Ketika Calon Pastor Bertanya “Apa Itu Islam” Kepada Seorang Muslim

Ketika Calon Pastor Bertanya “Apa Itu Islam” Kepada Seorang Muslim

Setiap kita pada dasarnya adalah Muslim, sampai terdapat konstruksi sosial yang membuatnya jadi identitas Yahudi, Kristen, dan, Islam.

Ketika Calon Pastor Bertanya “Apa Itu Islam” Kepada Seorang Muslim
ilustrasi dialog

“Apa itu Islam?” Demikian saya disuguhi pertanyaan oleh seorang yang menganut iman Katolik dari Timor Leste. Pertanyaan itu sebenarnya gampang-gampang sulit untuk dijawab. Gampang karena saya adalah seorang Muslim, tapi sekaligus susah karena saya adalah representasi Muslim di dalam sebuah kabin Bus yang berisi sedikitnya 40 perwakilan orang katolik se-Asia. Ini terjadi saat event Asian Youth Day 2017 silam di Yogyakarta. Dan memang, peran saya waktu itu adalah sebagai delegasi komunitas Muslim dalam menjelaskan Islam (di) Indonesia.

Buat saya, Islam adalah kesadaran untuk bersikap pasrah yang ejawantahnya meliputi banyak hal dalam everyday life. Meski begitu, Nabi Muhammad SAW rupanya memeras yang banyak itu menjadi sangat ringkas, padat, dan bernas: akhlak. Teks aslinya berbunyi inna ma buitstu li utami ma makarim al-akhlaq (Sungguh, aku tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak).

Pertanyaannya, apa itu akhlak?

Jika kita merujuk pada Bahasa asalnya (Arab), akhlaq merupakan bentuk plural dari khulqun yang, secara sederhana, bisa disejajarkan dengan makna setamsil adat kebiasaan ( al-adat ); perangai, tabiat (al-sajiyyat); watak (al-thab); adab, sopan santun (al-muru’at); dan bahkan agama (al-din). Di saat bersamaan, kata akhlaq juga memiliki struktur tanda yang serupa dengan kata khalqun (kejadian). Adapun derivasi lainnya adalah “Khaliq“ yang berarti pencipta/the Creator dan “makhluq” yang berarti mereka yang diciptakan.

Akhlak, dengan demikian, bisa kita pahami sebagai sebuah aksi, atau tindak-tutur, atau gerak yang seyogyanya mengarah pada tujuan dari penciptaan manusia. Nah, di level inilah setiap orang bisa berbeda dalam merumuskan apa tujuan manusia diciptakan oleh The Creator.

Untuk itu, keberadaan institusi agama menjadi penting sebagai kompas kehidupan. Karena menjadi kompas kehidupan, maka mustahil jika agama mengajarkan kerusakan, atau permusuhan, atau ketidakadilan. Ringkasnya, setiap agama pastilah memiliki ajaran adiluhung yang berpusat pada bagaimana memanusiaakan manusia, menebar kebaikan, dan mengarahkan umatnya pada keselamatan. Dan, begitulah akhlak.

Di lain pihak, ada banyak agama di dunia. Ini fakta. Tapi tidak banyak yang bisa survive, baik karena ajarannya yang mulai tidak relevan, atau karena aspek yang lebih politis. Adapun Yahudi, Kristen, dan Islam merupakan tiga institusi agama yang, hari ini, bisa dibilang mendominasi dan tersebar di berbagai penjuru dunia. Tapi itu agama sebagai konstruksi sosial.

Identitas keislaman saya, misalnya, sudah melekat sejak jabang bayi, tanpa saya pernah memilih dan tanpa pernah saya meminta. Sekali lagi, ini soal konstruksi sosial belaka, yang pada derajat tertentu menjadi sangat krusial pada momentum Pilpres atau bahkan Pilkades.

Meski begitu, hingga hari ini saya juga tidak pernah menyesali “identitas warisan” tersebut, karena Islam yang saya pelajari dan yang saya pahami adalah Islam yang berfokus pada upaya keberpasrahan yang, sekali lagi, ejawantahnya adalah memanusiaakan manusia dan menebar kebaikan.

Adapun pada derajat yang lebih epistemologis, setiap orang berhak mengklaim dirinya sebagai “Muslim”. Ada sejumlah ayat al-Quran yang mengindikasikan hal itu. Tentu saja, ini hanya akan berlaku jika kita terlebih dahulu mengimani Qur’an sebagai Firman Tuhan. Saya kutipkan tiga ayat di Juz-juz awal Qur’an versi Mushaf Utsman.

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 132)

Lalu,

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim. (Q.S. Ali Imran [3]: 52)

Dan,

قُلْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ أُنزِلَ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”. (Q.S. Ali Imran [3]: 84)

Pada yang pertama, subjek yang menjadi pusat narasi adalah Ibrahim dan Ya’qub. Selain itu, keduanya diposisikan oleh al-Quran sebagai subjek yang aktif. Dan, kata “Muslim” dalam ayat yang pertama melekat setelah kata ganti bentuk kedua, antum, kalian semua. Artinya, jika Muslim di sini bermakna identitas sosial, berarti konsekuensinya adalah setiap umat Ibrahim dan pengikut Ya’qub akan mewarisi hal serupa.

Lalu, pada ayat kedua, yang menjadi pusat narasi adalah Isa dan Hawariyyin (sahabat-sahabat setia). Keduanya juga diposisikan olh al-Quran sebagai subjek yang aktif. Dan, kata “Muslim” melekat dengan kata ganti bentuk pertama “kami”. Artinya, jika Muslim di sini bermakna identitas sosial, berarti konsekuensinya adalah setiap umat Isa akan mewarisi hal serupa.

Dan, anggaplah, kedua ayat sebelumnya itu dikunci oleh ayat ketiga. (Jika kita menggunakan periode kenabian, maka urutannya adalah Ibrahim, Isa, Muhammad)

Ya, pada ayat ketiga, subjeknya memang tersembunyi. Kendati begitu, kita bisa mengidentifikasi bahwa kata “qul” (katakanlah) di sana merujuk pada Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah, atau mediator al-Quran. Dan, di dalamnya, kata “Muslim” dilekatkan oleh subjek penutur dalam maknanya yang lebih filosofis, yaitu “keberpasrahan atau penyerahan total”, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulunya, yakni Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa.

Baca Juga, Dosen Muslim Mengajar di Kampus Kristen: Istilah Kafir Sampai Pertanyaan Masuk Surga

Atau, dengan kata lain, kata “Muslim” pada dua ayat sebelumnya boleh jadi memiliki makna yang serupa, yang kira-kira akan berbunyi: bahwa umat Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, dan Nabi Isa adalah orang-orang yang berpasrah kepada Tuhan Yang Satu.

Nah, apakah keterangan ini semua saya sampaikan di atas Bus, di hadapan 40-an delegasi kawula Muda Katolik se-Asia? Tentu saja tidak lah, fren. Tidak semua maksutnya.

Yang jelas, saat itu saya bilang, bahwa nganu everybody, as far as I know, it is a submission. Sometimes, it is a social identity making you different from others. However, Islam is a condition when you feel that you are no one, so there is no reason to make yourself better than others. Therefore, repeat after me in Arabic Language, Asy Hadu…!!!

Santai, santai, yang terakhir itu cuma saya batin, kok. Heuheu…