Malik Bennabi: Pengumandang Pekik Peradaban Al-Jazair

Malik Bennabi: Pengumandang Pekik Peradaban Al-Jazair

Bennabi pernah memekikkan pernyataan yang amat berani pada negerinya, “Hai bumi yang tidak bertanggung jawab, kau beri makan orang asing dan kau biarkan anak-anakmu kelaparan, saya tidak akan kembali kepadamu, jika kau tidak merdeka dan bebas”.

Malik Bennabi: Pengumandang Pekik Peradaban Al-Jazair

Malik Bennabi adalah sosiolog Muslim sekaligus pengkritik orientalisme, jauh sebelum Edward Said. Kepergiannya pada Oktober 1973 meninggalkan artefak adiluhung berupa pemikiran revolusioner ihwal peradaban dalam ingatan masyarakat Aljazair. Tanggal wafatnya, secara resmi diperingati sebagai hari berkabung di Aljazair dan Libya.

Suatu hari, pada tahun 1939, ia memekikkan pernyataan yang amat berani pada negerinya, “Hai bumi yang tidak bertanggung jawab, kau beri makan orang asing dan kau biarkan anak-anakmu kelaparan, saya tidak akan kembali kepadamu, jika kau tidak merdeka dan bebas”.

Pekik getir itu memaksa Bennabi beranjak dari tanah kelahirannya sebelum Perang Dunia II. Ia dilahirkan di bekas koloni Perancis, Aljazair tahun 1905. Ia senantiasa risau kala memikirkan kondisi tanah kelahirannya yang terus menerus dipenjara hegemoni Perancis dari 1830 sampai 1962.

Peradaban dalam Pemikiran Bennabi

Serupa Khaldun, Bennabi menaruh perhatian besar pada kajian peradaban bukan sebagai rangkaian peristiwa, tetapi sebagai suatu fenomena, analisis yang mengantarkan kita pada hukum-hukumnya. Dengan kata lain, peradaban dalam tilikannya itu bukan hanya dilihat sebagai kronik khas sejarah, melebihi itu ada fenomena yang mesti dianalisis menggunakan berbagai peluang riset ilmiah.

Kebutuhan analisis ini dirasakan betul bagi Bennabi untuk mendiagnosa sebab-sebab kemunduran suatu umat, khususnya di negerinya sendiri. Hal ini dilakukan Bennabi sebagai suatu cara paling prinsipil dalam usaha memajukan umat Muslim. Bennabi menggali potensi yang selalu mengendap dari setiap umat Muslim untuk bangkit di bawah hegemoni Barat ketika itu.

Melalui keterampilan analisis sosiologi yang dimiliki, Bennabi menegaskan bahwa kesalahan konsepsi telah membantu keruntuhan kaum Muslim secara gradual. Bennabi melihat, kaum Muslim salah menyimpulkan bahwa karena mereka Muslim dan Islam merupakan jalan hidup (way of life) yang benar dan sempurna, maka dengan sendirinya masyarakat mereka juga sempurna.

Sikap semacam itu, baginya, telah mengantarkan pada penolakan terhadap isu-isu serius dan menghindari otokritik dan rekonstruksi. Sehingga dari sini lah ia berpendapat bahwa kemunduran kaum Muslim tidak mesti dinisbatkan kepada Islam, tetapi perilaku pengikutnya. Padahal Islam telah mendorong akal dan penyelidikan, dan telah mampu menggerakkan pengikutnya menciptakan peradaban yang besar.

Bennabi pun mengkritik beberapa pembaharu maupun modernis yang telah mengabaikan dua kenyataan mendasar. Pertama, kaum muslim tidak kehilangan keyakinan mereka, tetapi gagal melakukan fungsi sosialnya. Kedua, peradaban tidak dapat diciptakan hanya dengan mengimpor gagasan modern dan sistem peradaban lainnya (Dr. Fawzia Barjun, Malik Bennabi: Sosiolog Muslim Masa Kini).

Dari kritik ini lah, Bennabi kemudian menurunkan teori skematisasi tiga tangga peradabannya yang mencakup tangga spiritual, tangga rasional, dan tangga naluri. Tangga spiritual, ketika manusia berada pada tangga fitrahnya, demikian Bennabi berteori, diarahkan terutama oleh insting alamiahnya. Ketika gagasan spiritual atau agama muncul, maka gagasan spiritual dan agama menundukkan dan menekan insting manusia, ini tidak berarti insting dihilangkan, sebaliknya akan dituntun pada suatu hubungan fungsional terhadap agama.

Orang-orang yang berada dalam situasi demikian, dibebaskan dari kondisi alamiahnya, sementara potensi spiritual mengontrol kehidupan mereka. Dalam konteks demikian, tangga spiritual ibarat jiwa bagi sebuah peradaban. Ketika jiwa itu hilang, peradaban akan runtuh.

Kedua, tangga rasional. Pada tahap ini, lahir kepentingan-kepentingan dan tantangan-tantangan baru yang merangsang kemampuan dan kreativitas masyarakat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan seni yang terkontrol oleh akal sehat mengantar masyarakat mencapai puncak siklus peradabannya.

Ketiga, tangga naluri. Suatu periode yang ditandai dengan kelemahan dan kekacauan. Periode ini merupakan suatu realitas ketika masyarakat menggunakan nalurinya secara bebas, ketika akal kehilangan fungsi sosialnya, karena manusia telah kehilangan tensi keimanannya. Di titik ini lah, sebagaimana siklus peradaban berakhir, masyarakat akan masuk pada masa gelap sejarah.

Untuk mengantisipasi terjadinya kekacauan dalam masyarakat, Bennabi kemudian mengajukan suatu proyek kebudayaan sebagai agen kausatif dalam peradaban. Bennabi tidak hanya menganalisis suatu keruntuhan peradaban, ia juga mengajukan modifikasi-modifikasi penting, terutama menyangkut realisasi terhadap peran kebudayaan.

Bennabi ingin mengetengahkan apa yang ia sebut sebagai pedoman umum proyek kebudayaan. Dalam pedoman ini, ia menekankan empat unsur penting, yaitu konstitusi moral, rasa keindahan, logika terapan, dan teknik. Moral dan etika menduduki tempat penting dalam proyek kebudayaan. Dalam teorinya, Bennabi dengan cermat menilai bahwa etika dapat mengontrol struktur dunia individu. Di sinilah moral, sebagai fungsi sosial agama selalu menjadi prasyarat pembangunan nyata.

Karena aktivitas peradaban melibatkan kreativitas, maka orientasi seni juga penting bagi pembaharuan kebudayaan. Bagi Bennabi, suatu gagasan adalah gambar-gambar yang bermakna, yang dibangun oleh interaksi yang indah antara warna, suara, bau, gerak, dan bentuk. Tanpa rasa keindahan, muskil suatu gagasan dapat diterima dan terealisasi dengan baik untuk memobilisasi masyarakat menciptakan peradaban.

Pembaharuan kebudayaan juga bergantung pada logika terapan. Bagi Bennabi, logika terapan berarti menciptakan pemikiran empiris. Pemikiran terapan telah memberikan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan bagi pembangunan. Logika terapan pada dasarnya mengisyaratkan berpikir sistematis, kehendak manusia, kepercayaan diri dan perencanaan.

Usaha yang digunakan oleh pemikiran terapan dalam kehidupan nyata ini kemudian disebut sebagai teknik. Bennabi menekankan pentingnya pelatihan teknik sebagai salah satu sarana untuk membentuk kehidupan. Dengan logika terapan, kemampuan-kemampuan teknik dapat memajukan perencanaan, manajemen dan penyempurnaan kerja. Semakin banyak teknisi dan ahli yang menyumbang ke masyarakat, perencanaan bagi pembangunan akan maju dan berhasil.

Dengan demikian, pedoman umum proyek kebudayaan ini akan terus kontekstual untuk menjadi rujukan dalam membangun suatu peradaban. Bennabi dengan teori peradabannya unjuk keberpihakan untuk kemerdekaan negerinya. Suatu realitas yang telah lama didambakan masyarakat Aljazair kala itu.

Melalui Bennabi, publik sadar bahwa peradaban tidak dapat tercipta dalam waktu singkat. Perlu persiapan yang begitu lama meliputi segala lini praksis. Cita-cita peradaban akan menjadi kenyataan utopis jika dimensi ‘kelayakan untuk dijajah’ masih menubuh pada diri suatu bangsa. Semoga tidak.

 

 

Daftar Pustaka :

Fawzia, Malik Bennabi ; Sosiolog Muslim Masa Kini, Penerbit Pustaka, Bandung, 1998

Khaldun Ibnu, Muqaddimah, Wali Pustaka, Bandung, 2019