Bulan Ramadan dan Ikhtiar Merawat Lingkungan

Bulan Ramadan dan Ikhtiar Merawat Lingkungan

Bulan Ramadan dan Ikhtiar Merawat Lingkungan
ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG

Saat dulu masih SD, terutama pada hari Ahad, saya bersama teman-teman selalu mengisi waktu liburan dengan banyak kegiatan. Mulai dari lari lagi atau maraton, main bola, nonton kartun, menjajaki berbagai permainan tradisional, termasuk mencari capung atau biasa kami menyebutnya dengan “ngala papatong.” Kegiatan mencari capung itu dilakukan di sebuah kebun kosong milik salah seorang warga.

Di kebun itulah kami berlomba untuk memperbanyak tangkapan capung. Capungnya beragam, kami menyebutnya ada papatong gegendo, papatong cina, papatong koneng, papatong beureum, papatong tangkod dan masih banyak lagi.

Kala itu masih tahun 90-an. Sampai kini tahun 2024, ternyata saya sudah jarang melihat capung.

Masih ada, hanya beberapa saja, jarang terlihat berseliweran terbang. Ternyata ekosistem capung hampir punah karena pencemaran lingkungan dan polusi udara. Habitat capung menjadi rusak, capung pun mulai langka. Apalagi yang namanya sampah, di mana-mana berserakan, merusak pandangan dan bau busuknya sangat menyengat. Sampai akhirnya banjir terjadi di mana-mana.

Sebuah daerah yang tadinya jauh dari banjir, kini mulai menjadi langganan. Lingkungan hidup kita tengah rusak.

Yusuf Al-Qardhawi membagi lingkungan pada dua yaitu Al-Hayyat (dinamis), yang meliputi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian, lingkungan yang bersifat Al-Jamidah (statis), seperti alam semesta dan berbagai bangunan.

Ramadan harus menjadi ruang perenungan bagi kita bersama. Betapa bumi kita sedang banyak mengalami kerusakan.

Siapa lagi pelakunya kalau bukan manusia, kita sendiri. Proses pendidikan selama ini yang kita enyam di berbagai tingkatan, mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi betul-betul alpa dari kepedulian untuk merawat lingkungan hidup.

Allah Swt., di dalam QS. Al-A’raf ayat 58 berfirman:

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهٗ بِاِذْنِ رَبِّهٖۚ وَالَّذِيْ خَبُثَ لَا يَخْرُجُ اِلَّا نَكِدًاۗ كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَ ࣖ

“Tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur seizin Tuhannya. Adapun tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami jelaskan berulang kali tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Pada ayat 205 dalam QS. Al-Baqarah, Allah juga mengingatkan:

وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.”

Kalau sudah begini, siapa yang bertanggungjawab?

Saya merasa bahwa sudah saatnya masing-masing dari kita segera turun ke bawah untuk kembali merawat lingkungan hidup. Harus diakui bukan perkara mudah.

Sudah menjadi watak buruk manusia yang hidupnya serba ingin instan dan tidak mau capek. Apalagi berbagai program perawatan lingkungan hidup pun terjebak formalitas dan seremonial.

Para ulama masih saja banyak yang berdakwah hanya di mimbar, masih belum mau terjun ke bawah dengan tanpa banyak ceramah, hidup dengan alam dengan kondisi yang belepotan.

Demikian juga para akademisi yang bergaya perlente. Yang umumnya merasa puas melakukan aktivitas mengajar di Perguruan Tinggi.

Mau bicara soal lingkungan hidup, itu pun karena proyek penelitian dan sama sekali tidak menyentuh permasalahan. Diperparah juga dengan Pemerintah yang tidak serius dan akhirnya semakin membuat masyarakat acuh tak acuh. Kalau sudah terjadi bencana dan musibah saja seolah-olah sadar, tetapi tidak berselang lama semuanya seperti sedia kala.

Bukan tidak ada yang mau peduli dan turun langsung ke bawah. Ada beberapa individu maupun komunitas yang menggerakkan, tetapi tentu mereka kalah jumlah dan sudah pasti kewalahan.

Berkaca pada diri sendiri, yang sejak 2016 memutuskan untuk kembali ke Desa, menyelesaikan persoalan lingkungan hidup memang sulitnya minta ampun. Memulai dari diri sendiri sampai kemudian mengajak tetangga, teman, saudara dan lainnya memerlukan energi yang luar biasa. Dan hal ini dilakukan tanpa gaji atau upah. Namun, betapa pun dirasakan susah, saya dan teman-teman tentu tidak akan menyerah, apalagi kita masih diberi kesempatan Ramadan.

Semoga Allah semakin memberi petunjuk dan jalan kemudahan. Insya Allah merawat lingkungan hidup akan menjadi gaya hidup.

 

Oleh, Mamang M Haerudin, mengabdi di Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah.