Lo Islam Bukan? Yaudah Takbir, Kok Buat Apa, Kafir Lo

Lo Islam Bukan? Yaudah Takbir, Kok Buat Apa, Kafir Lo

Rasialisme terjadi dan dialami Eko ketika ditanya agama apa dan dikafirkan, kita terbiasa menormalisasi kebencian

Lo Islam Bukan? Yaudah Takbir, Kok Buat Apa, Kafir Lo

Judul di atas adalah ucapan seseorang yang mengaku jawara dan mempersekusi pria bernama Eko di Pondok Pinang (10/12). Eko adalah kader Banser Depok yang hendak bertugas mengawal pengajian Gus Muwafiq. Entah apa alasannya, tiba-tiba ia dipepet dan disuruh berhenti hingga peristiwa ditanya-tanyain-dikafir-kafirin–itu pun terjadi.

Sontak, peristiwa ini pun menjadi perbincangan publik dan banyak menyesalkan hal itu bisa terjadi. Publik pun dibuat geram, kok bisa-bisanya kata kafir, makian, rasissme diobral sedemikian rupa untuk menyudutkan seseorang yang dianggap berbeda sedemikian rupa. Apalagi hal itu dilakukan sambil divideokan seolah-olah ingin memberitahu publik bahwa ia telah ‘menangkap’ seorang kafir di jalanan. Rasisme dan kebencian ini ternyata adi di sekitar kita.

Lalu, kita lantas bertanya, ppakah hal ini terkait dengan politik? Entah. Atau terkait ceramah Gus Muwafiq yang dipelintir menjadi sebuah kebencian (hatespin)? Bisa jadi.. Sudah banyak argumen yang menyebutkan bahwa tuduhan kafir secara teologis kepada sesama muslim itu berat konsekwensinya dan bisa jadi berbalik ke arah si penuduh.

Tapi, dari fenomena ini kita bisa menarik analisis yang terkait fenomena yang memang terjadi di sekitar kita. Yakni ketika orang lain yang berbeda pandangan terkait dengan persoalan agama akan langsung dilabeli sebagai kafir dan ini masalah serius. Apalagi, jika suatu kelompok menganggap kelompok lain salah, bahkan telah kafir dan sesat.

Tentu masih segar dalam ingatan kita efek politik pilpres lalu yang mengubah banyak hal di masyarakat kita ketika suatu kelompok menghina dan mencaci maki kelompok lain hanya karena berbeda pilihan calon presiden dan wakil presiden dianggap biasa saja.

Normalisasi kebencian di tengah masyarakat kita ini tentu bisa jadi api dalam sekam, apalagi kita masih satu koridor berbangsa dan lebih buruk lagi: satu agama. agresi. Perilaku agresi ini bukan sekadar fisik belaka, tapi ada yang sifatnya agresi verbal hanya dalam konteks kontak fisik. Ada banyak sekali macam perilaku agresi, termasuk agresi verbal. Wujud dari agresi verbal bisa jadi ini adalah menghina, mencaci maki, fitnah, ujaran kebencian, dan sejenisnya.

Dalam lanskap kekinian, perilaku ini justru mulai banyak ditemui dalam kehidupan dan kita seolah mengganggapnya sebagai hal yang wajar saja. Normalisasi kebencian ini yang harusnya dilawan dan tidak boleh dibiarkan. Kelak, kita bisa membayangkan, di level tertentu akan terjadi normalisasi kekerasan sebagai langkah lanjutan dari upaya normalisasi kebencian.

Dalam video itu juga terdapat pelbagai umpatan dan bentuk ucapan verbal rasial seperti ‘betawi’ bahkan umpatan-umpatan. Ketika Eko enggan disuruh takbir dan menimpali dengan pernyataan bahwa syahdat sudah cukup untuk seorang muslim, justru oknum tersebut menyanggah dan tambah naik pitam tentu saja.

“Syahadat itu kalau buat bukan yang dari Islam. Lo enggak usah ngajar-ngajarin gue, lo,” tambah oknum itu.

Tiba-tiba saya teringat guyon Gus Dur tentang Kafir. Anda tahu, ia adalah tokoh yang paling sering dikafirkan. Dan ia tidak masalah terkait itu. Tapi, yang jengkel justru murid-murid sahabat beliau yang geram.

“Gus, ada yang bilang Gus Dur kafir,” ujar salah seorang murid.

“Ya ndak apa-apa dibilang kafir, tinggal ngucapin dua kalimat syahadat, udah Islam lagi,” jawab Gus Dur enteng.

Jadi, yang levelnya rendah orang yang mengkafirkan atau yang dikafirkan? Akal sehat kita sudah pasti bisa menjawabnya. Itu pun kalau yang mengkafirkan masih punya akal.