Ustadz Rahmat Baequni, Iluminati di Dekatmu dan Tanda Penting Kiamat Sudah Dekat

Ustadz Rahmat Baequni, Iluminati di Dekatmu dan Tanda Penting Kiamat Sudah Dekat

Ustadz Ahmad Baequni tidak salah, kita yang memang tidak tahu ada kiamat di sekitar kita. Eh kok bisa, bagaimana?

Dari Iluminati sampai Ustadz Rahmat Baequni hingga isu kiamat memang sudah dekat. Sejak zaman Kanjeng Nabi pun, Rasul telah mensinyalir hal itu. Bahkan kalau kata Gus Mus, kiamat tidak lagi dekat, tapi sudah lewat.

Baru-baru ini Ustaz Rahmat Baequni kembali menggugat arsitektur Masjid bikinan Ridwan Kamil sebagai menyerupai simbol iluminati. Panjang lebar ia kemukakan penjelasan dalam diskusi bertajuk “Bersama Membangun Umat” di Bale Asri Pusdai Jabar yang kalau tidak keliru dihelat oleh MUI setempat.

Sekurang-kurangnya satu jam empat puluh dua menit lebih satu detik saya mantengin video di Youtube yang diunggah Humas Jabar itu. Demi apa? Tentu saja demi meneguhkan kualitas keimanan dan ketakwaan agar terhindar dari “fitnah dajjal” seperti dikhawatirkan oleh Ustaz Rahmat.

Read More

Ya, sebagai pakar teori konspirasi yang lebih konspiratif daripada konspirasi itu sendiri, saya percaya kalau Ustaz Rahmat cukup otoritatif dalam mejelaskan bahaya laten Zionis dan antek-antek Yahudi. Apalagi argumentasinya nir-ilmiah disponsori bejibun dalil. Saya pun semakin girang bukan main.

Tapi belakangan, setelah mendengar pemaparan Pak Ridwan Kamil (Kang Emil), kadar “keimanan” saya rasa-rasanya terjun payung.

Penjelasan Kang Emil berkenaan “karena seniman Islam itu menghindari gambar makhluk hidup, sehingga yang memugkinkan adalah dengan menggunakan rancang bangun atau hitung-hitungan matematis, geometris”, atau “kita yang bagaimanapun tidak bisa menghindari segitiga, trapesium, jajar genjang, kotak, dlsb.”, kiranya terlampau benderang untuk sekadar dipahami umat Islam, sekalipun awam dalam soal arsitektur.

Lagi pula, masak Kang Emil yang jelas-jelas mengerti betul ilmu arsitektur mau dimentahkan begitu saja oleh tuduhan ngehek. Sudah begitu, atasnama Islam dan Kanjeng Nabi pula. Hei, memangnya situ siapanya Kanjeng Nabi? Ponakan?!!

Seketika itu, saya jadi teringat asbabun nuzul surat al-Lahab.

Begini ceritanya. Sebelum Kanjeng Nabi diutus, seantero bangsa Arab telah lebih dulu mengenalnya sebagai al-amin, alias “yang dapat dipercaya”.

Maka, ketika Malaikat Jibril menurunkan wahyu agar Nabi mulai berdakwah, hal pertama yang Nabi Muhammad singgung adalah soal rekam jejak.

“Seandainya saya menyampaikan kalau di balik bukit ini ada pasukan berkuda yang akan menyerang kota Makkah, apakah Anda sekalian percaya?”, begitu kira-kira kata Nabi di atas bukit Shafa.

“Tentu saja kami percaya, sebab engkau tak pernah berbohong. Dan lagi, engkau adalah orang yang jujur” tukas para hadirin, termasuk di dalamnya para kepala suku.

Baru setelah itu, Kanjeng Nabi pun menyerukan risalahnya.

Sial, Paman Nabi yang dikenal dengan nama Abu Lahab menolak dan bahkan menuduh Nabi dengan yang tidak-tidak. Padahal, kurang jelas apalagi coba kualitas kejujuran Nabi Muhammad?

Di tambah, fakta kejujuran Nabi Muhammad bukan cuma sehari-dua hari. Ia bahkan sudah merupakan khabar mutawatir.

Malahan, sedemikian tinggi integritas kejujuranya, Kanjeng Nabi sebelum diutus, tepatnya ketika usia 25 tahun dipercaya sebagai win-win solution mengatasi kemelut orang-orang Quraisy pada saat itu.

Di titik ini, saya tidak bermaksud menyejajarkan Kanjeng Nabi dengan Pak Ridwan Kamil. Tapi ada benarnya ketika Kang Emil bilang kalau menjadi pemimpin memanglah tidak mudah. Lebih-lebih hari ini. Semua ditafsir. Diam ditafsir. Bergerak ditafsir.

Lebih jauh, ada semacam frekuensi yang serupa antara amarah yang terpendam dalam diri Abu Lahab dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Ustaz Rahmat. Frekuensi itu bernama kebodohan.

Plus, kalau kebodohan yang bersenyawa dengan semangat beragama. Bung Karno menyebutnya sebagai: Islam Sontoloyo. Sayyidina Ali—karamallahu wajhah— saja, kabarnya sempat dibikin repot oleh orang-orang semacam itu.

Dan, jangan salah bilamana kebodohan juga merupakan tanda-tanda kiamat yang teramat nyata. Sebab, salah-salah yang sedianya halal justru diharamkan, demikian sebaliknya.

Tidak mudah memang berbicara dengan orang-orang yang cara berpikirnya serba konspiratif. Dengan begitu, persetan Anda mau paham atau tidak paham. Atau, kalau dalam preambule Kang Emil “kami tidak berharap setelah dijelaskan, Anda akan mempercayai atau tidak mempercayai, itu silahkan. Tapi ini adalah kesempatan untuk menjelaskan.”