Visual dan Senarai Perang dalam Konten Islam di YouTube

Visual dan Senarai Perang dalam Konten Islam di YouTube

Visual dan Senarai Perang dalam Konten Islam di YouTube

Hampir di seluruh kesempatan saya minum kopi di kafe kisaran Banjarmasin, YouTube selalu dibuka oleh pengelola warung kopi untuk menemani segelas kopi seduhan mereka. Lantunan berbagai genre musik seakan menjadi menu wajib, terutama kafe yang tersedia jaringan wifi gratis di dalamnya.

Saya pernah berseloroh pada seorang teman, “YouTube menyimpan banyak sekali video musik, mengapa genre ini yang dia putar?”. Sambil guyon dia menjawab bahwa kami masih beruntung karena bukan video dakwah yang dia putar. Sembari tertawa bersama karena mendengar jawaban itu, saya kemudian melakukan pencarian asal-asalan dengan mengetik agama di kolom pencarian.

Dengan sedikit terkejut, saya malah mendapati beberapa konten yang cukup menarik untuk diperbincangkan. Bukan saja dari segi narasi, tapi visualisasi perang yang ada di konten tersebut juga turut menarik perhatian saya. Bagaimana tidak, bermodal perpaduan visualisasi lewat kartun, seperti video game atau rekaman adegan yang dicomot dari beberapa film yang saya tidak ketahui judulnya, sudah membuat video ceramah menjadi sangat menarik untuk ditonton umat Islam.

Namun setelah mendalami beberapa konten ceramah di YouTube yang berkisar tentang cerita akhir zaman, saya malah mendapati bahwa penggunaan kartun video game hanya digunakan oleh influencer dibanding akun sang Ustad. Para influencer mengkreasi ulang dengan menambahkan visualisasi dari apa yang disampaikan oleh sang Ustad.

Influencer atau selebriti internet adalah selebritas yang telah memperoleh atau mengembangkan ketenaran dan ketenarannya melalui Internet (sumber: wikipedia.com). Kebanyakan influencer memang terkait soal ekonomi digital, namun  yang perlu kita pahami terlebih dahulu adalah munculnya media sosial telah membantu orang meningkatkan jangkauan mereka ke khalayak global. Poin ini yang menjadikan pesan dakwah dari sang ustad yang diunggah ulang bisa menjangkau pemirsa yang lebih banyak dan lebih luas.

Selebriti internet, atau influencer, dapat dipecah menjadi lima ukuran yang berbeda: Nano, Mikro, Makro, Mega, dan Selebriti. Influencer nano umumnya memiliki kurang dari 5.000 pengikut di Instagram. Mikro influencer memiliki antara 5.000 dan 100.000 pengikut di Instagram. Influencer Makro memiliki antara 100.000 dan 500.000 pengikut. Influencer mega memiliki antara 500.000 hingga 5.000.000 pengikut. Dan akhirnya, Selebriti didefinisikan memiliki lebih dari 5.000.000 pengikut.

Kembali ke kartun perang yang diambil para influencer, di mana mereka menambah efek visual dalam video tersebut kebanyakan dari video game yang cukup akrab di kalangan anak muda. Fakta ini tentu menimbulkan tanya di benak kita semua, mengapa dan apa dampaknya pada visualisasi ceramah yang dilakukan para influencer tersebut?

Kartun Perang di Youtube: Simbol dan Narasi Kekerasan Budaya

Kartun bukan lagi barang yang aneh atau baru bagi masyarakat muslim, terutama mereka yang akrab dengan televisi dan telepon pintar. Negosiasi terhadap polemik kartun dalam ajaran Islam bisa dibilang mereda atau menghilang. Kita bisa lacak saja di kalangan paling tekstualis, seperti Wahabi, masih bisa ditemukan fatwa dari ulama mereka yang mentolerir penggunaan kartun sebagai medium populer dalam diskursus keilmuan islam. Mungkin juga polemik tersebut menjadi sedikit terendap karena laju kemajuan zaman, yang menuntut umat Islam berjumpa dan akhirnya mentolerir kartun-kartun baik di koran, komik atau televisi.

Dua platform media sosial berfondasi pada teknologi visual, yaitu Youtube dan Instagram, menghadirkan dimensi baru dalam dinamika keilmuan Islam. Berbagai ilmu, ajaran hingga kisah Islam turut hadir di media sosial yang akrab di kalangan gen-Z dan milenial tersebut. Kita bisa lihat betapa banyak konten di dua platform tersebut yang menggunakan kartun sebagai medium penyajian keilmuan Islam.

Wajar jika kemudian banyak dari influencer, yang rata-rata berumur muda, turut mengubah apa yang disampaikan penceramah lewat kecanggihan visual. Kondisi ini kemudian berdampak pada narasi yang disampaikan memiliki suara yang lebih besar dan daya jangkau yang lebih jauh.

Kelidan antara narasi agama dan visualisasi kartun tersebutlah yang mampu membuat pemirsa (baca: masyarakat) lebih mudah digiring imaji mereka atau indoktrinasi secara tak sadar. Dari kondisi tersebut rentan terbentuk apa yang disebut oleh Johan Galtung sebagai kekerasan budaya.

Lewat teori kekerasan budaya Galtung, kita bisa melihat konstruksi pengertian bagaimana produk-produk kebudayaan, seperti video atau film, bisa digunakan sebagai instrumen propaganda untuk mendeskreditkan kelompok tertentu dalam masyarakat dengan cara menstigma mereka sebagai musuh sebuah kelompok.

Wijaya Herlambang menuliskan ada dua cara kerja kekerasan budaya. (1) Dengan mengubah warna moral sebuah tindakan, misalnya membunuh karena alasan membela negara bisa diterima ketimbang yang dilakukan secara individual. (2) Mengaburkan sebuah kenyataan lewat bahasa, seni, pengetahuan dan simbol-simbol lain, hingga kita tidak lagi melihat kekerasan sebagai tindakan yang keji atau malah menjadi perilaku yang masih bisa diterima.

Peran Simbol sebagai bagian produk kebudayaan di dalam masyarakat menjadi sangat penting, dalam mengimplementasikan proses kekerasan budaya tersebut. Berbagai simbol, seperti bintang, salib, bulan sabit, bendera, perang, pidato yang berapi-api termasuk bahasa dan seni, merupakan simbol yang ampuh untuk masuk dalam pikiran juga bisa mengubah dan memelihara nilai-nilai moral.

“Kekuatan simbolik adalah kekuatan dalam mengkonstruksi kenyataan, dan sebuah kekuatan yang cenderung membentuk sebuah urutan gnoseologi (gnoseological order): makna dunia ini yang diartikan secara segera” tulis Pierre Bourdieu. Kekuatan simbol memiliki peran penting dalam menciptakan, memelihara, dan mengubah nilai-nilai moral dalam masyarakat.

Tidak sedikit video ceramah yang menggunakan kartun perang, yang rata-rata diambil dari video game, namun rata-rata konten tersebut diunggah dari potongan video ceramah yang disampaikan sang Ustad. Isu seperti “Kebangkitan Gaza”, “Tertindasnya Umat Islam”, hingga “Imam Mahdi” menjadi lebih menarik dan memperkuat narasi “ekstrimisme”, karena tidak lagi sekedar kata-kata atau suara sang ustad saja yang memiliki kekuatan narasi, tapi visualisasi perang juga turut menimpali ide kekerasan.

Tiga isu yang cukup populer dikemas dari cerita akhir zaman atau peristiwa geo-politik dunia, seperti Corona atau kekerasan terhadap kelompok muslim di tempat lain, seringkali menggunakan simbol-simbol kekerasan perang dengan sedikit bumbu proganda, lewat diksi berdarah-darah karena perang sebagai representasi umat Islam yang begitu terdesak dan tertekan di era sekarang. Tembak-menembak, darah hingga keadaan kota yang sedang terbakar menjadi simbol yang memperkuat narasi yang diambil dari potongan ceramah terkait dengan tiga isu besar di atas. Upaya ini jelas memperkuat narasi ekstrimisme terhadap kelompok yang berbeda terhadap kelompok lain, terutama agama, yang akhirnya menjadi nilai moral yang wajar di kalangan muslim.

Konten video tersebut menggiring imaji hingga nilai moral di kalangan muslim untuk siap berperang, atau dalam kadar tertentu menerima kekerasan terhadap kelompok lain sebagai sesuatu yang wajar atau bisa diterima. Kondisi ini memang sering tidak terlacak oleh kita sebagai sesuatu yang bisa menanamkan kekerasan di kepala atau logika masyarakat muslim, tentu hal ini sangat berbahaya jika terus dibiarkan karena bisa memiliki efek domino yang panjang. Selain kekerasan kepada orang atau kelompok lain bisa dimaklumi, malah bisa menjerumuskan orang pada tindak terorisme.