Mariyah al-Qibtiyah, Membuat Cemburu Para Istri Rasulullah SAW

ilustrasi

Mariyah al-Qibtiyah, Membuat Cemburu Para Istri Rasulullah SAW

Mariyah al-Qibtiyah adalah Istri Rasul yang berasal dari Mesir. Kedatangannya membuat cemburu para istri Rasul yang lain.

Rasulullah SAW dengan perangainya yang elok berhasil membuat kagum banyak orang. Tak hanya orang – orang Arab, setelah Rasul berhasil menyelesaikan konflik di Madinah dan membesarkan nama Islam di sana, Rasul semakin terkenal di dunia internasional. Banyak orang dari luar Madinah datang untuk berkunjung menemui Nabi atau bahkan hanya untuk ikut sholat berjamaah. Begitupun kerajaan-kerajaan lain, juga turut menjalin kerjasama ekonomi dengan Rasul.

Dengan segala prestasi Rasul di dunia Islam, wajar bila banyak perempuan yang ingin menjadi pendamping hidup.  Memang dalam Islam tidak ada istilah kasta. Tetapi ketika sudah menjadi istri Nabi, status sosial mereka tentu saja berubah. Tidak lagi sebagai perempuan biasa, tetapi perempuan istimewa yang mendapat akses khusus untuk berkomunikasi dengan sang Rasul. Pun menjadi ibu dari orang mukmin. Sangat elegan, bukan?

Namun hal itu mungkin tak pernah terbersit di pikiran Mariyah, budak Mesir yang jauh dari nuansa Islam. Ia lahir di desa Hufn, daerah Ansina, Mesir. Orang tuanya adalah penganut agama Katolik. Saat dewasa, Mariyah dipekerjakan kepada Raja Muqauqis bersama saudarinya Shirin. Hingga pada akhirnya ia menjadi kado yang dikirimkan kepada Rasulullah melalui Hatib bin Abi Balta’ah.

Read More

Pada tahun 6 SH, Rasulullah menulis surat kepada para penguasa Timur Tengah agar masuk Islam. Surat itu dikirimkan oleh kurir bernama Hatib bin Abi Balta’ah. Sesampainya di Mesir, Hatib disambut baik dengan raja Muqauqis. Ia justru memberikan Hatib dua budak wanita, hadiah, dan surat sebagai ungkapan maaf bahwa ia belum bersedia memeluk Islam. Dua budak itu tidak lain adalah Mariyah dan saudarinya Shirin.

Mariyah tidak banyak bicara selama perjalanan ke Madinah. Jarak Madinah dan Mesir yang jauh juga mungkin menjadi luka tersendiri di hati Mariyah. Hatib rupanya memahami kegelisahan perempuan itu dan banyak bercerita tentang Islam berikut utusannya, Muhammad. Tanpa butuh waktu lama, berangkat dari modal keyakinan dari cerita Hatib, Mariyah kemudian memeluk Islam.

Ketika mereka sampai di Madinah, Rasul menikahi Mariyah dan memberikan Shirin kepada Hassan bin Tsabit. Setelah menikah, Nabi menempatkan Mariyah di rumah Haritsah binti Nu’man selama satu tahun. Dan selama itu pula Nabi memperlakukan Mariyah dengan begitu istimewa hingga istri Nabi yang lain menjadi cemburu, apalagi Aisyah dan Hafsah.

Bagaimana Nabi tidak memperlakukan Mariyah dengan istimewa, At-Thabari dalam kitab Tarikhul Umam Wal Mulk mendefinisikan Mariyah sebagai perempuan yang salehah. Lebih banyak lagi, Ibnu katsir dalam alBidayah wa anNihayah menyebut Mariyah sebagai wanita yang budiman dan dermawan.

Al-Baladziri menceritakan bahwa Mariyah mewarisi kecantikan ibunya sehingga memiliki kulit yang putih, berparas cantik, berpengetahuan luas, dan berambut ikal. Apalagi ia nanti juga akan melahirkan putra setelah kematian putra putri Khadijah.

Akan tetapi, sumber yang lebih awal seperti catatan Ibnu Hisyam dalam Sirah Ibnu Ishaq menuturkan bahwa Mariyah tidak dikategorikan sebagai istri, melainkan sebagai selir  dan tetap mendapatkan gelar kehormatan Ummul Mu’minin.

Perlakukan istimewa itu membuat istri Nabi yang lain cemburu. Hafsah memergoki Nabi dan Mariyah berduaan dalam sebuah ruangan di rumahnya sehingga ia menunggu lama di luar. Memang tidak salah jika Nabi melakukan hal yang demikian mengingat Nabi adalah suami sah Mariyah. Namun karena beliau memahami perasaan Hafsah, Nabi kemudian memutuskan untuk mengharamkan Mariyah atas dirinya.

Berita pengharaman Mariyah terhadap Nabi itu ternyata diceritakan Hafsah kepada Aisyah. Atas berita ini, turun sebuah wahyu, “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri – isterimu ? Dan Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang (QS At Tahrim : 1) Ayat ini kemudian berlanjut dengan cerita antara Hafsah dan Aisyah yang tengah cemburu kepada Mariyah.

Dengan turunnya wahyu itu, Mariyah menjadi semakin tidak nyaman dengan istri – istri Nabi yang lain. Hal ini semakin diperparah dengan adanya kabar bahwa Mariyah tengah mengandung putra Nabi. Untuk menghindari konflik yang berkepanjangan di antara Ummul Mu’minin, Mariyah kemudian dipindah ke utara kota Madinah, ke daerah yang disebut Aliya dan sesekali Nabi pergi mengunjunginya.

Di rumah barunya yang jauh dari kediaman istri Nabi yang lain, lebih tepatnya pada bulan Dzulhijjah tahun 629 M, Mariyah melahirkan seorang putra bernama Ibrahim. Rasulullah mengaqiqahkan Ibrahim dengan menyembelih dua ekor domba, mencukur rambut Ibrahim, dan bersedekah kepada fakir miskin.

Dengan perasaan yang begitu gembira, Nabi kemudian mengenalkan Ibrahim pada Aisyah sambil berkata “Lihatlah, betapa miripnya ia denganku.” Aisyah lalu menjawab dengan cemburu, “Dia tidak punya kemiripan denganmu.”

Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.” Aisyah masih tetap cemburu.

Di usia ke delapan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit. Hingga pada suatu malam ketika Ibrahim mengalami sakratul maut, Nabi berkata “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.” Tanpa sadar air mata Nabi bercucuran. Tentu kabar ini adalah kabar duka yang mendalam untuk Nabi dan Mariyah. Bayi Ibrahim ini kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi.

Selang 5 tahun kematian putranya, Mariyah kemudian dikejutkan dengan kematian suaminya, Muhammad SAW. Setelah itu, ia bertekad untuk menyendiri dan menujukan hidupnya untuk Allah semata. Pada tahun 637 M, Mariyah dikabarkan wafat dan dishalatkan oleh khalifah Umar bin Khattab. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi bersama putranya.

Wallahu A’lam.

 

Sumber Bacaan:

Ṭabarī, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk.

Ibn Saʿd, al-Ṭabaqāt al-Kubrā.

Ibn Kathīr, al-Bidāya wa anNihāya.

Ibnu Ishaq, translation by A. Guillaume. 1955. The Life of Muhammad. Oxford University Press.