Tabyin Kadzb Al-Muftari: Buku Putih Mazhab Asy’ari

Tabyin Kadzb Al-Muftari: Buku Putih Mazhab Asy’ari

Dimana pun popularitas selalu dibarengi dengan rasa ketidaksukaan pihak tertentu. Populer adalah nikmat Tuhan. Akan selalu ada pihak yang hasud. Pepatah Arab mengatakan, li kulli ni’matin hasudun. Setiap nikmat pasti ada iri. Tak jarang, hasud itu timbul dari sesama orang yang punya keahlian, profesi, dan bidang kehidupan yang sama.

Nah, kita akan belajar sejarah. Sedikit. Tapi penting. Sejarah ini terkait dengan mazhab teologi terbesar dalam Islam. Yaitu mazhab Asy’ari. Sampai hari ini, mazhab ini masih mendominasi dunia Islam. Perjalanan mazhab ini tidak mudah. Ada banyak tantangan yang menghadang. Namun, dengan berlalunya waktu, ternyata mazhab ini memperoleh dukungan besar dari umat Islam. Sekalipun berulang kali dijatuhkan dan dilenyapkan, ternyata gagal juga usaha seperti itu. Bahkan, tak jarang pihak yang berusaha menjatuhkan itu sendiri yang harus terjungkal.

Di awal perkembangannya, muncul tuduhan serius kepada perumus mazhab Asy’ari. Syekh Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Beliau tadinya adalah seorang penganut paham Muktazilah. Lalu berpindah kepada mazhab yang diperjuangkan Imam Ahmad bin Hanbal. Metode beliau dalam mempertahankan akidah, berbeda dengan metode Imam Ahmad dan pengikutnya yang hanya menggunakan riwayat. Imam Al-Asy’ari menggunakan logika dan dialektika yang biasa yang digunakan dalam ilmu kalam. Namun, beliau tidak keluar dari paham yang dibela Imam Ahmad.

Read More

Di sinilah kemudian menjadi ciri khas Imam Al-Asy’ari sehingga menjadi mazhab tersendiri dalam mempertahankan akidah. Keberhasilan menakhlukkan para pemuka Muktazilah dan dukungan terbuka pada mazhab Imam Ahmad telah menarik simpati umat Islam. Di satu sisi beliau rasionalis, di sisi lain, beliau setia kepada teks. Dengan cepat, nama Imam Al-Asy’ari populer dan menarik banyak pengikut. Di tengah popularitas itu, ternyata ada juga yang tidak suka.

Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dituduh dengan berbagai macam fitnah. Hal itu sudah terjadi sejak era Al-Asy’ari dan lebih menajam setelah beliau wafat. Para penuduhnya bukan orang sembarangan. Banyak di antaranya adalah orang-orang yg dikenal luas memiliki pengaruh cukup kuat. Salah satu yg cukup fenomenal adalah serangan yang dilakukan oleh tokoh terkemuka Abu Ali Al-Hasan Al-Ahwazi. Pakar Qiraat Al-Quran dan Penghafal Hadis. Pengikut doktrin Salimiah, salah satu kelompok antropomorphis dalam sejarah Islam.

Dalam ceramah-ceramah dan buku-bukunya, dia banyak mencaci maki dan menghujat Imam Abul Hasan al-Asy’ari. Kebenciannya kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan pendukungnya sangat terkenal. Dia tidak setuju dengan pendapat Imam Abul Hasan al-Asy’ari tentang sifat Allah. Dia mengikuti pandangan Salimiyah, aliran yang berpegang teguh kepada bunyi tekstual nash sehingga terjerumus ke dalam penyerupaan Allah dengan makhluk (mujassimah). Ada banyak tuduhan yang disebarkannya kepada masyarakat Muslim saat itu agar mereka menjauhi Mazhab Asy’ari.

Rupanya, tuduhan tersebut menggelisahkan seorang ulama besar. Imam Ibnu Asakir Al-Dimasyqi (499-571 H.). Beliau menulis buku guna membantah tuduhan pada Imam Al-Asy’ari. Buku yang sangat terkenal itu berjudul Tabyin Kadzbil Muftari Fi Ma Nusiba Ilal Asy’ari (Membongkar Tuduhan dan Fitnah kepada Imam Al-Asy’ari).

Ibnu Asakir adalah seorang ahli hadis kenamaan dari Damaskus. Penulis buku yang sangat produktif. Tidak kurang dari dua puluh empat judul buku beliau tulis. Satu judul buku terdiri dari banyak jilid. Yang paling terkenal adalah Tarikh Dimasyq (Sejarah Damaskus) yang berisi biografi para ulama yang pernah belajar dan berkarir di kota Damaskus.

Buku Tabyin Kadzbil Muftari ditulis secara khusus untuk membantah tuduhan Abu Ali Al-Ahwazi. Terdapat dua puluh lima poin, kalau tidak lebih, tuduhan yang dialamatkan kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari. Tuduhan dan fitnah bahkan mengarah kepada pribadi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Seperti tuduhan bahwa gelar Al-Asy’ari, yang berarti keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari, adalah kebohongan. Nasabnya tidak terhubung dengan sang sahabat. Sekalipun terhubung, nasabnya tidak bermanfaat. Dalam buku Tabyin Kadzbil Muftari, Ibnu Asakir membantah tuduhan tersebut. Beliau mengatakan bahwa nasab Imam al-Asy’ari nyambung kepada sahabat Abu Musa Al-Asy’ari. Dengan rinci beliau menyebut jalur nasab Imam al-Asy’ari hingga ke sahabat Abu Musa.

Tuduhan lainnya terkait dengan kapasitas keilmuan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Al-Ahwazi menuduh bahwa Imam al-Asy’ari bukan tergolong ahli ilmu, tidak paham Al-Quran, hadis, dan fiqh. Ibnu Asakir membantah tuduhan tersebut dengan menyebutkan judul buku karangan Imam Al-Asy’ari, salah satunya adalah Tafsir Al-Quran War Radd Ala Man Khalafa al-Bayan Min Ahlil Ifki Wal Buhtan.
Al-Ahwazi menuduh Imam al-Asy’ari dengan menyebut bahwa Imam al-Asy’ari hanya diikuti oleh orang-orang bodoh (al-Juhhal). Ibnu Asakir membantah bahwa para pengikut Asy’ariyah bukan hanya orang-orang yang awam dalam masalah agama, tapi juga tokoh-tokoh besar dalam Islam. Para imam terkemuka dari berbagai mazhab. Ibnu Asakir menyebutkan daftar ulama besar yang menjadi pengikut Imam al-Asy’ari dalam masalah aqidah.

Ada lima generasi (thabaqat) ulama yang sudah menjadi pengikut beliau. Termasuk di antaranya adalah para ahli hadis, ahli fiqh, ahli kalam, ahli tasawuf dan lainnya seperti Abu Bakr al-Baqillani (kalam) , Abu Ishaq al-Isfirayini (fiqh), Ibnu Faurak (mutakallim-muhaddits), Abu Hamid al-Ghazali (fiqh, filsafat, kalam, tasawuf) , Abu Hawazin al-Qusyairi (tasawuf), Al-Baihaqi (muhaddits), Al-Khathib Baghdadi (muhaddits), Abu Nuaim Al-Asbahani (muhaddits), dan lainnya. Para ulama besar di zamannya dengan banyak murid yang berpengaruh di dunia Islam.

Al-Ahwazi menuduh Imam Al-Asy’ari ditolak oleh umat Islam. Tuduhan ini dibantah Ibnu Asakir. Tidak ada negeri Muslim yang menolak pemikiran Imam al-Asy’ari yang secara tulus membela ajaran Islam Ahlus Sunnah.
Al-Ahwazi menuduh bahwa Imam Al-Asy’ari hanya berpura-pura mendukung Ahlus Sunnah, sebenarnya dia mengajarkan paham Muktazilah. Pertaubatannya diragukan. Tidak mungkin seorang pengikut Ahli Bid’ah bertaubat.

Ibnu Asakir membantahnya dengan mengatakan bahwa klaim ahli bid’ah tidak bisa bertaubat adalah bukti kebodohan Al-Ahwazi. Jika perkataan itu dibenarkan, lalu apa gunanya para ulama besar bersusah payah mendakwahi, berdialog, berdebat dengan ahli bid’ah, jika pertaubatan itu tidak mungkin. Bukankah sama saja mereka melakukan perbuatan yang sia-sia. Perkataan al-Ahwazi tersebut adalah bentuk kebodohannya yang ditunjukkannya kepada banyak orang. Jika pertaubatannya Imam Al-Asy’ari sekadar pura-pura, lalu jasa-jasa besarnya selama hidupnya setelah bertaubat dalam membela ajaran-ajaran Ahlus Sunnah tentang sifat-sifat Allah, dan perjuangannya membongkar paham Muktazilah, maka jasa-jasanya lebih besar dibanding Al-Ahwazi. Para ulama besar juga lebih percaya ketulusan beliau dibanding tuduhan Al-Ahwazi.

Ibnu Asakir berharap agar tidak ada lagi orang yang berupaya menjatuhkan kehormatan seorang ulama besar seperti Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Karena, menurutnya, menjatuhkan kehormatan ulama dengan menyebarkan fitnah yang tidak benar, hanya akan membuat pelakunya menyesal. Beliau mengatakan, “Inna Luhumal Ulama’ Masmumatun wa adatullah fi hatki astari muntaqishihim ma’lumatun“ yang berarti “Daging para ulama itu beracun, Allah punya kebiasaan membongkar kebusukan orang yang merendahkan ulama.”

Pernyataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari peristiwa yang dialami Abu Ali Al-Ahwazi. Para akhir hayatnya, Abu Ali Al-Ahwazi yang merupakan ahli qiraat, ahli meriwayatkan hadis, dan dikenal punya banyak sanad tinggi (‘ali), ternyata banyak melakukan pemalsuan. Para ahli hadis berhasil membongkar pemalsuan-pemalsuan yang dilakukannya. Dia meriwayatkan banyak hadis palsu untuk mendukung paham Salimiyyah, salah satu aliran mujassimah, yang meyakini Allah punya anggota tubuh, bertempat, dan bisa ditunjuk posisi tempatnya. Sanad-sanad yang disebarkannya ternyata merupakan pemalsuan karena setelah ditelusuri dari guru-guru yang disebutkan, tidak ada nama Abu Ali Al-Ahwazi disebut sebagai muridnya. Namun demikian, Al-Dzahabi dan beberapa ulama lain masih memandang kemuliaan Abu Ali Al-Ahwazi. Sekalipun terbukti memalsukan sanad, tapi kepakarannya dalam ilmu Qiraat dan jasanya mengajarkan kepada umat Islam, tidak dapat diremehkan. Begitulah, hendaknya kita menjaga lisan dari mengibah ulama.