Orang yang Rajin Beribadah Akan Lebih Sehat, Benarkah?

Orang yang Rajin Beribadah Akan Lebih Sehat, Benarkah?

Beribadah merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam. Terlebih, umat islam sangat membutuhkan ibadah sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, niscaya hidup pun akan menjadi lebih tenang dan mendapatkan keberkahan selama menjalani kehidupan.

Namun rupanya tak hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, beribadah juga ternyata berkorelasi dengan kesehatan tubuh. Bahkan, orang yang beriman justru cenderung memiliki tubuh yang lebih sehat. Benarkah demikian? Faktor apakah yang justru membuat orang beriman lebih sehat?

Menurut Dr. Majid Fotuhi, salah satu dosen di Harvard Medical School, salah satu perusak otak yang paling buruk adalah rasa stress. Pasalnya, rasa stress sangat dapat menghasilkan zat yang beracun bagi tubuh. Sedangkan bagi umat Islam, salah satu cara untuk Salah satu cara untuk mengurangi stres adalah dengan beribadah dan berdoa. Sebab saat seseorang sedang berdoa, ia akan merasakan pikiran yang lebih tenang dan damai.

Read More

Tak hanya itu, menurut penelitian JAMA Psychiatry, kemungkinan risiko depresi bagi orang-orang yang taat beragama ternyata jauh lebih kecil. Bahkan teknologi MRIs menunjukkan bahwa otak orang yang taat beragama memiliki lapisan yang lebih tebal dibandingkan orang yang tidak beragama. Selain itu, orang menjalani kehidupan beragama cenderung akan memiliki ukuran hippocampus yang lebih kecil dari yang tidak beragama. Hippocampus merupakan bagian otak yang memperbesar peluang depresi serta alzheimer di usia tua.

Selain dari sisi psikologis, rajin beribadah juga memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kesehatan fisik. Sebagai contoh, gerakan salat ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan fisik. Melalui gerakan takbiratul ihram dengan posisi berdiri tegak sembari mengangkat kedua tangan sejajar telinga dan melipatnya di depan perut maka aliran darah serta getah bening menjadi lancar. Otot bahu yang meregang juga membuat aliran darah kaya oksigen menjadi lancar dan otot tidak kaku.

Selanjutnya, gerakan rukuk dengan posisi kepala sejajar tulang belakang akan mengurangi risiko terkena sakit punggung. Gerakan rukuk juga akan membuat kemih terhindar dari gangguan prostat. Gerakan bangun dari rukuk yang melibatkan perut dan organ pencernaan lainnya juga akan membuat organ pencernaan mengalami pemijatan serta pelonggaran sehingga kerjanya lebih lancar.

Bahkan gerakan sujud dengan posisi menungging sembari kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi menempel di lantai membuat aliran darah ke otak meningkat. Aliran getah bening juga akan dipompa ke bagian leher dan ketiak. Dengan posisi jantung yang berada di atas otak maka darah yang kaya akan oksigen bisa mengalir maksimal ke otak dan mempengaruhi daya pikir seseorang.

Menurut beberapa penelitian yang dilakukan para peneliti di Harvard University, Amerika Serikat, kecerdasan seseorang akan meningkat setelah melaksanakan salat. Hal tersebut disebabkan oleh gerakan sujud yang memudahkan pasokan oksigen mengalir secara optimal. Pasalnya, pada saat itu posisi jantung tepat berada di atas kepala, sehingga darah mampu mengalir dengan sangat baik ke otak.

Dalam gerakan terakhir salat yaitu salam, ternyata juga mengandung manfaat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan fisik. Gerakan salam ke kiri dan ke kanan ternyata dapat merelaksasi otot yang berada di sekitar leher dan kepala. Saat melakukan salam di akhir salat, otot di sekitar leher dan kepala akan lebih rileks dan menyempurnakan aliran darah di kepala. Bahkan gerakan salam tersebut bisa mencegah sakit kepala dan menjaga kulit tetap kencang.

Dengan melihat berbagai manfaat ibadah bagi kesehatan psikologis dan fisik, tentu saja umat Islam hendaknya lebih gemar lagi untuk beribadah. Sebab ibadah ternyata tak hanya menghasilkan pahala dan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun juga bisa menjadi sarana untuk menjaga kesehatan tubuh.

Wallahu a’lam.