Mengapa Rasul Mempersaudarakan Muhajirin dan Ansor?

Ilustrasi: Freepik

Mengapa Rasul Mempersaudarakan Muhajirin dan Ansor?

Salah satu langkah yang dilakukan Rasulullah adalah mempersaudarakan para sahabat Ansor dan Muhajirin.

Setelah proses hijrah yang panjang dan penuh dengan rintangan, Rasulullah berhasil menduduki Madinah. Salah satu langkah yang dilakukan Rasulullah adalah mempersaudarakan para sahabat Ansor dan Muhajirin.

Langkah ini sebelumnya tidak pernah ada dalam sejarah manusia di belahan dunia mana pun. Sebaliknya sejarah selalu menggambarkan pendudukan masyarakat akan disertai dengan penguasaan, penindasan dan bahkan permusuhan antara pendatang dengan penduduk setempat.

Proses persaudaraan antara Muhajirin dan Ansor yang dilakukan oleh Rasul SAW merupakan tanda-tanda paling jelas tentang keadilan kemanusiaan dan akhlak membina dalam Islam. Muhajirin merupakan golongan yang meninggalkan harta dan tanah mereka demi jalan Allah. Mereka datang ke Madinah tanpa memiliki bekal yang mencukupi untuk transmigrasi.

Read More

Sementara itu, Ansor merupakan kaum yang kaya dengan hasil tanaman, harta dan perusahaan mereka. Oleh karena itu, seseorang saudara perlu menanggung saudaranya. Dia bekerja sama dengan saudaranya dalam kesenangan dan kesusahan hidup. Dia juga menempatkan saudaranya di rumahnya selagi rumahnya lapang untuk mereka berdua. Dia memberi separuh hartanya, kepada saudaranya selagi mana dia tidak memerlukannya dan serba cukup.

Apakah ada keadilan sosial di dunia ini yang menyamai kedudukan persaudaraan ini?  Mereka yang tidak mengakui dalam Islam ada keadilan sosial, merupakan golongan yang tidak mau cahaya Islam mengejutkan pandangan orang ramai dan menguasai hati mereka. Boleh jadi mereka merupakan golongan yang berpemikiran rigid dan membenci setiap perkataan baru walaupun ia disukai oleh manusia.

Dalam Islam terdapat bukti keadilan sosial ini. Bagaimana keadilan sosial dalam Islam dapat dinafikan sedangkan peristiwa persaudaraan yang unik ini terdapat dalam lipatan sejarah? Persaudaraan ini dilakukan oleh pendukung syariah, Nabi Muhammad Saw sendiri. Di atas asas-asas persaudaraan inilah Rasulullah menegakkan masyarakat.

Dalam piagam bertulis yang ‘dimateraikan’ oleh Rasul saw., terkandung dasar persaudaraan antara Muhajirin dan Ansor. Terdapat juga dasar kerjasama antara muslim dan non-muslim. Ini merupakan bukti yang tidak boleh disangkal. Bukti bahwa dasar keadilan sosial adalah asas tegaknya negara. Sementara asas hubungan muslim dengan non-muslim adalah hidup aman damai selagi mereka bersikap baik dan tidak mengancam ketenteraman negara.

Prinsip kebenaran, keadilan, kerjasama dalam kebajikan dan taqwa, bekerja untuk kebaikan manusia serta menolak penindasan golongan masyarakat jahat pula merupakan slogan-slogan yang paling tertonjol digaungkan oleh negara madinah. Demikianlah prinsip negara di mana saja ia berdiri, juga pada zaman apa ia terbentuk. la berdiri di atas prinsip-prinsip paling unggul dan paling adil.

Pada hari ini, prinsip-prinsip tersebut bertepatan dengan prinsip paling mulia yang membentuk negara juga menaungi manusia. Pada zaman kita ini, usaha untuk menegakkan negara dalam masyarakat Islam yang berpandukan prinsip-prinsip Islam merupakan usaha yang seiring dengan perkembangan pemikiran manusia berkenaan definisi negara.

Selain itu umat Islam akan berjaya merealisasikan pembinaan masyarakat yang paling kuat, paling sempurna, paling bahagia dan paling progresif. Walau apapun situasi yang berlaku, adalah menjadi maslahah kepada kita untuk memastikan negara dibina di atas asas-asas Islam. Mengabaikan kemaslahatan ini berarti kita berhadapan dengan kerusakan dan kebinasaan Islam.

Dalam negara yang dibentuk oleh Rasulullah tersebut juga digambarkan bahwa negara tidak boleh menindas akidah mereka yang berbeda, juga tidak mengurangkan hak-hak mereka. Islam mengandung keadilan, kebenaran, kekuatan, persaudaraan dan jaminan sosial yang menyeluruh di atas asas persaudaraan, kasih sayang dan kerjasama yang mulia? Kita tidak akan dapat membebaskan diri dari penjajahan melainkan dengan seruan Islam.

Wallahu a’lam.

 

Artikel ini diunggah ulang dari artikel sebelumnya yang berjudul, “Belajar dari Persaudaraan Muhajirin-Anshar