Kisah Jemaah Haji dari Lombok: Setia Mendampingi Suami Beribadah

Kisah Jemaah Haji dari Lombok: Setia Mendampingi Suami Beribadah

Kisah Jemaah Haji dari Lombok: Setia Mendampingi Suami Beribadah

Islami.co (Haji) – Payung raksasa di serambi Masjid Nabawi, Madinah, terbuka lebar. Melindungi para jamaah dari terik matahari yang baru saja bergeser ke barat dari titik tertingginya.

Di salah satu sisi pembatas antara area sholat dan area pejalan kaki, terlihat seorang lelaki tua sedang duduk di kursi roda.

Sami’allahu li man hamidah,” bacaan doa i’tidal keluar dari mulutnya, diikuti dengan gerakan menunduk sebagai ganti gerakan sujud. Ia sedang melaksanakan sholat dhuhur.

Lelaki itu berdiam seorang diri di tengah ribuan orang yang berlalu lalang. Tidak terlihat tanda keberadaan orang yang mendampinginya.

Beberapa saat kemudian, terlihat ada seorang perempuan yang menghampiri lelaki tua itu. Ia terlihat sedikit lebih muda. Laki-laki itu adalah bapak Kapandi Supardi P, jemaah haji asal Lombok. Sedangkan sang perempuan adalah istrinya.

“Saya itu tadi perjalanan dari hotel. Sebelum sholat, saya cepet-cepet persiapkan untuk bapak kursi rodanya, semua,” ujar istri Supardi mengawali ceritanya.

Sang istri menuturkan, setiap hari sejak kedatangan di Madinah, ia selalu pergi bersama dengan suami tercinta meninggalkan hotel untuk beribadah di Masjid Nabawi.

“Begitu sampai di Masjid Nabawi, saya harus mengantarkan bapak ke tempat laki-laki,” ujarnya.

Di Masjid Nabawi, area salat laki-laki dengan perempuan diletakkan terpisah. Jarak antara kedua area itu lumayan jauh.

“Saya lepas dia (suami) di tempat laki-laki. Saya suruh diam, nggak usah ke mana-mana, sampai saya datang,” bebernya.

Tetesan air mata tiba-tiba jatuh dari kedua matanya. Ia terharu mengingat kesetiaan sang suami saat disuruh menunggu hingga dirinya kembali dari area sholat perempuan.

Sambil terbata-bata, ia menceritakan, “Begitu saya selesai salat di tempat perempuan, saya liat suami saya (dengan) setianya menunggu sampai saya datang. Saya suruh diam, dia diam.”

Meninggalkan suami sendirian di tengah keramaian bukan perkara mudah. Kekhawatiran terus menghampiri, apalagi dengan kondisi suami yang memiliki keterbatasan fisik.

“Setiap hari begitu, saya antar, saya lepas, saya lari ke tempat perempuan. Selesai sholat, saya lari ke sini untuk ambil, baru saya bawa ke hotel,” terangnya.

Ia menambahkan, “kadang-kadang maghrib-isya saya nggak pulang (ke hotel). Saya sangat khawatir, karena dia ini seorang yang nggak punya kaki sebelah.”

Tangisan penuh rasa syukur tidak berhenti membasahi wajahnya. Rasa syukur atas kesempatan untuk berkunjung ke tanah suci.

“Alhamdulillah, Ya Allah. Saya bersyukur sama Allah, dia (suami) bisa sampai ke tanah suci,” ucapnya memuji Tuhan Yang Maha Esa.

Ia juga bangga terhadap suaminya yang tetap tegar dalam menghadapi segala ujian dan cobaan dari Allah.

“Yang saya banggakan, suami saya orangnya kuat, dia sangat bertahan dengan kehidupan, semangatnya tinggi, tidak akan sia-siakan kesempatan ini (naik haji),” pungkasnya.

Memang, tidak semua orang berkesempatan untuk pergi ke tanah suci, dan tidak semua orang yang berkesempatan mampu mensyukurinya. Dan pasangan kakek-nenek tersebut telah mengajarkan keduanya.

(AN)