Untuk Kiai Imaduddin dan KRT Faqih Wirahadiningat: Tes DNA sebagai Dalil?

Untuk Kiai Imaduddin dan KRT Faqih Wirahadiningat: Tes DNA sebagai Dalil?

Peneliti Rumail Abbas mengulik soal Tes DNA sebagai analisis untuk membantah argumen Kiai Imauddin soal polemik Baalawi dan Habaib

Untuk Kiai Imaduddin dan KRT Faqih Wirahadiningat: Tes DNA sebagai Dalil?

Disclaimer: artikel ini ditulis oleh seseorang yang tidak memiliki kredensi biomoluker, antrogenika, dan populasi manusia. Penulis hanya memiliki kredensi statistik dan matematika dasar (minimal Akta IV, lah) untuk membaca bagan filogeni, sequencing, SNP, STR, dan haplotyping karena data yang disajikan bisa dibaca dengan kedua kemampuan tersebut.

Prolog

Saat tersebar video penilaian Najwa Shihab bukanlah seorang syarifah karena gen Arab-nya tidak sampai 5% (sehingga Baalawi tidak sahih mengaku keturunan Rasul), penulis menghubungi Mas Sugeng:

“Kok, beliau bisa ngomong begitu, Mas?”

(Anda pasti tahu siapa saja yang memakai hasil DNA Najwa untuk perkataan seperti di atas)

Baik Mas Sugeng dan penulis sepakat: tes autosomal dari sampel Najwa Shihab tidak bisa dijadikan acuan untuk masalah nasab karena tidak valid sebagai alat pelacak nasab yang berbasis patrilineal (lelaki).

Saran penulis, lihatlah postur wajah dan hidung Najwa Shihab yang mancung. Penampakan fenotip Najwa yang sangat Arab di wajahnya merepresentasikan dominasi ras dan etnis yang ia miliki. Dan ini common sense, tak perlu jadi ahli untuk mengerti ini.

Kemudian, semua orang memerhatikan haplotyping & genotype Baalawi yang kebanyakan G-. Padahal, untuk sahih menjadi keturunan Rasul (atau minimal keturunan Imam Ali), seharusnya di bawah: J-. Penilaian seperti ini dipegang Kiai Imaduddin dan KRT Faqih Wirahadiningrat untuk menutup kemungkinan bahwa Baalawi merupakan asyraf (keturunan Rasul lewat Sayidah Fatimah).

Apa yang penulis lakukan selama ini adalah penelitian kualitatif (telaah literatur, wawancara terbuka, dan studi lapangan). Sedangkan Kiai Imaduddin dkk. mulai bergeser dari isu tersebut dan sudah progresif sampai pembahasan tes DNA.

Hingga muncul celotehan KRT Faqih Wirahadiningrat (secara makna): Baalawi itu kuningan, tapi mengaku emas yang punya nota-nota yang menunjukkan mereka emas. Nota-nota bisa dimanipulasi, namun “nota-nota” dari Allah dalam zat manusia tidak bisa dimanipulasi.

Seberapa kuat pernyataan ini?

Berikhtiar menjawab itu, penulis bergeser sedikit dari penelitian kualitatif ke penelitian kuantitatif. Penulis berusaha menakar secara statistik haplotyping yang mereka sodorkan, kemudian membacanya langsung dari sumber.

Penulis kemudian menghadapkan hiplotyping, sequencing, STR-SNP, dan bagan-bagan filoneginya di depan fakta-fakta historis yang terekam dalam sumber tradisional, seperti kitab sejarah dan kitab nasab (kebetulan penulis adalah history enthusiast yang memiliki banyak bacaan untuk sejarah).

Lantas, ada banyak jasa swasta untuk tes DNA, seperti AncestryDNA, 23andMe, FamilyTreeDNA, dan lainnya. Namun penulis memakai dua situs saja: FamilyTreeDNA dan yFull (karena inilah yang sering keluar di dalam narasi kontra-Baalawi).

Keturunan Yahudi dan Yahudi Ashkenazi

Penulis telah menguji berbagai sampel dari suku Yahudi di bawah ini sebagai uji coba, dan menakar seberapa akurat pola genetika FamilyTreeDNA dan yFull dalam pembacaan statistik.

Bayangkanlah sebuah komunitas yang cukup tertutup, eksklusif, tidak berinterasi secara biologis dengan suku selain mereka, dan berketurunan dari pernikahan antar sesamanya saja!

Dari keturunan Yahudi terdapat suku eksklusif seperti ini. Mereka menjalankan praktik endogami (menikah dengan sesama mereka), dan punya syarat yang ketat untuk pernikahan. Suku ini bernama: Cohen (Kohanim) yang mengklaim sebagai keturunan Harun (keturunan Nabi Ibrahim lewat anaknya: Nabi Ishaq).

Setelah menelaah beberapa cabang Yahudi-Kohanim tersebut, berikut penulis sajikan daftar haplogroup untuk keturunan mereka (update kompilasi: 4 Oktober 2023):

 

– J2-M318: keluarga Rabbi di Jarba & Tunisia

– J2, R, dan G2A1A: klan Spira

– R-L584 (sub-kelas): klan Rapaporto

– E-M35: klan Lurie

 

Secara statistik, keturunan Yahudi harus berada di haplogroup J, baik J1 (J-M267) ke bawah atau J2 (J-M172) ke bawah. Ternyata, klan-klan dari Suku Kohanim (yang endogamis tadi) tidak berada dalam haplogoup yang sama, walaupun sampel-sampel yang memiliki haplogroup dari klan-klan ini berada dalam satu marga.

Pertanyaan pertama: kenapa keturunan suku Kohanim (yang bahkan tidak memperbolehkan pernikahan dengan non-Kohanim meskipun sudah berpindah agama ke Yahudi) memiliki sebaran haplogroup yang beragam (ada di R-, G-, dan E- seperti daftar di atas)?

Pertanyaan untuk bias historisnya begini:

Jika leluhur J1-J2 bertemu puluhan ribu tahun yang lalu berdasarkan TRMCA (apalagi haplogroup E, G, dan R), bagaimana mungkin semua keturunan Nabi Harun (yang disebutkan di atas) bisa hidup jauh sebelum Nabi Harun hidup? Mungkinkah “keturunan” hidup sebelum “leluhurnya”?

Hal yang sama juga penulis dapati dalam Yahudi Ashkenazi-Levi: hampir 50% berada pada haplogroup R1A-M198. Bagaimana menjelaskan bahwa keturunan Yahudi Ashkenazi harus dari haplogroup G- ke bawah, sementara mereka sendiri berada pada haplogroup yang beragam sebagai keturunan Nabi Harun?

Beberapa Yahudi Ashkenazi yang penulis temukan dalam bagan filogeni berada di bawah ZS2121. Sampel-sampel di bawah ZS2121 pun masih perlu diverifikasi apakah benar Yahudi-Kohanim atau bukan. Kendatipun demikian, justru keturunan Suku Kohanim tidak berada di bawah ZS2121 (seperti Ashkenazi).

Berdasarkan sejarah yang diyakini orang Yahudi sendiri, baik non-Kohanim (seperti Levi) maupun Kohanim sama-sama keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ishaq. Lantas, kenapa keturunan Nabi Ibrahim (bahkan salah satu keturunannya menjaga pernikahan dengan sesama) justru tidak berada di bawah kode promosi genetiknya (baca: J-FGC8712)?

Bani Quraish

Ada dua pertanyaan yang masih menyisakan musykilah pada catatan penulis sebelumnya yang berjudul “Bantahan untuk Kiai Imaduddin dan KRT Faqih Wirahadiningrat: Jawaban Empat Tulisan Sekaligus” (semoga lekas dijawab beliau berdua).

Sebagai gambaran, berikut adalah Abrahamic Line (garis keturunan Nabi Ibrahim) versi promosi tes DNA (yFull, diakses 4 Oktober 2023, 8:30PM):

J-3014>J-S2137>J-Y4348>J-Y4349>J-Y6074(FGC8712)>J-L859

J-L859 adalah kode genetika promosi untuk Bani Quraish (Fihr ibn Malik), J-FGC8712 untuk promosi Bani Hasyim (ibn Abd Manaf), dan FGC10500 untuk promosi keturunan Imam Ali ibn Abi Thalib.

Coba simak fakta yang penulis temukan berikut ini:

SNP dari J-FGC39790 terkonfirmasi sebagai keturunan Imam Musa Al-Kadzim, namun menurut DNA tidak termasuk dalam grup Husaini versi promosi J-FGC30416. Beberapa tahun silam fosil seorang anak dari Sidon terkonfirmasi sebagai bagian suku Amorit yang berada di bawah haplogroup J-FGC11 (yang merupakan leluhur kelompok J-L859).

Suku Amorit, menurut kajian Biblikal dan historis, merupakan keturunan Kan’an yang dalam tradisi Injil dan sumber tradisional muslim bukanlah keturunan Sam. Artinya, ia tidak memiliki hubungan kedekatan dengan Jalur Ibrahimi.

Pertanyaannya pertama: bagaimana mungkin seorang keturunan Imam Musa Al-Kadzim tidak tergolong sebagai Husaini (keturunan Imam Ali dari anaknya bernama Imam Husain)?

Di sisi lain, kenapa Suku Amorit justru memiliki hubungan biologis dengan keturunan Nabi Ibrahim, padahal tidak ada satupun bukti historis yang menerangkan Suku Amorit pernah berbagi sejarah biologis sebagai keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq dalam kurun waktu yang tidak jauh (jika ada, silakan menunjukkan bukti historisnya)?

Pertanyaan kedua: TMRCA dari J-L859 adalah 1400 tahun (yFull, diakses: 4 Oktober 2023, 9PM WIB) dan sezaman dengan masa kehidupan Nabi Muhammad (±632 M.). Bagaimana mungkin leluhur Nabi Muhammad yang bernama Fihr ibn Malik (Quraish) diprediksi hidup semasa dengannya?

FYI: untuk sampai ke Quraish, silsilah Nabi Muhammad Saw. harus melewati 11 macam generasi. Menurut Ibnu Khaldun, satu thobaqot mewakili tiga macam generasi. Dengan bias historis yang sangat terang benderang seperti ini, apakah masuk akal kedua orang ini sezaman?

 

Haplotyping Selain Baalawi

 Mekanisme berikut ini sama persis dengan mekanisme penulis dalam menguji sampel-sampel dalam Al-Syajarah Al-Mubarokah. Dalam manual kitab nasab, kala redaksi Al-Syajarah Al-Mubarokah memakai jumlah ismiyah (apalagi mengandung ‘adad), maka berlaku final (inhishar) dan ilmiah.

Orang-orang hanya terpusat pada redaksi keturunan Imam Ahmad Al-Muhajir yang tiga saja (memakai redaksi jumlah ismiyah dan mengandung ‘adad). Sehingga, nama dan angka selain itu tidak bisa diterima secara ilmiah. Penulis pun tidak melihat Kiai Imaduddin (maupun pendukung beliau) melakukan uji akurasi manual tersebut di dalam redaksi Al-Syajarah Al-Mubarokah selain itu.

Akhirnya, penulis mengujinya sendiri untuk menakar akurasi penerapannya secara faktual. Dan, ternyata manual tersebut bermasalah jika dikomparasi dengan kitab sezaman dan kitab yang lebih tua.

Nah, hal yang sama penulis lakukan untuk uji haploptyping Sadah selain Baalawi versi tes DNA, dan berikut hasilnya:

(Rujukan: https://www.familytreedna.com/publik/E3b?iframe=ycolorized, Anda harus memiliki akun untuk mengakses data lengkapnya. Akses gratis sangat memungkinkan, namun tidak selengkap user FTDA yang terdaftar. Dan penulis memiliki akun di FTDA)

Sampel dari Algeria ber-haplogroup E-CTS12227. Ia masih hidup dan siapapun bisa meminta klarifikasi kepadanya. Ia adalah seorang mengklaim sebagai Al-Musawi Al-Husaini.

Beberapa Sadah yang membangun milis (semacam mailing-list, ya?) di sebuah kanal di Tunisia memberikan daftar haplogroup-nya:

– E-L35,

– E-M35,

– E-A930,

– E-M81,

Sebagai tambahan, beberapa sampel dari klan Al-Idrisi (Bani Idris Al-Akbar bin Abdullah Al-Kamil Al-Hasani) dan Bani Thayyib (suku Bani Hasyim di Yaman Utara) penulis dapati ber-haplogroup: E- (E-M35, E-CTS1096, E-Y143642, E-FT186530).

Pertanyaan pertama: ada tiga klan yang sudah penulis tampilkan, namun berada di haplogroup yang sama sekali berbeda dengan grup J-L859 (Bani Quraish).

Mungkinkah keturunan Imam Ali tidak berdarah Quraish dari segi patrilineal?

Klan Al-Zu’bi Al-Jailani pun bukan bagian dari J-L859 (Bani Quraish) dan J-FGC10500 (Imam Ali bin Abi Thalib). Namun, ada pula keturunan klan Al-Zu’bi Al-Jailani ini yang berada dalam kelompok J-, akan tetapi tersebar ke haplogroup J1-M267 dan J2-M172.

Grup J1 (sampel: Palestina, Suriah, Algeria, dan Irak)

– J-ZS9712

– J-M267

– J-FT343596

– J-FGC51968

 

Grup J-2 (sampel: Palestina, Irak, Suriah, dan Saudi Arabia)

– J-M172

– J-YSC0000253

– J-FTC18718

– J-Y162296

 

Pertanyaan untuk ini: selain tidak sama dengan J-L859, lewat TRMCA dari DNA leluhur J1-J2 bertemu jauh ribuan tahun ke belakang. Nah, bagaimana melogikakan ini berdasarkan bukti historis?

Sampel Sadah lain dari UEA, haplogroup-nya J-FGC5466 (seolah-olah mirip dengan promosi J-FGC yang sering diutarakan Raden Faqih). Begitupun sampel Sadah asal Al-Jazair, haplogroup-nya J-Y201847 dan J-ZS6589.

Seharusnya mereka masuk secara hierarki filogeni J-L859>J-8703, namun ternyata tidak. Artinya, disebut Bani Quraish saja mereka tidak lolos, apalagi disebut sebagai Bani Imam Ali (FGC10500). Mungkinkah demikian?

Orang Spanyol berinisial MGR terkonfirmasi sebagai Sadah karena haplogroup-nya J-FGC30416. Ia memiliki kecocokan patrilineal dengan Sadah asal Qathif dari klan Bahbahani berinisial HAJ dan Sadah dari klan Thaliqani (Husaini) berinisial HKTA yang ber-haplogroup sama: J-FGC30416.

Apakah mungkin orang Spanyol berinisial MGR asal Cantabria, yang merupakan keturunan Juan Manuel Guemes (b. 1673), adalah keturunan Rasul yang tersembunyi?

Bagaimana cara rasional menjelaskan orang asing yang tidak punya hubungan darah dengan Sadah, justru terkonfirmasi sebagai keturunan Imam Ali? Apakah ia memalsukan data diri padahal sebenarnya orang Arab? Bagaimana tentang assessment (penilaian) dan verifikasi penyedia layanan DNA untuk hal ini?

Mungkin terkesan masuk akal ia adalah keturunan Rasul yang tak terlacak, namun dalam menjawab hal KRT Faqih Wirahadiningrat harus mendatangkan dalil.

Zuriyah Rasul Non-Haplogroup J-

Benar bahwa sampel Baalawi berada pada deretan haplogroup G-. Namun jika membaca lebih dalam, penulis mampu menyebutkan beberapa Sadah dari klan lain yang ternyata berkabilah non-J (namun masih G-).

Ulasan ini punya satu maksud: bahwa apa yang ditampilkan tes DNA secara statistik ternyata bermasalah dengan penetapan asyraf jalur tradisional (kitab nasab dan kitab sejarah).

Jika ada Sadah kelas “Ring-1”, seperti yang diyakini KRT Faqih Wirahadiningrat jika benar ada istilah itu, Sadah Filaliyin adalah perhatian utama. Dari klan Al-Hasani, klan yang sama dimiliki penguasa Kerajaan Maroko sekarang, dan ternyata berhaplogroup G-.

(entah kenapa Raden Faqih menggertak memakai Sadah ini? Apakah sudah melihat hasil haplogroup mereka langsung? Kapan itu? Apa buktinya?).

Sadah Bani Syaibah, termasuk “Ring-1” asyraf yang ternyata memiliki haplogroup yang tidak sama dengan haplogroup rekomendasi Bani Quraish (baca: J-L859). Di samping kedua klan itu, berikut daftar yang bisa penulis kumpulkan:

 

– Sadah Al-Shirazi

– Sadah Qazwini

– Sadah An-Na’imi

– Sadah Al-Jammaz Al-Hasani

– Sadah Al-Mathbaqani

– Sadah An-Nasur Al-Idrisi Al-Hasani (Jordan)

– Sadah Al-Barzanji (Musawi-Husaini)

– Sadah Al-Bayat

– Sadah Al-Musawi

– Sadah Al-Rifa’i Al-Musawi

– Sadah Haidari

– Sadah Musya’syain

 

Sekadar menyebut haplogroup mereka:

– G-FTA39054,

– G-M201,

– G-L91,

– G-FGC72255,

– G-FTB45460

 

Pertanyaan untuk Kiai Imaduddin dan KRT Faqih Wirahadiningrat: sudahkah secara syamil membaca haplogroup non-Baalawi, seperti yang penulis tampilkan di atas? Sudahkah membaca haplogroup klan-klan yang terkonfirmasi sebagai keturunan Nabi Harun dan Nabi Ibrahim, namun punya kerancuan dari segi bias historis? Sudahkah membaca orang-orang asing yang ternyata keturunan Nabi dan berdarah Quraish versi Tes DNA?

Jika sudah, apa penjelasan beliau berdua kala mendapati tidak hanya Baalawi saja yang ber-haplogroup “meleset” sebagai keturunan Imam Ali, di samping kerancuan lain yang perlu dipertahankan untuk mengatakan Tes DNA adalah bukti sahih dalam membatalkan genealogi Baalawi?

Terakhir, Sadah Al-Uraidli (bin Ja’far Shodiq) adalah Sadah terbesar (di samping Musawiyah). Penulis kesulitan mendapatkan sampel DNA dari Sadah Al-Uraidli kecuali berasal dari sampel-sampel Baalawi saja. Satu sampel yang penulis temukan hanya menggunakan 12 marker STR, yang jika diprediksi justru menunjukkan keturunan Ali Al-Uraidli berada di haplogroup G-, sama seperti Baalawi.

Atau jika Kiai Imaduddin dan KRT Faqih bisa menunjukkan hasil yang lain, penulis ingin membaca telaahnya.

Kerancuan VS Loyalis?

 Penulis pernah menyajikan sebagian data di atas kepada beberapa loyalis tes DNA (sebagian mereka adalah pendukung tesis Kiai Imaduddin). Bagi mereka, tes DNA adalah alat uji paling relevan untuk menyusun ulang genealogi para asyraf di masa sekarang.

Klaim sebagai asyraf didasarkan pada manuskrip dan kitab nasab saja. Bagi keyakinan mereka manuskrip, sejarah, dan kitab nasab bisa dipalsukan, namun “manuskrip Tuhan” dalam tubuh manusia mustahil dipalsukan.

“Maling nasab tidak seperti maling jemuran. Maling jemuran sulit dibuktikan, tapi maling nasab sangat mudah dibuktikan.” demikian petuah Raden Faqih yang tertanam di benak mereka.

Kepada mereka, penulis sajikan lebih dari 25 macam kabilah yang terkonfirmasi sebagai asyraf lewat jalur tradisional (kitab nasab dan bukti historis), namun tidak terkonfirmasi lewat tes DNA. Penulis juga menyajikan kerancuan lain yang mengindikasikan tes DNA tidak akurat untuk menjelajahi silsilah jauh ke atas (seperti yang penulis sajikan di tulisan ini).

“Inilah bukti bahwa silsilah yang mengandalkan manuskrip, sejarah, dan kitab nasab memiliki banyak masalah. Buktinya adalah tes DNA mengatakan demikian.” jawab sebagian loyalis Kiai Imaduddin.

Ternyata, mereka masih berkeyakinan bahwa tes DNA adalah instrumen paling sahih daripada jalur tradisional.

Baca juga: Bantahan untuk Kiai Imaduddin dan KRT Faqih Wirahadiningrat: Jawaban Empat Tulisan Sekaligus

Tentang hal ini, penulis berkorespondensi dengan pakar biomoluker, antrogenika, dan populasi manusia di Barat (beruntung ada LinkedIn yang sangat membantu). Saat memberi tahu bahwa di Indonesia sedang terjangkit tren tes DNA untuk mengisbat nasab, nyaris mereka semua tertawa.

Untuk merilis sebuah vaksin yang dipakai melawan COVID-19 saja, saintis perlu menguji coba beberapa kali hingga hasilnya sesuai perhitungan sains sebelum benar-benar disuntikkan ke tubuh manusia. Namun, jelajah tes DNA generasi ratusan tahun ke atas sampai sekarang masih berupa teori-teori surga bahwa hal itu memungkinkan, dan masih dalam tahap pengembangan.

Akan tetapi, alat ukur yang masih dalam pengembangan ini sudah berani dipakai untuk membatalkan (minimal) 20 asyraf di seluruh dunia (adakah saintis yang tindakan sembrono seperti ini?).

Penulis itu tidak anti termometer. Tapi jika termometer yang tersedia justru rancu dan terindikasi kuat tidak akurat (apalagi masih dikembangkan), maka akal sehat seharusnya mendorong manusia waras untuk membuang termometer itu.

Bukannya malah melanjutkan vonis dengan termometer tadi!

 

Bani Jamil

 

Sewaktu di Plered, penulis sempat digertak bahwa penelitian penulis akan jadi sampah. Dalam tanding kajian literatur, KRT Faqih Wirahadiningrat mengaku punya koneksi dengan Bani Jamil (bahkan kabilah ini punya manuskrip tua).

Bani Jamil, lewat redaksi Raden Faqih, mencatat tiga anak Imam Ahmad bin Isa dan mengatakan “datuk kami tidak punya saudara bernama Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir”.

Penulis telah membangun korespondensi dengan Diwan Al-Sadah Al-‘Uraidliyyin di Najaf, Irak. Mereka mengkonfirmasi Baalawi sebagai abna al-‘amm (putra-putri paman kami). Pengurus Diwan pun memiliki musyajjar yang mengisbatkan Imam Ubaidillah sebagai anak Imam Ahmad bin Isa.

Pertanyaannya: Bani Jamil ini kabilah (si)apa? Jika benar mereka keturunan Imam Ali Al-Uraidili, tentu Niqobah Uraidliyyah mengenalnya. Tapi kenapa Bani Jamil cukup asing di telinga mereka, Den?