Sekali Lagi Tentang Jalan Rahmah dan Kisah di Perang Salib

Di Israel juga terjadi banyak protes terkait Yerussalem. Photy by rt.co

Sekali Lagi Tentang Jalan Rahmah dan Kisah di Perang Salib

Bagaimana upaya jalan rahmah ini dalam sejarah islam?

Suatu ketika, Muhammad sang nabi, mengerjakan sholat di Masjidil Haram, menghadap Ka’bah. Saat sujud, tanpa diduga, Abu Jahal memerintahkan teman-temannya untuk menimpuk Muhammad dengan seember besar tahi onta berbau busuk. Begitu banyaknya tahi onta itu sampai Muhammad tak bisa tegak untuk duduk. Pun, Fatimah tergopoh-gopoh membersihkan kotoran onta itu.

Lantas, setelah kejadian itu, apakah Muhammad marah? Menaruh dendam pada Abu Jahal? Tidak..! Bahkan, ketika Mekkah dapat dikuasai, Muhammad menyerukan bahwa seluruh penduduk Mekkah mendapat pengampunan, termasuk Abu Jahal. Betapa Muhammad mempunyai hati yang Rahmah dan lemah lembut.

Kisah lain, saat Perang Badar, Ali Bin Abi Thalib, dalam sebuah perkelahian sanggup merobohkan musuhnya. Dan, Ali hendak menghunus pedang membunuh musuh yang roboh itu. Tak diduga, musuh itu, meludahi Ali. Pun, Ali mundur, tak jadi membunuh’. Seorang sahabat bertanya : “wahai Ali, mengapa kau lakukan itu?” Ali menjawab :”Aku takut membunuhnya karena marah akibat diludahi”.

Read More

Masih tentang Ali bin Abi Thalib. Dalam Perang Siffien. Pasukan Ali berhadap-hadapan dengan Pasukan Muawiyah. Tanda-tanda kemenangan ada di kubu pasukan Ali, tiba-tiba dari kubu Muawiyah ada seorang yang mengangkat Al Qur’an, mengajukan gencatan senjata dan perdamaian.

Pun, Ali bin Abi Thalib menerima tawaran itu. Bagi Ali, ini adalah jalan Rahmah, perdamaian lebih penting daripada memenangkan perang. Namun, sebagian kelompok mengutuk Ali, mengkafirkan Ali, dan bahkan membunuh’ Ali.

Kisah tentang teladan Rahmah juga terpatri dalam Perang Salib, saat pasukan Jenderal Salahuddin Al Ayyubi dari Bangsa Kurdi berhadapan dengan Pasukan yang dipimpinRaja George berhati singa dari Inggris. Perang berkecamuk sangat sengit.

Di tengah-tengah peperangan itu, tersiar kabar bahwa Raja George jatuh sakit yang parah. Pun, bersama seorang dokter, Salahuddin menyelinap masuk ke barak tempat Raja George terbaring lemah. Salahuddin bersama sang dokter merawat Raja George sampai sembuh.

Padahal, bisa saja, Salahuddin menyelinap dan membunuh Raja George, perang pun dimenangkan. Namun, Salahuddin lebih memilih jalan Rahmah dengan menyembuhkan Raja George daripada memenangkan perang.

Narasi kisah Rahmah di atas sepertinya yang coba diteladani oleh KH. Yahya Cholil Staquf. Ia datang menerima undangan Pemerintah Israel untuk berbicara tentang Rahmah dan perdamaian. Tentu saja, seperti Ali bin Abi Thalib, jalan Rahmah yang dibawa Kyai Yahya banyak diserang dan dikutuk. Untungnya, Kyai Yahya tidak dikafirkan dan dibunuh seperti Ali bin Abi Thalib.

Jalan Rahmah memang bukan jalan biasa. Ia adalah jalan yang luar biasa untuk mencairkan kebekuan. Tidak banyak manusia yang sanggup menapaki jalan Rahmah, sebagian dari kita, termasuk saya, lebih suka memilih jalan marah, jalan untuk setia menjaga front permusuhan.

Boleh jadi, jalan Rahmah bukan cara untuk memenangkan perang, tetapi jalan Rahmah adalah cara untuk menyentuh hati. Mendudukkan musuh sebagai sesama manusia yang layak disentuh dengan wajah cinta.

Pun, dalam setip akan perang, Nabi Muhammad selalu memberi briefing : jangan membunuh dengan cara melampaui batas, jangan membunuh perempuan tak bersenjata, jangan membunuh anak-anak, jangan membunuh orang tua, jangan membunuh orang yang sedang ibadah (agama apapun), jangan merusak tanam-tanaman, jangan membunuh binatang ternak, dan jangan merusak rumah’ ibadah

Artinya, dalam kondisi perang sekalipun, Muhammad meneladankan untuk menapaki jalan Rahmah. Perang tidak hanya sekedar untuk dimenangkan, tetapi yang lebih penting, bagaimana dalam Perang ada nilai-nilai etika yang luhur. Perang bukan hanya untuk membunuh musuh, tetapi sebisa mungkin membuat musuh meletakkan senjata dan memilih jalan damai.

Guru saya, Rahmat dan kemuliaan semoga tercurah kepada beliau, pernah memberi nasihat :

“Kualitas iman seorang salah satunya dapat diukur dari bagaimana ia memperlakukan musuhnya”