Ulama, Ramadhan dan Kemerdekaan

Ulama, Ramadhan dan Kemerdekaan

Kebetulan, peringatan hari lahir pancasila pada tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, dan sejarah Indonesia memang tak boleh dilepaskan dari peran ulama dan santri.

Dahulu, Indonesia mendapat ancaman dari Kerajaan Katolik Portugis dan menyebabkan adanya pertumbuhan kekuasaan politik Islam di Indonesia. Kehadiran Islam yang dibawa oleh para wirausahawan Muslim cukup memberi pengaruh besar tidah hanya dari segi ekonomi, tapi juga merambat ke faktor pendidikan hingga terbentuklah komunitas ulama dan santri.

Berbagai gerakan mulai dari gerakan sosial hingga gerakan tasawuf melancarkan perlawanan terhadap penjajahan Barat di Asia dan Timur Tengah. Serangan demi serangan dilancarkan para penjajah dan akhirnya ulama pun memilih untuk menghentikan gencatan senjata dan memusatkan konsentrasi pada pembangunan organisasi niaga, sosial pendidikan dan politik.

Read More

Seiring dengan semakin besarnya kekuatan ulama dan santri di Indonesia semakin banyak pula ancaman, tindakan bahkan invasi datang dari bangsa kolonial. Imperialis Protestan Belanda kian menekan ekonomi masyarakat Muslim Jawa dan Sunda dengan penerapan pajak in natura. Masyarakat muslim dilumpuhkan dalam kegiatan perniagaan hingga akhirnya tercipta monopoli ekonomi yang dikuasai para koloni.

Upaya mematahkan kekuatan ulama dan santri tak berhenti pada faktor ekonomi. Imperialis Protestan Belanda juga memutus hubungan antara umat Muslim Indonesia danTimur Tengah dengan larangan menunaikan ibadah haji.

Ahmad Mansur Suryanegara mengutip perkataan Ki Hadjar Dewantara ke dalam buku Api Sejarah bahwa segala bentuk penjajahan dan penindasan dan upaya mematahkan kekuatan umat Muslim rupanya tidak berhasil. Justru, kondisi yang penuh tekanan menyadarkan masyarakat Indonesia menanamkan pemikiran kepada rakyat Indonesia bahwa Islam identik dengan kebangsaan atau nasionalisme.

Proses perjuangan yang panjang melawan Kerajaan Protestan Belanda berakhir pada 8 Maret 1942 saat pemerintah kolonial Belanda menyerah kepada Balatentara Dai Nippon. Perlawanan akhirnya tertuju pada imperialis Timur.

Kekejaman para penjajah memang tak mengenal waktu dan tempat, apa dan siapa. Bulan Ramadhan, saat umat Muslim menunaikan ibadah puasa, justru dijadikan sebagai waktu untuk memeatahkan kekuatan bangsa Indonesia. Menahan lapar dan haus tidak menjadi alasan untuk libur berperang. Kemenangan umat Muslim dari zaman Wali Sanga memberi energi positif dan motivasi untuk tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pada pra proklamasi, ulama berperang penting terhadap kondisi psikologi para pemimpin bangsa. Boeng Karno pun menyempatkan diri untuk mendekati Ulama guna menumbuhkan rasa tenang, yakin dan berani. Ahmad Mansur Suryanegara mengutip kisah Boeng Karno yang tertulis dalam Saksi Sejarah bahwa beliau datang ke Syech Moesa di Sukanegara Cianjur Selatan. Bung Karno mengenal Syech Moesa melalui R.A.A. Wiranatakoesoemah yang pada saat itu menjadi bupati Cianjur dan Bandung.

K.H. Abdoel Moekti yang merupakan pimpinan Persjarikatan Moehammadijah memberikan kepastian waktu yang baik untuk melangsungkan proklamasi kemerdekaan Indonesia kepada Boeng Karno yakni pada Jumat Legi, 9 Ramadhan 1364 atau bertepatan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selain melalui K.H. Abdoel Moekti, Boeng Karno pun berupaya mencari kepastian hari kemerdekaan dan dukungan melalui Choedratoes Sjeich Rais Akbar K.H. Hasjim Asj’ari, ulama besar dari Pesantren Tebuireng Jombang, yang mana beliau pun sudah menghubungi Angkatan Laut Jepang di Surabaya dan memberikan persetujuan kalau Boeng Karno akan menjadi presiden Republik Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia memang lekat dengan nuansa Islami, Boeng Karno pun menuturkan bahwa sejak dari Dalat Saigon, beliau yakin bahwa 17 Agustus 1945 adalah waktu yang baik untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan. Angka 17 dianggap begitu sakral karena pada tanggal 17 pula Al-Quran diturunkan dan rakaat shalat fardhu dalam sehari pun berjumlah 17. Keyakinan ini pun didukung oleh ulama yang Boeng Karno datangi.

Perjuangan untuk memperoleh kemenangan dari Keradjaan Katolik Portugis, Keradjaan Protestan Belanda dan juga Kekaisaran Shinto Djepang akhirnya membuahkan hasil. Pada jam 10 pagi, Jumat Legi, 9 Ramadhan 1364 bertepatan dengan 17 Agustus 1945 proklamasi dibacakan. Umat Islam meyakini bahwa kemerdekaan adalah anugerah Allah Swt.

Bagi Ahmad Mansur Suryanegara, Proklamasi memiliki makna yang sangat besar sebagai puncak kemenangan ulama dan santri dalam memukul mundur para penjajah. Adanya kebijakan deislamisasi kalender membuat peringatan kemerdekaan hanya cukup dirayakan pada 17 Agustus saja, padahal semestinya tanggal 9 Ramadha dijadikan momen untuk bersyukur atas kemerdekaan Indonesia dan mengenang jasa para ulama dan santri yang berjuang merebut kemerdekaan.