Muadz bin Jabal dan Cerita Isengnya Menjahili Penyembah Berhala

Ilustrasi Madinah

Muadz bin Jabal dan Cerita Isengnya Menjahili Penyembah Berhala

Muadz bin Jabal menyusun strategi iseng bersama beberapa pemuda yang telah masuk Islam lainnya untuk menghentikan si penyembah berhala.

Dalam sejarah Islam, penyebaran syiar Islam di Madinah bukan hanya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW seorang diri, tapi juga oleh para sahabat, salah satunya sahabat Muadz bin Jabal.

Muadz bin Jabal adalah seorang pemuda kota Yastrib (sekarang Madinah) yang terkenal cerdas, berkharisma, tampan dan juga gagah berani. Ia masuk Islam atas tangan duta pertama Rasul yang diutus untuk mensyiarkan ajaran Islam di Madinah, yaitu Mush’ab ibn Umair.

Setelah masuk Islam, Muadz menjadi penambah kekuatan yang memperkokoh Islam di Madinah, membantu penyebaran Islam, dan salah satu hal yang menarik adalah  ia memiliki jasa besar mengislamkan pemuka kafir Madinah yang terkenal saat itu, yaitu ‘Amru bin Jamuh.

Read More

Kisah kecerdasan Muadz bin Jabal  dalam mengislamkan ‘Amru bin Jamuh ini dikisahkan dengan apik dalam kitab Shuratu Hayatis Shahabah karangan Abdur Rahman Raf’at al-Basya.

Alkisah, ‘Amru bin Jamuh adalah pemuka kafir Madinah. Ia terlahir dari pembesar Bani Salamah. Selain itu ‘Amru juga menjabat sebagai kepala dusun dari Bani Salamah tersebut.

Selaku pemuka masyarakat non-muslim Madinah yang menyembah berhala dan patung-patung, ia membuat patung khusus untuk dirinya sendiri dari pahatan yang paling bagus nan indah. Patung itu ia lapisi dengan kain sutra dan setiap paginya disemprotkan parfum dan wewangian yang mahal harganya serta semerbak baunya. Ritual seperti ini ia lakukan setiap hari.

Mengetahui hal itu, Muadz menyusun strategi iseng bersama beberapa pemuda yang telah masuk Islam lainnya untuk menghentikan perilaku ‘Amru bin Jamuh. Strateginya adalah membuang patung yang ‘Amru bin Jamuh sembah itu ke tempat sampah yang ada di ujung perumahan warga kota Yastrib.

Rencana itu pun dilakukan pada malam hari saat ‘Amru tertidur pulas. Patung ‘Amru bin Jamuh  dipindahkan Muadz dan dibuang kedalam lubang yang banyak sampah yang bau dan kotor.

Keesokan harinya ‘Amru bin Jamuh  kaget melihat patungnya hilang dari tempatnya. Ia bingung kemana patung itu pergi. Selaku kepala dusun, ia memerintahkan masyarakatnya untuk membantunya mencari patung yang ia beri parfum setiap hari itu kesetiap tempat dan penjuru kota.

Setelah sekian tempat dicarinya, ia menemukan patung yang ia mulia-muliakan berada di sebuah tumpukan sampah dalam sebuah lubang. ‘Amru bin Jamuh marah besar melihat hal ini. Ia murka dan seraya berkata, “Sungguh akan celaka yang melakukan hal keji ini kepada Tuhan-ku. Sungguh biadab yang mereka lakukan semalam!”

Ia keluarkan patung yang ia tuhankan itu, membersihkannya kembali, dan menyemprotkan wewangian seperti biasa, melapisinya dengan sutra, serta menempatkan patung kesayangannya itu di tempat sedia kala seraya bergumam, “Wahai Manat (nama patung) Tuhan ku! Demi Engkau, jika aku tahu siapa yang melakukan ini pada mu, sungguh aku akan celakakan dirinya.”

Setelah ‘Amru beres membersihkan dan merapikan serta berdoa dengan patungnya itu, Ia kembali beristirahat. Ia lelah melakukan aktivitas yang mengganggunya hari itu. Ia pun terlelap dalam tidurnya.

Selang beberapa jam pada malam itu, Muadz bin Jabal dan sekawanannya melakukan kembali apa yang ia perbuat di malam sebelumnya. Mengambil patung ‘Amru bin Jamuh  dan membuangnya di lubang pembuangan sampah ujung perumahan warga kota Yastrib.

Pagi harinya, ‘Amru kembali dikagetkan dengan kejadian yang sama pada hari kemarin. Patung yang ia sembah hilang. Ia pun kembali mencari patungnya dan menemukannya kembali di tempat yang sama, yaitu di lubang pembuangan sampah di ujung perumahan warga kota Yastrib. Dan kali ini ia benar-benar marah dan bersumpah akan membalas dengan perbuatan keji terhadap orang yang melakukan hal ini kepadanya.

‘Amru bin Jamuh  kembali mengambil patungnya, membersihkan dan merapihkan dengan sutra dan parfum seperti sedia kala.

Tanpa puas dan bosan Muadz kembali melakukan hal itu berkali-kali saban hari. ‘Amru pun merasa bosan kesal dengan hal yang terjadi kepada dirinya karena ia harus berkali-kali pergi ke tempat sampah lalu turun ke lubang yang menjijikkan dan jorok untuk mengambil patungnya. Sampai akhirnya ia sangat kesal, kali ini ia kesal bukan terhadap pelaku perbuatan itu, tapi ia kesal terhadap patungnya.

Kala ‘Amru membersihkan patungnya yang kesekian kali setelah ia ambil dari lubang sampah, ia bukan hanya membersihkan dengan kain sutera dan wewangian, tapi juga ia menyelipkan sebuah pedang di badan patungnya itu, seraya berkata, “Wahai Tuhan! Aku sungguh tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan keji kepada-Mu beberapa hari belakang ini. Aku sungguh capek dan bosan. Kalau memang Engkau Maha Benar dan Maha Kuat, ini pedangku. Silahkan kau lindungi dirimu sendiri.”

Pergilah ‘Amru bin Jamuh dan kembali tidur. Muadz bin Jabal  kembali melakukan perbuatanya itu lagi. Muadz kaget ketika ia mau memindahkan patung dan membuangnya ke tempat biasanya, di badan patung ada sebuah pedang. Maka Muadz ambil pedang itu, lalu ia tancapkan ke leher seekor anjing sampai mati dan membuang bangkai anjing yang tertancap dengan pedang bersama patung tersebut.

Keesokan harinya ‘Amru bin Jamuh kembali mencari patungnya ke tempat pembuangan sampah. Ketika ia menemukan patungnya, ia kaget karena patungnya berada di lubang bersamaan dengan bangkai anjing yang di lehernya tertancap pedang. Dan akhirnya ia sadar bahwa patung itu bukanlah Tuhanya. Lantas ‘Amru bin Jamuh  melantunkan syiir melihat kejadian ini:

“Demi Tuhan! Sungguh kalau kau benar tuhan ku (patung) # tidak akan mungkin kau berseteru dengan anjing sampai berada dalam satu tempat sampah”

Akhirnya ‘Amru bin Jamuh masuk Islam dengan penuh keimananan atas kesadarannya bahwa Tuhan tidak akan mungkin berseteru dan bertengkar dengan seekor ajing dan ia juga sadar bahwa tuhan bukanlah zat yang perlu dilindungi karena sejatinya ia zat yang maha melindungi. Itulah kecerdasan Muadz dalam mengIslamkan ‘Amru bin Jamuh .

Wallahu ‘Alam bisshawab