Khutbah Jumat Ramadhan: Puasa Sebagai Implementasi Ibadah Sosial

Khutbah Jumat Ramadhan: Puasa Sebagai Implementasi Ibadah Sosial

Khutbah Jumat Ramadhan: Puasa Sebagai Implementasi Ibadah Sosial

Khutbah Jumat Ramadhan ini menjelaskan bahwa inti dari ibadah puasa Ramadhan adalah berempati dengan kesusahan yang dirasakan orang lain.

Khutbah Jumat Ramadhan I

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ أيضًا:  مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Maasyiral Muslimin rahimakumullah

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang harus dilakukan oleh umat islam supaya menjadi insan yang baik kepada Allah juga kepada sesama manusia.

Pada prinsipnya puasa tidak hanya meninggalkan makan dan minum semata namun harus mampu menjaga diri dan mengontrol emosi saat berinteraksi kepada orang lain.

Dari sini dapat dipahami bahwa puasa tidak hanya dinilai sebagai ibadah kepada sang Khalik namun juga termasuk kategori ibadah sosial karena berkaitan dengan sesama manusia.

Kewajiban berpuasa ini memberi pelajaran kepada umat Islam untuk saling peduli serta memiliki kepekaan sosial di masyarakat terutama orang kaya bisa merasakan perihnya kehidupan orang yang kurang biaya.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Puasa pada hakikatnya mampu menahan dari segala godaan, baik yang datang dari diri sendiri misalnya keinginan untuk makan, minum, berhubungan badan maupun godaan dari luar seperti mampu menahan emosi saat berbeda pendapat dengan yang lain.

Untuk mewujudkan insan yang kamil maka dibutuhkan kemampuan untuk menunaikan segala kewajiban yang berkaitan dengan hak Allah (hablumminallah) juga hak sesama manusia (hablumminannas).

Keduanya harus seimbang tak boleh ada ketimpangan satu dengan yang lain. Ibadah penting, hubungan muamalah juga tak kalah penting.

Dengan adanya puasa, seseorang mampu meredam amarah dan keinginan hawa nafsu sehingga puasa tersebut menjadi benteng bagi dirinya agar tak melakukan hal-hal yang terlarang.

Hal ini sesuai keterangan dalam sebuah Hadis

وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له ألا أدلك على أبواب الخير قلت بلى يا رسول الله قال الصوم جنة والصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار رواه الترمذي

Artinya:

”Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA bahwasanya Nabi berwasiat kepadanya: ”Maukah engkau, aku tunjukkan sumber kebaikan? Lantas aku menjawab:”iya wahai Rasulullah. Beliau berkata:”Puasa merupakan benteng diri dan shadaqah mampu menghapus kesalahan seperti air mampu mematikan api. (HR. Turmudzi).

Dalam Faidhul Qadir, Imam Al-Munawi  menjelaskan,  orang yang berpuasa harus mampu menjaga dari segala kemaksiatan.

Di samping itu, harus mampu meredam nafsu syahwatnya. Orang yang banyak makannya akan mendatangkan banyak penyakit.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Saat ini, banyak orang yang sadar beragama namun belum disertai akhlak yang utama sehingga kadangkala mereka merasa paling benar dan mudah menyalahkan orang lain.

Tentunya hal ini harus disikapi dengan bijaksana terutama semangat beragama harus menggunakan logika berpikir yang benar dan akhlak yang baik pula.

Puasa merupakan salah satu cara untuk mendidik manusia supaya lebih menghargai orang atau lebih trendnya memanusiakan manusia sehingga tercipta kerukunan antar sesama manusia tanpa mengedepankan perbedaan.

Pada prinsipnya manusia memang belum sepenuhnya siap menghadapi perbedaan ini. Padahal Allah sudah mengingatkan kepada manusia supaya berpikir dan menggali hikmah di dalamnya.

Allah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

Artinya: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS. Hud: 118).

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Hiruk pikuk kehidupan saat ini sangat menarik untuk dikaji terutama banyak sekali orang yang menggunakan intrik untuk mengkritik pendapat orang lain dengan cara yang tak cerdik.

Mereka lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok dari pada persatuan. Di samping itu, mereka lebih mengutamakan otot sebagai penyelesaian dari pada menggunakan logika manusia.

Sultan Ulama’ Izzuddin bin Abdussalam dalam Qawaid Kubranya maupun di kitab Bayan Ahwalinnas Yaum al-Qiyamah pernah memprediksi fenomena yang terjadi saat ini. Lebih lanjut, beliau menjelaskan

فكم من عاص يظن أنه مطيع

Berapa banyak orang yang maksiat merasa dirinya orang yang taat.

ومن بعيد يظن أنه قريب

Orang yang jauh dari Allah merasa dirinya dekat dengan-Nya.

ومن مخالف يعتقد أنه موافق

Orang yang bertentangan dengan Syariat mengaku orang yang sesuai dengan ajaran.

Pada akhirnya puasa diharapkan mampu memberikan spirit untuk berperilaku positif sehingga membawa dampak sosial di masyarakat menjadi lebih bermartabat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Jumat Ramadhan II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Baca juga tulisan lain tentang Khutbah Jumat.

(AN)