Sejarah Kiswah, Kain Penutup Kabah

Sejarah Kiswah, Kain Penutup Kabah

Kain warna hitam yang biasa kita lihat menutupi Kabah ini disebut kiswah, bagaimana sejarah kiswah ini?

Saat menunaikan ibadah umroh maupun haji, salah satu rukun yang wajib dijalankan oleh para jamaah ialah thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Pada saat inilah kita bisa melihat kain penutup Ka’bah yang berwarna hitam dengan jarak dekat. Pernahkah kita bertanya-tanya, terbuat dari apa sebenarnya kain penutup Ka’bah ini dan apa gerangan namanya?

Kain penutup Ka’bah sendiri disebut kiswah, yang dalam bahasa Arab berarti selubung. Asal katanya sama seperti kata kisui dalam bahasa Ibrani. Kiswah terbuat dari kain hitam dengan tulisan kaligrafi di sepanjang permukaannya. Tujuan dari pemasangan kiswah ini adalah agar dinding luar Ka’bah terlindung dari kotoran serta tidak cepat rusak. Kain ini sendiri tidak hanya berjumlah satu buah saja. Tiap tahun, tepatnya pada tanggal 9 Dzulhijjah atau ketika musim haji tiba, kain kiswah akan diganti dengan yang baru.

Tiap tahunnya, kiswah yang lama akan diangkat lalu dipotong-potong ke dalam beberapa bagian kecil untuk kemudian dihadiahkan pada kalangan tertentu. Termasuk di antaranya adalah pejabat Muslim asing yang tengah berkunjung ke Arab Saudi ataupun organisasi asing. Sementara pada masa Umar bin Khattab, potongan kain kiswah diberikan pada para jamaah untuk melindungi mereka dari panasnya suhu di kota Mekkah.

Read More

Sebagai pelindung Ka’bah, tentunya kiswah memiliki nilai tinggi serta tidak dibuat secara asal-asalan. Luasnya sendiri mencapai 658 meter persegi dan dibuat dari total 670 kg kain sutera serta 150 kg benang emas. Proses pembuatannya tidak sekaligus satu bagian melainkan dibagi-bagi ke dalam 47 bagian. Tiap bagiannya masing-masing memiliki panjang 47 meter serta lebar 101 meter.

Supaya proses pengerjaannya makin efisien, penjahitan ayat-ayat suci Al Quran akan dilakukan menggunakan bantuan komputer. Dulunya, semua kaligrafi di permukaan kiswah akan dikerjakan secara manual menggunakan tangan para pengrajin. Biaya pembuatannya juga tentu tak main-main mengingat banyaknya bahan dasar berupa kain sutera serta benang emas yang digunakan. Konon, satu buah kain kiswah menghabiskan dana pembuatan hingga 17 juta riyal atau kira-kira 43 miliar rupiah.

Pada tahun 1931, pemerintah Arab Saudi membuat sebuah pabrik kiswah di kota Mekkah. Lokasi persisnya ada di pinggiran Mekkah dengan luas 10 hektar dan berisi total 240 orang pengrajin. Di dalam pabrik inilah kain kiswah dibuat secara massal mulai dari tahap perencanaan, pembuatan prototipe gambar kaligrafi, pencucian emas dan perak murni sebanyak berkilo-kilogram hingga pemintalan kaligrafi serta penjahitan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri di awal masa dakwahnya di Mekkah tidak terlibat langsung dalam pemberian kain kiswah ini sebagai penutup Ka’bah. Orang-orang kafir Mekkah pada masa itu tidak mengizinkan beliau. Rasulullah baru mulai melibatkan diri secara langsung dalam hal pemasangan kiswah saat kota Mekkah telah ditaklukkan. Pada masa kepemimpinan beliau, kain kiswah ini tidak diganti tiap tahunnya seperti sekarang.

Konon, kain penutup Ka’bah ini sebenarnya tidak pernah diganti hingga kemudian terbakar. Seorang perempuan membakar wewangian dekat Ka’bah dan tanpa sengaja turut membakar kiswah tersebut. Setelah kejadian itulah, Rasulullah memberi kain penutup Ka’bah yang pada saat itu didatangkan langsung dari Yaman. Hal ini segera diikuti para Khulafaur Rasyidin yang turut memberi kain penutup Ka’bah dari Yaman serta Mesir.

Pabrik pembuatan kiswah sendiri dibuka untuk umum sehingga siapapun bisa melihat langsung proses pembuatannya. Namun, untuk bisa berkunjung kemari dibutuhkan surat izin permohonan berkunjung yang harus didapat dari Kementerian Luar Negeri Arab Saudi di Jeddah. Beberapa biro umroh atau haji biasanya akan turut menyertakan tur ke pabrik kiswah ini dalam rangkaian kegiatannya.

Wallahu A’lam.