Keutamaan Ta’awudz dalam Hadis-hadis Sahih

Keutamaan Ta’awudz dalam Hadis-hadis Sahih

Setidaknya ada tiga keutamaan Ta’awudz yang berhasil penulis himpun dari hadis-hadis sahih.

Keutamaan Ta’awudz dalam Hadis-hadis Sahih

Meminta perlindungan kepada Pemilik segala bentuk perlindungan memang adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan, sebab manusia adalah makhluk yang lemah (ajzun). Ungkapan “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk” selain sebagai bentuk meminta perlindungan, ternyata juga memiliki beberapa khasiat atau keutamaan yang telah disebutkan dalam hadis-hadis shohih.

Fadhilah yang pertama adalah bacaan ta’awwudz dapat menghilangkan rasa marah, bahkan marah tingkat dewa sekalipun. Sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sulaiman bin Sarad yang menceritakan tentang dua orang yang saling menghina di hadapan Nabi Muhammad. Satu di antara dua orang tersebut memaki orang yang satunya dengan marah ‘tingkat dewa’ hingga raut mukanya tampak berwarna ‘sangat merah’.

Kemudian Nabi Muhammad bersabda, “Sungguh Aku mengetahui sebuah kalimat yang jika diucapkan, maka kemarahan yang dirasakan olehnya akan hilang. Kalimat tersebut adalah A’udzu Billahi min al-Syaithan ar-Rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)”.

Keutamaan yang kedua yaitu siapapun yang meminta sesuatu (perlindungan atau permintaan) atas nama Allah kepada manusia, maka ia memiliki hak untuk dipenuhi permintaannya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Siapapun yang meminta perlindungan kepada kalian dengan nama Allah, maka berilah perlindungan padanya. Dan siapapun yang meminta (sesuatu) kepada kalian dengan nama Allah, maka kabulkan permintaanya”.

Hadis ini dinyatakan hasan oleh Imam as-Suyuthi, sedangkan Imam an-Nawawi dalam Riyadh as-Shalihin menyatakan hadis ini sahih. Begitu pula Imam al-Albani juga sependapat dengan Imam Nawawi.

Keutamaan ketiga yakni mengamalkan sebuah amalan yang biasa dilakukan oleh manusia paling mulia di muka bumi (Nabi Muhammad). Pernyataan ini disampaikan oleh Siti Aisyah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Nabi Muhammad biasa mengucapkan, “Ya Allah, Aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari hukuman-Mu, dan Aku berlindung pada-Mu dari siksa-Mu”.

Membaca ta’awwudz adalah amalan yang ‘tidak terlalu berat’, tetapi memiliki kasiat yang hebat. Terkadang hal-hal yang sering dipandang ‘ringan’ seperti ini justru sering ditemui keikhlasannya. Seperti Imam al-Ghazali yang menemui keihklasannya dari amalan ‘ringan’ (meminumi lalat ketika mengarang kitab). (AN)

Wallahu A’lam.