (dan setiap orang yang melihatnya) akan mengetahui bahwa seperti itulah pengamalan terhadap Ihya’-nya Imam al-Ghazali.

Salah satu contohnya adalah yang dikesankan oleh salah satu putranya, KH. Ahmad Qusyairi (alm.). Dalam sebuah acara pesantren Blokagung (dapat dilihat di sini), Kiai Mad, begitu biasanya ia dipanggil, menyebutkan beberapa hal yang menjadi “kegiatan” utama Kiai Syafa’at setiap hari, semasa hidupnya. Salah satunya adalah menemui tamu.

Suatu ketika, masih menurut penuturan Kiai Mad, pengurus pesantren membuat peraturan yang membatasi waktu berkunjung tamu ke ndalem Kiai Syafa’at. Hal ini dilandasi oleh pemikiran para pengurus pesantren yang merasa iba terhadap Sang Kiai, mengingat begitu padatnya aktifitasnya, sehingga akan lebih padat lagi jika Kiai harus menerima dan menemui tamu setiap waktu. Peraturan itu ditulis di depan rumah Kiai Syafa’at.

Namun peraturan itu dengan sengaja “dilanggar” oleh Kiai Syafa’at (meski tulisan itu juga dibiarkan begitu saja dengan dalih menghormati keputusan pengurus). Satu waktu, di saat sudah bukan jam bertamu versi pengurus, Kiai masih melihat orang yang akan bertamu. Akhirnya, Kiai Syafa’at meminta agar tamu tersebut masuk rumah lewat pintu samping supaya tidak ketahuan oleh pengurus dan abdi ndalem Kiai. Bahkan tak jarang ada tamu yang datang pada saat larut malam, dan itupun tetap diterima Kiai dengan sangat terbuka.

Dalam buku Mbah Kiai Syafa’at Bapak Patriot dan Imam Ghazalinya Tanah Jawa karya Muhammad Fauzinuddin Faiz, disebutkan Kiai Syafa’at tak pernah membeda-bedakan tamu yang datang. Siapa dia, baik dari kalangan pejabat atau bukan, selalu dihormati dengan baik. Hal ini terbukti bahwa  setiap tamu yang datang selalu dipersilahkan untuk menikmati makanan terlebih dahulu sebelum melanjutkan obrolan.

Di lain pihak, sebagai seorang kiai kharismatik, sudah sangat wajar jika banyak orang yang memberikan bantuan kepada kiai, baik harta maupun yang lainnya. Namun, harta yang ia miliki itu tak sedikitpun yang masuk ke dalam hati Kiai Syafa’at.

Terbukti, sangking dermawannya Kiai  Syafa’at, tak jarang uang bisyaroh dari panitia pengajian di mana beliau menjadi penceramahnya, ia berikan kepada orang lain yang dianggapnya sangat membutuhkan. Bahkan, dalam laman resmi pesantren Blokagung (blokagung.net), disebutkan, dalam hal sedekah itu, Kiai Syafa’at tak pernah menghitung nominalnya. Subhanallah.

Teladan di atas adalah beberapa hal yang saat ini agaknya perlu dicontoh dan diikuti oleh setiap orang zaman now, yakni selalu menghormati, mengutamakan, dan membantu siapa saja, bukan justru menari dan mencari keuntungan di atas penderitaan dan kesengsaraan orang lain.

Hari ini (17 Rajab), telah 30 tahun yang lalu Kiai Syafa’at meninggalkan keluarga, santri, para muhibbin, dan kita semua untuk selamanya. Kini, jasadnya memang telah tiada, namun jasa-jasanya akan senantiasa dikenang; nasihatnya akan tetap diingat; dan sosoknya akan terus menjadi teladan bagi siapa saja. Semoga kita bisa mencontohnya. Amin. Untuk Kiai Syafa’at, lahul al-Fatihah…