Ketika Ulama Indonesia Menghiasi Daftar 500 Muslim Berpengaruh di Dunia

Ketika Ulama Indonesia Menghiasi Daftar 500 Muslim Berpengaruh di Dunia

Ini peristiwa penting, tapi kita melalaikan dan hanya melihat ulama sebagai daftar

Beberapa hari ini kanal-kanal berita baik nasional maupun internasional cukup riuh memberitakan masuknya tokoh-tokoh Indonesia yang masuk dalam daftar muslim berpengaruh di seluruh dunia. Cukup prestige karena kelasnya dunia, tidak hanya Indonesia. Secara logis, berarti ada barometer atau ukuran khusus untuk mengukur peran dan arti penting kehadiran mereka bagi masyarakat di negerinya, bahkan bagi dunia.

Tokoh Berpengaruh, Apa Tolok Ukurnya?

RISSC (The Royal Islamic Strategic Studies Centre)—situs yang merilis nama-nama tokoh berpengaruh dunia—merupakan badan penelitian independen yang berafiliasi dengan Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought, sebuah institusi non-governmental yang berskala internasional yang berdiri tahun 2007 di Aman, Yordania.

Read More

RISSC memiliki tujuan utama untuk menjaga (protect) dan menyebarluaskan (propagate) Islam traditional, ortodoks, dan moderat sebagaimana didefinisikan oleh International Islamic Consensus dalam ‘Three Points of the Amman Message’ selama kurun waktu 2005-2006.

Mudahnya, institusi ini membawa misi untuk terus menyebarluaskan isu perdamaian dunia melalui Islam yang moderat. Memang ada istilah ortodoks di atas, yang terkadang dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif, karena sifatnya yang kaku dan tidak menerima perubahan. Akan tetapi, melihat salah satu dari sembilan tujuan lain dari RISSC, yang di antaranya adalah untuk memberikan solusi atas konflik yang melanda dunia Islam dan juga isu-isu hubungan muslim dan non-muslim di dunia, cukup membawa kita pada sebuah kesimpulan yang positif.

Selaras dengan tujuan di atas, apakah berarti tokoh-tokoh yang masuk dalam institusi ini—yang dirilis hampir setiap tahun disertai naik-turun peringkat tokoh terkait—adalah mereka yang dapat menebar perdamaian dunia, khususnya dunia Islam? jawabannya adalah tidak.

Patut penulis garis bawahi bahwa memang tujuan dari lembaga ini menyebarkan isu perdamaian dan Islam moderat. Akan tetapi, perlu diketahui pula bahwa tidak semua tokoh-tokoh yang masuk dalam daftar tokoh berpengaruh di dalamnya adalah mereka yang menurut kebanyakan muslim sebagai penebar perdamaian. Hal ini sangat jelas diungkapkan buku The Muslim 500 itu.

Dalam pendahuluan bukunya dijelaskan apa yang dimaksudkan pengaruh atau influence itu “influence is: any person who has the power (be it cultural, ideological, financial, political or otherwise) to make a change that will have a significant impact on the muslim world”.  Pengaruh di sini diartikan sebagai seseorang yang mempunyai kekuatan atau kekuasaan (baik kultural, ideologi, finansial, politik) untuk membuat perubahan yang berdampak besar bagi muslim dunia.

Tidak cukup di situ, dijelaskan lebih lanjut bahwa “note that the impact can be either positive or negative”. Akibat dari pengaruh tadi bisa berbentuk positif maupun negatif. Karena itu, jangan heran jika ada kelompok ekstremis yang masuk kategori, seperti Abu Bakar al-Baghdadi (Iraq), Abu Muhammad al-Maqsidi (Jordan) dan satu perwakilan Indonesia, Abu Bakar Baasir.

Apakah kita patut berbangga dengan list yang dirilis RISSC tadi? Bagi penulis, kita tentu patut berbangga dengan para tokoh negeri, tentunya tokoh negeri yang membawa perdamaian yang berdampak positif. Nama-nama seperti Presiden Joko Widodo (urutan ke-13), KH Said Aqil Siraj (urutan ke-19), Habib Luthfi bin Yahya (urutan ke-33) sepertinya sudah langganan bercokol dalam top 50 muslim yang paling berpengaruh. Tentu ada nama-nama lain seperti Din Syamsuddin, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Buya Syafi’i Ma’arif yang juga masuk dalam daftar.

 

Sikap Kita: Berbangga saja Tidak Cukup

Deretan nama-nama yang masuk daftar di atas tentu bisa dilihat dari berbagai perspektif. Semakin kaya cara pandang kita, semakin kaya makna filosofis yang akan kita ungkap. Penulis hanya ingin mengungkap beberapa hal saja. Ini bisa diperdebatkan, tentunya dengan data.

Pertama, kita tidak cukup berbangga, karena masih terdapat nama-nama tokoh yang sudah bukan rahasia lagi—sokoguru dari aliran Salafi. Seperti misalnya Raja Salman bin Abdul Aziz (peringkat 4), pangeran Salman bin Abdul Aziz (peringkat 24), Syeh Abdul Aziz ibn Abdullah Aal Al-Sheikh (peringkat 26), dll. Semakin besar pengaruh mereka, semakin besar peran mereka dalam menebarkan peran politik dan ajarannya—yang jamak diketahui kurang (untuk tidak mengatakan tidak) toleran bila berbeda pandangan.

Kedua, kita patut berbangga dan bersyukur, karena tokoh-tokoh muslim yang membawa misi moderasi beragama cukup banyak berada di top 50. Misalnya, tokoh paling berpengaruh kali ini adalah Syeikh Muhammad Taqi Ustmani (Pakistan), Maliki, Tradisional Sunni. Begitu juga urutan ke 2, Ayatullah Ali Khamenei (Syiah Isna ‘Asyariyah, Iran). Perannya dalam rekonsiliasi sunni-syiah begitu besar pada tahun 2010 bersama Syeikh Ahmad Thoyyib (Mesir). Selanjutnya, Habib Umar bin Hafidz (peringkat 9), dan beberapa tokoh lainnya.

Ketiga, tidak semua tokoh berpengaruh dalam dunia muslim adalah seorang pendakwah, atau pemikir Islam. Selain mereka ada politisi, presiden, pengusaha dan lain-lain. Ini membuktikan betapa berperan sebagai apapun kita, bila selalu menebar manfaat akan membuat Islam bermartabat. Karena itu, tepatlah ungkapan Gusdur beberapa tahun silam “Tidak penting apa pun Agama atau Sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”.

Jadi, sekali lagi, juga tidak tepat bila sampai sekarang masih ada sebagian muslim yang mendikotomikan antara peran ilmu agama dan ilmu umum yang sering diidentikkan dengan Barat. Selama sebuah ilmu bisa membuat manfaat dan tidak bertentangan dengan akidah, ambil saja tanpa perlu takut dianggap sebagai agen Barat atau apalah itu.

Pesan Gusdur di atas in-line dengan tema ini. Bila kita sebagai muslim yang baik, bersikap tawasut dalam beragama, tidak merasa paling benar, apalagi punya pengaruh yang sangat besar dalam ranah nasional bahkan internasional, maka wangi aroma agama Islam yang rahmatan lil’alamin akan semerbak di dunia.