Ustadz Haedar Nashir, Larangan Takbir dan Khawarij di Sekitar Kita

Ustadz Haedar Nashir, Larangan Takbir dan Khawarij di Sekitar Kita

Salah kaprah kata Takbir dan menjadikannya kata yang ditakuti.

Baru-baru ini, Ustadz Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah mengeluarkan kebijakan melarang teriakan takbir di rapat-rapat internal Muhammadiyah. Pernyataan yang terbilang melawan arus ini terlontar  saat beliau berada di Forum Diskusi Persatuan Mahasiswa Indonesia di The University of Queensland (UQISA), Australia, seperti diwartakan Tirto.id (21/2/2018). Ustadz Haedar menyatakan, tindakan tidak populis ini terpaksa diambilnya untuk melawan pihak-pihak yang sudah menyalahgunakan kalimat suci tersebut.

Menurut Haedar, dirinya ingin menunjukkan bahwa Muslim yang baik adalah Muslim yang berilmu dan berkontribusi  positif bagi masyarakat, bukan mereka yang sedikit-sedikit meneriakkan “Allahu Akbar” untuk sesuatu yang sebenarnya sangat politis dan bukannya religius.

Memang, belakangan ini, kalimat takbir sudah lazim menjadi bagian dari sistem komando lapangan ormas yang berdemonstrasi. Bahkan di media sosial pun, takbir ini menjadi penanda pengelompokan sosial politik keagamaan yang eksklusif. Tidak jarang penyeru takbir tampil dengan wajah sangar dan garang. Acap disertai juga dengan acungan senjata tajam.

Read More

Takbir yang agung mengalami degradasi makna. Ia mengancam, menakut-nakuti dan mengintimidasi.

Akibat pekikan takbir yang intimidatif ini pula, seruan agung itu malah dijadikan parodi yang tak elok, takebeer, yang bermakna “Ambillah bir”. Secara normatif, bir tentunya minuman beralkohol yang diharamkan dalam Islam. Dus, kata takbir yang diplesetkan jadi takebeer ini malah memunculkan makna yang sama sekali kontradiktif.

Senada dengan Ustadz Haedar, KH. Mustafa Bisri (Gus Mus) tahun lalu juga pernah mengkritik kelompok yang gemar meneriakkan nama ilahi dengan penuh amarah ini. Seperti diwartakan oleh NUOnline (19/01/2017), Gus Mus mengingatkan agar orang yang teriak-teriak “Allahu Akbar” jangan sampai merasa sombong. Manusia amat kecil di hadapan Allah, sehingga tidak boleh sombong.  Sebab itu, menurutnya, letakkanlah takbir pada tempat yang suci dan jauh dari kesombongan.  Sebagai penyakit hati, kesombongan  bisa menelusup ke mana pun.

Jangan sampai nama ilahi yang dibesarkan, tapi yang meneriakkannya merasa bahwa dirinya besar juga. Ini justru mengerdilkan bahkan mengkhianati kalimat agung tersebut.

Manusia sebagai makhluk simbolis selalu melakukan pemaknaan atas kata-kata. Tak terkecuali pada kata-kata religius. Itulah yang terjadi pada kata takbir. Bilamana Gus Mus memperingatkan jangan sampai kesombongan muncul dari kata agung tersebut, Ustadz Haedar menegaskan bahwa teriakan atas kata agung ini kini sangat politis. Keberanian Ustadz Haedar ini patut diapresiasi.

Kiranya kita patut mengenang  satu peristiwa yang dikenal dalam sejarah Islam yakni tahkim (arbitrase) yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan. Tahkim ini terjadi setelah peristiwa perang Shiffin di mana pihak Ali berperang melawan Muawiyah. Ada satu kelompok yang menolak tahkim, yakni upaya perdamaian. Kelompok Khawarij, demikian nama kelompok tersebut, berseru, “La hukma illa hukmillah! (Tiada hukum kecuali hukum Allah!)”. Mereka mengkafirkan baik pihak Ali maupun Muawiyah yang dituduh tidak menegakkan hukum Allah.

Pada momen inilah, keluar kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang terkenal, “Kalimatu haqq, urida bihi al-baathil (Kata-kata yang diucapkan itu benar, tapi maksudnya jahat).” Ali sangat menyadari efek politis dari kata-kata yang diucapkan kelompok Khawarij tersebut. Kata-kata itu mendeligitimasi posisinya sebagai khalifah atau pemimpin politik dan militer. Mereka menuduh Ali menegakkan hukum tidak sesuai hukum Allah.

Khawarij berlindung di balik kata ‘hukum Allah’ tapi yang sudah ditafsirkan sesuai kepentingannya sendiri. Politik dipakai untuk kepentingan kelompok dengan mengatasnamakan otoritas ilahi.

Arkian, ketegasan yang ditunjukkan Gus Mus dan Ustadz Haedar di atas makin terasa penting untuk disebarluaskan di masa-masa kiwari ini. Jangan sampai makna takbir diselewengkan dan jangan sampai dipakai untuk teriakan politis. Wallahu a’lam. [ ]