Membayangkan Narasi Penindasan Palestina di Media Sosial Jadi Gerakan Massa yang Membesar

Membayangkan Narasi Penindasan Palestina di Media Sosial Jadi Gerakan Massa yang Membesar

Membayangkan Narasi Penindasan Palestina di Media Sosial Jadi Gerakan Massa yang Membesar
Source: https://madmimi.com/s/dd0999

Empati dan simpati atas penderitaan masyarakat Palestina terus menggema. “Free Palestine” menjadi viral dan trending topic di media sosial. Selain kemanusiaan, keberpihakan pada Palestina dikonstruksi lewat narasi dan isu perlawanan dan keprihatinan. Keduanya dikonstruksi bersamaan.

Media sosial dan budaya populer, hari ini, berperan besar mendedahkan isu dan mengekspresikannya di masyarakat kita. Berita, foto, hingga video kondisi pengungsi Palestina beredar luas, bahkan bendera dan tagar (tanda pagar) Palestina menjadi foto profil hingga penghias layar gawai. Kaus, kain surban khas, hingga mural pun terkait Palestina pun turut dihadirkan. Mungkin masih segar dalam ingatan kita, viralnya semangka beberapa waktu lalu.

Dengan semua itu, kita mengklaim memiliki kepeduliaan besar atas penderitaan masyarakat Palestina.

Dulu cerita penindasan dan kekerasan yang dialami masyarakat Palestina kita dapati dari media arus utama atau ceramah para pendakwah. Wajah Palestina dikonstruksi lewat budaya populer dan media sosial yang kita konsumsi tentu belum pernah semassif hari ini.

Informasi terkait Palestina yang kita konsumsi hari ini memang lebih banyak beredar di media sosial dan media arus utama, seperti koran dan televisi. Menariknya, di isu Palestina, kita terlihat lebih banyak berperan sebagai pemirsa aktif, ketimbang pasif. Benarkah demikian?

***

Tanah Palestina terus bergejolak dari sekian dekade. Palestina dijajah dan ditindas. Seruan untuk membela kemerdekaan Palestina sebagai negara berdaulat terus disuarakan. Selain itu, perlawanan penindasan dan kekerasan yang dialami masyarakat Palestina juga turut menggema di dalamnya.

Perjuangan atas nama kemerdekaan dan pembebasan tersebut disatukan dari informasi yang disebarkan. Kala kita mendapatkan informasi tersebut dari media, khususnya televisi dan media sosial, di saat itu kita berperan sebagai pemirsa.

Walaupun di media sosial tidak dikenal kosa kata “pemirsa,” namun warganet memiliki peran serupa dalam mengonsumsi informasi yang sama dengan media arus utama.

Kemiripan antara warganet atau netizen dengan pemirsa media dalam mengonsumsi informasi media sosial, yakni mereka tidak hanya sekedar pelengkap kultural belaka tapi juga sebagai pencipta makna aktif dari konteks kultural mereka sendiri. Menonton atau mengonsumsi linimasa media sosial tidak selalu bermakna pasif, di mana mereka dianggap bisa menerima pesan yang disebarkan di televisi.

Sedangkan, paradigma pemirsa atau netizen tidak dapat dipandang sebagai massa homogen. Mereka bukan kumpulan individu yang terisolasi. Menonton televisi atau linimasa media sosial adalah kegiatan sosial dan kultural yang berkaitan dengan makna.

Kala netizen dan pemirsa berinteraksi dengan tontonan, di saat bersamaan mereka juga merupakan pencipta makna. Netizen dan pemirsa memiliki standar kultur dan sosial yang berbeda-beda, yang dapat mempengaruhi proses penciptaan makna. Oleh sebab itu, makna dari informasi memiliki multibentuk (polisemik).

Dalam proses menonton dan mengonsumsi informasi di televisi dan media sosial, pemirsa dan netizen tidak saja menonton atau mengonsumsi pasif, malah aktif. Di titik inilah, kita bisa memahami informasi terkait Palestina, termasuk perihal penjajahan dan penindasan, jelas memiliki ruang bagi pemirsa dan netizen dalam menciptakan maknanya.

***

Konten-konten media sosial dan produk budaya pop disebut di atas adalah produk dari penciptaan makna dari tontonan pemirsa dan netizen. Kita sebagai penonton dan pemirsa adalah pencipta makna atas informasi terkait Palestina.

Makna polisemik atau keberagaman makna atas berbagai informasi terkait Palestina sangat mungkin menjadi tantangan tersendiri, khususnya di ranah pembentukan opini dan memori kolektif.

Akhirnya kita pun bertanya, mungkinkah narasi penindasan dan penjajahan di Palestina berubah menjadi gerakan massa?

Respon kita atas kekejaman Israel bisa jadi sulit disatukan dan berubah menjadi gerakan massa, karena kita tidak memiliki keseragaman opini dan sikap. Narasi boikot atas di ruang publik sebagai senjata untuk melemahkan kekuatan Israel saja masih terlihat sulit dan problematis. Namun, Apakah kemudian keprihatinan kita atas nasib masyarakat Palestina bisa dinilai rendah?

Mungkin saja. Untuk itu, kita ditantang untuk selalu mempertanyakan apakah aksi-aksi kita selama ini bisa berdampak dalam pembentukan opini atau malah mengambang atau menguap begitu saja. Keprihatinan yang dibangun lewat media, dalam hal ini media arus utama dan media sosial, jelas memiliki tantangan sendiri, termasuk kita sebagai pemirsa dan netizen memiliki keleluasaan aktif dalam menfsirkan makna yang dihadirkan dalam informasi, dalam hal ini Palestina.

Ajakan untuk penolakan, perlawanan, dan bersikap atas kekejaman Israel atas penduduk Palestina tidak boleh surut. Namun, membentuk opini masyarakat luas yang berujung pada gerakan massa jelas perlu usaha lebih keras dari sekedar membagikan atau membuat konten. Kalau tidak, perjuangan atas nama kemanusiaan di ranah media sosial pun hanya berujung kesia-siaan.

Apalagi di ranah media sosial juga dapat berujung pada aksi Slacktivism, di mana warganet tidak memerlukan usaha keras dan keterlibatan aktif kala berhadapan dengan isu atau narasi sosial. Kita cenderung mengklik atau memencet tombol suka tanpa sepenuhnya memahami isu tersebut. Kita cenderung terlibat dengan emosi dan nalar yang minim.

Perjuangan kita untuk turut berkontribusi atas pembebasan Palestina berada di level yang berbeda, dari apa yang selama ini kita lalui. Untuk itu, keterlibatan tentu juga menuntut kita untuk berbuat lebih, beraksi lebih keras, dan bersuara lebih lantang. Pastinya kita perlu bersuara sama dengan frasa populer di masyarakat Wales, “Yma o Hyd,” yang berarti kita masih disini.

Fatahallahu alaina futuh al-arifin