Musik dalam Peradaban Islam (3): Pemusik Islam Berjaya Masa Abbasiyah

Musik dalam Peradaban Islam (3): Pemusik Islam Berjaya Masa Abbasiyah

Di zaman Abbasiyah, musik islami begitu berjaya

Larangan para ahli fikih terhadap musik dan alat musik tidak berlaku efektif di Baghdad dibandingkan dengan yang terjadi sebelumnya di Damaskus. Salah satu buktinya bisa dilihat dari ketertarikan seorang penguasa Abbasiyah, al-Mahdi, yang mengawali kekuasaannya ketika Dinasti Umayyah kedua berakhir, pada bidang kesenian ini. Sejumlah riwayat menyatakan bahwa dia sering mengundang dan melindungi Siyath dari Makkah (739-785), “yang senandungnya lebih banyak memberikan nuansa kehangatan tinimbang mandi air panas, dan muridnya, Ibrahim al-Maushili (742-804), yang menjadi pengusung kedua musik klasik setelah gurunya.

Pada masa mudanya, Ibrahim, seorang keturunan bangsawan Persia, pernah diculik di luar Mosul dan selama masa penculikannya, dia mempelajari lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para penyamun. Dialah yang pertama kali mengenalkan cara pengaturan tempo dan ritme dengan sebuah tongkat kecil. Dikatakan bahwa dia bisa mendeteksi seorang gadis di antara tiga puluh pemain lute dan memintanya untuk memperbaiki senar kedua dari instrumennya yang terdengar fals. Lantas, Harun al-Rasyid menjadikan Ibrahim sebagai kawan setianya, memberinya hadiah sebesar 150.000 dirham, dan setiap bulan memberinya tunjangan sebanyak 10.000 dirham.

Tidak hanya Ibrahim yang merasakan kemurahan al-Rasyid, para pemusik lain pun sering mendapatkan hadiah sebesar 100.000 dirham untuk satu kali nyanyian. Ibrahim mempunyai pesaing yang lebih muda yaitu Ibn Jami’, seorang keturunan Quraisy dan anak tiri Siyath. Dalam penilaian buku ‘Iqd, “Ibrahim merupakan musisi yang sangat cakap memainkan instrumen musik, tetapi Ibn Jami’ lebih piawai mengolah nada.” Ketika seorang menteri istana dimintai pendapat oleh al-Rasyid tentang Ibn Jami’, dia menjawab: “Mana mungkin saya mendeskripsikan madu, yang selalu terasa manis, bagaimanapun engkau mencicipinya.”

Read More

Istana al-Rasyid yang telah  diperbaiki dan semarak sangat menyokong dan melindungi perkembangan musik dan nyanyian–sebagaimana yang mereka lakukan pada ilmu pengetahuan dan kesenian lainnya–sehingga istana menjadi pusat perkembangan dan perkumpulan para bintang musik. Fenomena para musisi yang mendapatkan gaji rutin dan selalu ditemani oleh para budak biduan, baik laki-laki maupun perempuan, memunculkan banyak anekdot yang terekam dalam Aghani, ‘Iqd, Fihrist, Nihayah, dan terutama dalam “Kisah Seribu Satu Malam”.

Khalifah mendukung dan memelopori penyelenggarakan festival musik tahunan yang dihadiri oleh tidak kurang dari ribu orang biduan dan musisi. Anaknya, al-Amin, juga menyelenggarakan malam hiburan serupa. Pada kesempatan semacam itu, seluruh anggota istana, lelaki dan perempuan, menari hingga fajar menyingsing. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketika pasukan al-Ma’mun menyerang Baghdad, al-Amin duduk bersandar santai di istananya di pinggir sungai Tigris sambil mendengarkan nyanyian biduan favoritnya.

Musisi kesayangan al-Rasyid yang lainnya adalah Mukhariq (w. 845), seorang murid Ibrahim. Di masa mudanya, Mukhariq dibeli oleh seorang penyanyi perempuan yang pernah mendengarnya menangis dengan suara nan merdu dan kuat di toko daging ayahnya. Ia kemudian menjadi milik Harun, yang membebaskannya, menghadiahinya 100.000 dinar, dan memberinya kehormatan dengan satu tempat duduk khusus di samping Khalifah. Suatu malam, ia pergi ke luar menyusuri sungai Tigris dan mulai menyanyi. Segera setelah itu, obor-obor bermunculan di jalan-jalan Baghdad, dibawa oleh orang-orang yang ingin mendengarkan nyanyian sang bintang.

Al-Ma’mun dan al-Mutawakkil mempunyai seorang teman minum, yaitu Ishaq ibn Ibrahim al-Maushili (767-850), guru para musisi yang seusia dengannya. Pasca ayahnya, Ishaq merupakan ahli musik Arab klasik yang mumpuni. Sebagai seorang musisi kondang, dia adalah “musikus terbesar yang pernah dilahirkan Islam.” Dia mengakui, seperti ayahnya dan Ziryab, bahwa yang mengarahkan melodi-melodinya adalah jin.

Mereka semua dan para jenius lainnya dari masa itu mendaptkan popularitas yang tidak pernah mati sebagai orang dekat khalifah melebihi kedudukannya sebagai musisi; mereka dianugerahi kemuliaan dan penghormatan yang tinggi serta diabadikan dalam bait-bait puisi terpilih, dan anekdot-anekdot yang menyenangkan.

Mereka adalah para penyanyi, komposer, penyair, dan para sarjana yang mendapatkan pendidikan yang baik pada masanya. Di bawah mereka, berderet para instrumentalis (dharib), dengan lute sebagai instrumen yang paling diminati; biola (rabab) banyak dimainkan oleh para pemusik yang lebih rendah tingkatannya. Tingkatan berikutnya ditempati oleh para biduanita (qainah), yang bernyanyi di balik tirai mengikuti aturan dan alunan nada tertentu. Para biduanita semacam itu tampaknya telah menjadi hiasan wajib untuk melengkapi para harem.

Karena itulah, pemeliharaan dan pelatihan para biduanita itu berkembang menjadi industri yang cukup penting. Misalnya, untuk seorang gadis yang telah dilatih oleh Ishaq, seorang utusan gubernur Mesir menawar 30.000 dinar, sama dengan harga yang ditawarkan utusan Kaisar Bizantium, dan seorang utusan penguasa Khurasan menaikkan tawaran hingga 40.000 dinar. Ishaq menyelesaikan masalah dengan membebaskan gadis itu dan menikahinya. [Bersambung]

Baca:

Musik dalam Peradaban islam (Bag-1)

Musik dalam Peradaban islam (Bag-2)