Nasihat Ulama, Tetaplah Menanam Pohon Meskipun Dahannya Cuma Dibuat Main Bunglon

Nasihat Ulama, Tetaplah Menanam Pohon Meskipun Dahannya Cuma Dibuat Main Bunglon

Nasihat Ulama, Tetaplah Menanam Pohon Meskipun Dahannya Cuma Dibuat Main Bunglon

Saya ingin mulai ulasan tentang 40 hadits hijau ini dengan membicarakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan lingkungan hidup terlebih dulu.

Beberapa pekan ini kita mendengar kabar bahwa tiktok shop ditutup. Sudah tidak ada lagi aktivitas jual beli di sosial media gubahan negeri Tiongkok tersebut. Saya tidak tahu persis tutupnya tiktok shop ini karena hasil kajian ahli atau desakan dari pedagang pasar tanah abang.

Tapi bukan ditutupnya tiktok shop itu yang jadi problem. Selepas tiktok shop tutup, protes kembali muncul dari pedagang pasar tanah abang, mereka meminta lokapasar lain juga tutup, karena konon ini mengganggu omset mereka.

Sejujurnya saya tidak begitu suka gagasan yang diutarakan teman-teman pedagang konvensional di pasar tanah abang ini, karena kok rasa-rasanya berlawanan dengan kaidah “al muhafadzah ‘ala qadim as shalih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah“. Kenapa demikian? Karena ada rasa mereka menolak sesuatu yang baik yang datang dari masa depan.

Meskipun tentu pemerintah tetap perlu menghadirkan solusi agar para pedagang ini tetap bisa bertahan di tengah gempuran era digital. Intinya pemerintah tetap perlu hadir.

*

Nah, selesai urusan soal tiktok shop, saya hanya ingin mengambil satu poin dari riak-riak gaduh fenomena sosmed untuk berjualan, yakni penerapan kaidah al muhafadzah ‘ala qadim as shalih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah ternyata penting kita implementasikan di berbagai sektor. Bahwa kita memang perlu untuk menyerap nilai keterbukaan pada sesuatu yang baru dari masa depan, lebih-lebih yang memiliki manfaat lebih, dan kita juga perlu merawat sesuatu yang baik dari masa lalu.

Salah satu hal yang penting dicermati agar kita bisa merawat sesuatu yang baik dari masa lalu adalah memahami masa lalu tersebut. Kalau bahasa motonya UGM adalah mengakar dalam, locally rooted. Kalau kita memahami masa lalu dengan baik, kita tidak akan mudah tercerabut. Dan di waktu yang sama kita terbuka pada kejutan-kejutan yang akan datang di masa depan, di sini diperlukan sikap keterbukaan.

Selain contoh fenomena tiktok shop, ada satu fenomena menarik lain yang membuat kita semakin perlu menerapkan kaidah ini. Nah fenoma ini lah yang baru ada hubungannya dengan lingkungan hidup.

Di daerah urban Serbia -itu tuh, negaranya back terbaik dunia, Nemanja Vidic-  mereka mengalami sebuah krisis udara bersih, mereka membutuhkan suplai oksigen yang banyak, sementara jumlah pohon di kota-kota urban Serbia terbatas. Tidak ada cukup pohon yang dapat mengolah polutan di udara menjadi oksigen karena lahan-lahan untuk menanam pohon baru sudah tertutup.

Tertutup dengan gedung pencakar langit, trotoar, dan bangunan-bangunan kuno. Sehingga hanya urusan menanam pohon, di sana sudah jadi problem. Lalu, adalah dia yang bernama Dr. Ivan, ia berinisiatif membuat liquid3 (red. Liquid Tree). Sebuah tabung berwarna hijau yang memiliki fungsi sama seperti pohon, menyerap CO2 dan polutan lain lalu melepaskan udara segar.

Dr. Ivan menggunakan kata advertising “pohon tanpa akar, batang, dan daun”. Hal ini karena sejatinya liquid3 adalah sebuah nama untuk produk hasil penelitian beliau tentang mikroalga yang dikemas dalam bentuk tabung. Tabung itu berkomposisi campuran antara air, mikroalga dan zat rahasia (mungkin ini makanan mikroalganya). Nah, disebut liquid3 karena fungsinya yang seperti pohon, yakni menyerap CO2 dan melepas O2.

Salah satu keunggulan utama dari liquid3 adalah ia dapat bekerja, memproduksi O2, layaknya pohon yang berusia 20 tahun. Proses yang setara 20 tahun ini dilakukan hanya dengan proses penanaman mikroalga selama satu hari.

Tentu ini kabar baik, apalagi dapat diduplikasi di kota-kota di Indonesia yang memiliki nasib serupa, yang kabar limbah polutannya sudah bejubel memenuhi rongga dada.

Lalu, pertanyaan masa depannya adalah apakah kita sudah tidak perlu menanam pohon di kota urban saat udara sudah dapat dibersihkan dengan cara “menanam” liquid3?

*

Kita dapat mengingat kaidah yang tertulis di muka untuk merespon pertanyaan ini. Pertama, bahwa kita dengan sekonyong-konyong menolak liquid3 adalah perbuatan konyol. Kalau memang liquid3 adalah solusi dari sebuah kota urban dengan kendala tidak memiliki lahan terbuka untuk menanam pohon tapi udaranya kotor, tentu ini adalah jalan keluar.

Namun, terlalu memuja masa depan dan mengatakan bahwa kalau sudah ditemukan liquid3, yang mana liquid3 ini sudah dapat mengatasi masalah udara kotor sehingga berkesimpulan tidak perlu lagi menanam pohon, ini juga masalah.

Pun saat teknologi seperti liquid3 semakin maju dan cemerlang, penelitian serupa dilakukan dan mendapatkan hasil yang lebih powerfull, urusan menanam pohon tetap perlu dilakukan. Seperti yang hadits ini sampaikan:

Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad saw. mengatakan, “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon kecuali bahwa apa yang dimakan dari apa yang ditanam itu merupakan amal sodaqohnya, apa yang dicuri dari itu merupakan amal sodaqoh, apa yang dimakan binatang dari itu adalah amal sodaqoh, dan apa yang dimakan burung dari itu adalah juga amal sodaqohnya. [Singkatnya] tidak ada kerugian baginya melainkan hal demikian itu adalah amal sodaqoh.” (Sahih Muslim 1552 a, Buku 22, Hadis ke 7)

*

Kalau kita menganggap pohon adalah sesuatu dari masa lalu, tapi saat pohon masih memiliki manfaat, ia harus tetap kita rawat dan tumbuhkan.

Dari hadits ini jelas sekali bahwa pohon manfaatnya itu bejibun. Pohon tidak hanya bermanfaat untuk mengkonversi udara kotor jadi bersih.

Lebih dari itu, pohon dengan segala bahan simpanan cadangan makannya dapat menjadi lahan sodaqoh bagi pemiliknya, meskipun hasil pohon itu diambil dengan cara dicuri.

Ini tentu menarik sekali, bahwa saat kita punya mangga menganga matang di depan rumah, lalu ada bajing, entah ini dalam wujud aslinya atau menjelma jadi manusia, tertarik dengan mangga itu dan sejurus ia mengambilnya, itu sudah membuat kita yang punya mangga mendapatkan ganjaran amal sodaqoh. Masyaallah luar biasa. Dan sekali lagi, pohon bisa menjadi penyebab kita bersodaqoh tanpa sengaja. Kan enak ya, kaya investasi tidak bodong. Nanti di akhirat tiba-tiba ada banyak kiriman amal yang kita sendiri tidak sadar kapan amal ini dilakukan.

Lebih dari itu, bahwa pohon bukan hanya soal konversi udara kotor, bukan hanya soal sedekah dari hasilnya, pohon juga termasuk tempat hidup beberapa makhluk.

Saat ada burung emprit membuat sarang di dahan pohon jambu air milik kita, bukankah kita sudah sedekah “lahan kos-kosan” untuk burung itu. Akhirnya ia dapat hidup, tumbuh, dan berkembang biak di sana. Saat ada bunglon bermain di dahan pohon kita, lalu ia senang, bukankah ini juga bentuk sodaqoh?

Sungguh memang, urusan pohon ini bisa berkali-kali membuat kita “tidak sengaja bersedekah”.

Jadi memang sudah tepat, masa lalu yang baik dengan masa depan yang lebih baik perlu untuk disinergikan. Tidak perlu lah kita menganggap bahwa yang lalu adalah yang terbaik, jangan seperti MU yang cuma bisa cerita masa lalu. Kita juga perlu menyambut masa depan dengan hati dan pikiran terbuka, seperti melihat cerahnya MU masa depan di bawah asuhan ten Hag. Sudahlah, percaya pada proses, pohon saja butuh puluhan tahun untuk bekerja optimal.

Wallahu A’lam