Kata Siapa Zuhud itu Menderita? Kalau Bisa Harus Kaya!

Kata Siapa Zuhud itu Menderita? Kalau Bisa Harus Kaya!

Siapa bilang zuhud itu harus hidup miskin? Kalau bisa harus kaya!

Kata Siapa Zuhud itu Menderita? Kalau Bisa Harus Kaya!

Kehidupan kaum agamawan biasanya diidentikkan dengan spiritualitas, dan menjauh dari dunia alias zuhud. Seorang pemuka agama ngobrolin uang dan karier jabatan, kok rasanya aneh. Kalau Sayyidina Ali pernah bersabda mentalak tiga kehidupan dunia, Kiai di Indonesia ini lain. Selalu punya caranya sendiri dalam membincangkan urusan duniawi.

Itulah yang tercermin dalam diri Kiai Hasan. Seorang Kiai di pinggiran Kota Pelajar. Selain kesehariannya mengasuh pesantren, songkok hitam dan baju koko yang dikenakannya tidak menghalanginya untuk bertransaksi dagang sarung dan songkok dengan siapa saja. Tak jarang, tamu yang sowan ikut duduk bareng dengan stok dagangan di rumahnya.

Ruang tamunya tidak lebar-lebar amat. Berukuran sekitar 4×3 meter persegi. Bahkan terlampau kecil mengingat yang datang ke rumah beliau adalah orang-orang besar. Belum kalau bawa rombongan dan pengawal. Mahasiswa juga sering njujug ke rumah beliau. Sekadar untuk sowan, atau karena memang cari-cari alasan saja sebab kantong yang lagi kempes. Sudah adatnya Kiai, semua tamu harus makan. Mahasiswa demen sama yang beginian. Mungkin karena itu banyak orang memanggilnya dengan Pak Hasan, alih-alih Kiai.

Sudah begitu, praktis rumah beliau halamannya sempit. Begitu keluar dari teras, langsung mepet ke jalan kampung. Sederhana memang. Tapi dengan begitu, rumahnya gampang dicari. Pintunya terbuka dua puluh empat jam. Kalau sudah asik mengobrol, energinya masih tahan melayani ngobrol sampai subuh. Kalau sudah asik begitu, ruang tamunya bisa berkabut dengan asap rokok. Unik juga karena rokok kesukaan Kiai ini merek keluaran Amerika – yang sangat duniawi. Hehe.

“Kamu habis kuliah mau kerja apa?” begitu pertanyaan wajib Pak Hasan tiap mahasiswa bertamu ke rumahnya. Menunjukkan beliau peduli dengan kantong anak muda yang ke rumahnya.

Pak Hasan mempunyai gaya sendiri dalam menerima mahasiswa. Sebagai anak muda tanggung di Kota Pelajar yang berusia dua puluhan tahun, umumnya masih terperangkap dalam antusiasme dan idealisme yang menyala-nyala. Kadang mereka ke sana untuk membahas persoalan yang ndakik-ndakik dari sudut pandang pesantren, mulai soal peta perpolitikan terkini, sampai rasan-rasan soal ormas yang lagi memanas. Obrolannya sophisticated, bahasanya orang kota.

Tapi namanya mahasiswa belum mapan, toh masih butuh duit juga. Mau idealis bagaimana, tetap antusias kalau ada kabar “program pemerintah” atau kabar baik proyeknya senior dari ibukota. Lumayan toh, sekadar buat mbayar kos, sukur bisa jajan.

Pak Hasan paham betul antusiasme anak muda perlu dibarengi kesiapan untuk menghidupi dirinya sendiri. Harus mandiri. Dagang, mengajar lah, meniti karier jadi pegawai negeri, apapun! Seyogianya dapur memang harus ngebul dulu, baru kita bicara idealisme – mengabdikan diri ke masyarakat secara sosial atau spritual.

“Sebelum mikirin ummat, kompor kalian itu mbok dinyalakan dulu… biar berwibawa.” Begitu beliau mengingatkan berkali-kali.

Mukib, mahasiswa mbeling yang pernah mondok di Jawa Timur, pernah sedikit ngeyel. Biasa, dengan pedenya dia berkata: “Sebagai santri kan kita terlatih belajar untuk hidup zuhud, Pak… yakin aja kita berjuang mengabdi di jalan ummat, nanti pasti ada jalan dari Allah..”

“Zuhud apane (apanya)?” Sambut Pak Hasan, melirik Mukib. Sebagai santri kawakan dia awas dengan gestur Kiai. Salah omong bisa berabe ini. Mukib cuma cengengesan, sambil pura-pura merogoh kaleng biskuit.

“Kalau kaya gitu namanya fatalis. Masih muda kok fatalis. Sayang tenagamu, masih muda kok sudah pasrah. Kamu juga harus mikirin dapurmu..”

“Ya bukan fatalis juga, Pak.” Mukib masih ngeyel. Kali ini agak menggerutu.

“Siapa bilang zuhud itu harus menderita? Zuhud itu bukan berarti nggak boleh kaya…” Pak Hasan melanjutkan bicara, kalem. Lalu berhenti sejenak mengepulkan asap rokoknya, yang entah sudah batang keberapa.

“Zuhud itu justru kalau bisa harus kaya. Siapa bilang zuhud itu berarti hidup miskin? Maksudnya zuhud itu, ketika kamu punya mobil sekelas Alphard, rasa hatimu sama ketika kamu punya sepeda. Makanya, ketika nanti diuji kehilangan mobil Alphard, rasanya ya sama saja dengan kamu kehilangan sepeda. Hatimu biasa saja.. itu baru zuhud!”

Kita harus paham dengan petuah Pak Kiai ini. Maksudnya adalah supaya anak muda ini tidak petentang-petentang bicara idealisme, tapi kemandiriannya gampang roboh. Apalagi cuma berani nganggur dan lantas bergantung hidup pada organisasi. Salah-salah, kalau sampai jadi benalu, cari makan pakai organisasi. Itu lama-lama organisasinya bisa cilaka! Bukan begitu?

 

Baca tulisan tentang zuhud lainnya di tautan ini