K.H. Arwani Amin Penulis Kitab Qiraat Pertama di Indonesia

K.H. Arwani Amin Penulis Kitab Qiraat Pertama di Indonesia

Jika di Timur Tengah ada Abu Umar ad-Dani yang menulis kitab tentang qiraat, Indonesia juga memiliki K.H. Arwani Amin yang menulis kitab qiraat pertama di Indonesia

K.H. Arwani Amin lahir pada Selasa kliwon, 5 Rajab 1323 H, bertepatan tanggal 5 September 1905 M di Desa Madureksan, Kerjasan, Kudus. Ayahnya adalah K.H. Amin Sa’id dan Ibunya adalah Hj. Wanifah. Ketika masih kecil beliau K.H. Arwani Amin hidup di lingkungan yang agamis. Kakek adalah salah satu ulama besar di Kudus, yaitu K.H. Imam Kharamain. Sementara garis nasabnya dari Ibunya, sampai kepada Pangeran Dipenegoro.

K.H. Arwani Amin memulai pendidikannya di Madrasah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan, Kudus. Setelah mulai beranjak dewasa, beliau meneruskan perjalanan menuntut ilmu agama Islam ke berbagai pesantren di tanah Jawa, seperti Solo, Jombang, Jogjakarta dan sebagainya. Dari perjalanannya tersebut, K.H Arwani Amin banyak bertemu dengan  kyai yang akhirnya menjadi gurunya.

Beberapa guru yang mendidik K.H. Arwani Amin di antaranya adalah K.H. Abdullah Sajad (Kudus), K.H. Imam Kharamain (Kudus), K.H. Ridwan Asnawi (Kudus), K.H. Hasyim Asy’ari (Jombang), K.H. Muhammad Manshur (Solo), Kiai Munawir (Yogyakarta) dan sebagainya.

Read More

Beliau K.H. Arwani Amin merupakan pendiri Pondok pesantren Huffadh Yanbu’ul Qur’an. Pondok pesantren tersebut merupakan salah satu tujuan para santri yang ingin belajar menghafal Alquran dan belajar Qira’at Sab’ah. Selain itu, beliau juga seorang mursyid (pimpinan) Thoriqah yang mempunyai ribuan jama’ah.

Sekitar tahun 1935, KH. Arwani Amin melaksanakan pernikahan dengan salah satu seorang putri Kudus, yang kebetulan cucu dari guru atau kiainya sendiri yaitu KH. Abdullah Sajad. Perempuan itu adalah Ibu Naqiyul Khud. Dari pernikahannya dengan Ibu Naqiyul Khud ini, K.H. Arwani Amin diberi dua putrid dan dua putra. Putri pertama dan kedua beliau adalah Ummi dan Zukhali (Ulya), namun kedua putri beliau ini meninggal dunia sewaktu masih bayi.

K.H. Arwani Amin merupakan salah satu ulama Indonesia yang menulis kitab tentang qira’at seperti halnya, meski tidak sepenuhnya tepat, al-Taisir fi al-Qira’ah al-Sab’ karya Abi ‘Amr wa Ustman bin Sa’id al-Dani, al-Mukarram fi al-Qira’ah al-Sab’ karya ‘Umar Qasim, al-Syatibiyyah fi al-Qira’ah al-Sab’ karya Imam al-Syatibi, al-Hujjah fi al-Qira’ah al-Sab’ karya Ibnu Khalawih. Beliau menulis kitab Faidh al-Barakat Fii Sab’il Qira’ah.

Beberapa poin yang mungkin perlu dicatat tentang kitab karya K.H. Arwani Amin tersebut antara lain adalah:

Pertama, latar belakang penulisan kitab. Setelah selesai mengkhatam Alquran dengan metode talaqqi kepada Syeikh Muhammad Munawwir bin Abdullah al-Rasyad akhirnya beliau mempunyai kecintaan untuk menulis tentang qira’ab sab’ah yang dipelajarinya tersebut. Bentuk kecintaan tersebut kemudian sebagaimana diungkapankan “Ilmu adalah sebuah buruan sedangkan menulisnya adalah sebuah tali”. Kitab Faidh al-Barakat Fii Sab’il Qira’ah kemudian ditulis sebagai bentuk ikatan terhadap ilmu yang dipelajarinya.

Kedua, K.H. Arwani Amin menulisakan secara garis besar isi kitabnya. Secara umum, kitab Faaid al-Barakat Fii Sab’il Qira’ah memuat beberapa pembahasan tentang penjelasan hal-hal yang menjadi kajian dalam Qira’at Sab’ah, seperti tata cara membaca dan menjelaskan beberapa waqaf yang bersambung riwayatnya hingga Nabi saw.

Ketiga,  K.H. Muhammad Arwani Amin menuliskan beberapa Imam qira’at beserta tahun lahir, negara, tahun wafatnya dan jalur periwayatannya serta menuliskan Imam qira’at yang mutassil kepada Nabi SAW.

Keempat, terdapat pula penjelasan tentang perbedaan qira’at, riwayat, dan jalur (thariq). Setiap perbedaan yang dinisbatkan kepada imam qira’at sab’ah, yakni qira’at yang para rawinya sepakat, oleh para perawi dinamakan qira’at.

Sedangkan, setiap perbedaan yang dinisbatkan kepada orang yang mengambil dari Imam sab’ah meskipun dengan perantara dinamakan riwayat. Sedangkan ketika dinisbatkan kepada yang mengambil dari periwayat meskipun sampai terakhir dinamakan jalur (thariq).

Beliau K.H. Arwani Amin wafat pada 1 Oktober 1994 M yang bertepatan dengan 25 Rabi’ul Akhir 1415 H. dalam usia 92 tahun.  Dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an.

Wallahu a’lam