Kisah-kisah Perjuangan Menuju Tanah Suci: Merangkak Selama 10 Tahun demi Memenuhi Panggilan Tuhan

Kisah-kisah Perjuangan Menuju Tanah Suci: Merangkak Selama 10 Tahun demi Memenuhi Panggilan Tuhan

Syaqiq al Balkhi bertemu jemaah haji yang merangkak menuju tanah suci selama 10 tahun.

Kisah-kisah Perjuangan Menuju Tanah Suci: Merangkak Selama 10 Tahun demi Memenuhi Panggilan Tuhan

Ketika masuk musim haji, banyak orang yang memiliki keinginan untuk bisa menunaikan ibadah haji. Namun tidak semua mempunyai kesempatan yang sama. Ada yang fisiknya mampu, akan tetapi terkendala biaya. Adapula yang secara biaya sama sekali tidak ada kendala, tapi fisiknya memaksanya untuk tetap di rumah saja. Karena pada dasarnya, haji adalah panggilan ilahi, semua boleh punya kemampuan tapi tidak semua dipanggil.

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani menuturkan sebuah kisah unik dalam Khasais al-Muhammadiyyah. Kisah tersebut menggambarkan beratnya perjuangan seseorang untuk bisa menjawab panggilan itu. Dengan segala keterbatasannya, seseorang masih bisa berjuang untuk sampai di tanah suci, bahkan tak jarang, mereka rela menjelajah ribuan kilometer dengan kendaraan yang tak lazim. Itu semua dilakukan untuk menjemput cinta dan menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Sayyid Muhammad bercerita, suatu ketika Syaqiq al-Balkhi sedang menunaikan ibadah haji. Ia berangkat dari kampung halamannya; Balkh. Ketika hendak sampai di Mekkah ia  bertemu dengan seorang jamaah haji yang aneh. Ia berjalan dengan merangkak. Ia melihatnya sekali lagi, untuk memastikan ia tidak salah lihat. Ya, orang tersebut benar-benar adalah jamaah haji yang rela berjalan merangkak. Al-Balkhi kemudian bertanya pada jemaah haji itu,

“Dari mana kamu?” 

“Dari Samarkand,” ia menghentikan merangkaknya.

“Sudah berapa lama kamu menempuh perjalanan ini?” Lanjut al-Balkhi.

“Kurang lebih 10 tahun” 

Syaqiq pun terperangah dengan hal yang dilakukan orang tersebut. Bayangkan ia telah 10 tahun merangkak demi bisa menunaikan ibadah haji yang mulia.

“Wahai Syaqiq, kenapa engkau kaget dengan ini. Bisakah kamu bersikap biasa?!”

“Aku kagum dengan perjuanganmu menempuh perjalanan ini dengan keadaan seperti itu, sedangkan jarakmu juga sangat jauh.”

 أما بعد سفري فالشوق يقويه ، وأما ضَعفُ مُهجتي فمولاها يحملها يا شقيق ، أتعجب من عبد يحمله المولى اللطيف

Adapun jauhnya perjalananku, kerinduanku yang menguatkannya, dan adapun,tubuh yang lemah ini, sungguh sudah ditanggung oleh Allah. Wahai Syaqiq, apakah kamu masih merasa aneh dengan perjalanan seorang hamba yang ditanggung oleh Tuannya yang Maha Lembut?!

Seorang tersebut lantas menyitir sebuah syair indah:

أزوركم والهوى صعب مسالكه والشوق يحمل والآمالُ تُسعِدُهُ

ليس المحبّ الذي يخشى مهالكه كلا ولا شِدَّةُ الأَسفار تُبْعِدُهُ

O, Tuhan. Aku mengunjungi-Mu. Semua perjalanan menuju cinta memang sulit untuk ditempuh, namun rindu ini selalu mendorong, dan impian bertemu selalu membuatnya menjadi terasa bahagia.

Bukanlah pecinta, orang yang takut celaka dalam perjalanan menuju kekasihnya. Bukan! Dan jauhnya perjalanan juga tidak akan membuatnya jauh dari sesuatu yang ia cintai.

Dalam kitab yang sama Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, menyebut kisah yang hampir serupa. Dikisahkan, seorang ulama yang sedang thawaf bertemu dengan seorang yang sudah berusia lanjut. Dari wajahnya, ia berusia sekitar 50 tahunan. Ia pun harus berjalan dengan tongkat untuk menopang tubuhnya. Ia tampak tertatih tatih ketika berjalan. Ia kagum dengan perjuangan orang tua tersebut. Tidak banyak yang mempunyai kegigihan serupa. Sekalipun orang yang sehat dan mempunyai uang cukup banyak, tapi tidak semua mempunyai keinginan kuat untuk menunaikan ibadah haji di Mekkah. 

Mengetahui ada yang mengamatinya. Orang tua tersebut menyapa sang ulama.

“Hei, berapa lama kamu menempuh perjalanan haji kali ini?” tanyanya basa-basi.

Ulama kaget dan menjawab, “Sekitar 2 bulan”

“Apakah engkau berhaji setiap tahun?”

Ia tidak menjawab. Karena penasaran, ia ganti yang bertanya,

“Lah kalau Anda, Mbah, berapa jarak antara rumahmu sampai sini?”

“Sekitar perjalanan lima tahun.” 

Semakin kagum ia melihat perjuangan sosok tua tersebut. Hal tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa cinta dan kesungguhan mempunyai peran yang cukup besar.

Orang tua tersebut hanya tersenyum dan membaca sebuah syair:

زُرْ مَنْ هَوَيْتَ وإنْ شَطَّتْ بك الدارُ

وحالَ مِن دونهِ حُجبٌ وأستَارُ 

Kunjungilah Kasih yang kamu cintai sejauh apapun jarak memisahkan, sebanyak apapun rintangan dan penghalang yang membatasi.”

لَا يَمْنَعَنَّكَ بُعْدٌ عَنْ زِيارتهِ 

إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يَهْوَاهُ زَوَّارُ

Jangan sesekali jarak yang jauh membuatmu enggan berkunjung. Sungguh orang yang mencintai pasti akan menziarahi Kekasih yang ia cintai.”

(AN)