Peran Komunitas Muslim dalam Edukasi Kesehatan Mental dan Pencegahan Bunuh Diri

Peran Komunitas Muslim dalam Edukasi Kesehatan Mental dan Pencegahan Bunuh Diri

Tahlilan, shalawatan, atau majelis taklim bisa menjadi ruang sosial dan mengurangi keinginan seseorang melakukan bunuh diri.

Peran Komunitas Muslim dalam Edukasi Kesehatan Mental dan Pencegahan Bunuh Diri
ilustrasi

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kondisi mental dan psikis yang terganggu, sebagaimana tubuh ketika menderita sakit, dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari.

Sehat mental dan fisik itu setara. Pernyataan WHO menegaskan bahwa sehat adalah kondisi fisik, mental maupun kesejahteraan sosial yang utuh, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan.” — (Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity.)

Hari-hari ini, masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan. Masyarakat mulai mengenal cara menjaga kesehatan fisik maupun mengakses pengobatan yang relevan. Kendati demikian, persoalan kesehatan mental masih dipandang sebelah mata, meski sudah diperkenalkan lebih banyak untuk masyarakat. Ia masih hanya dinilai sebagai akal-akalan dan manja-manjaan “anak zaman sekarang”, alasan kabur dari kewajiban, atau jadi sasaran tuduhan kurangnya iman dan spiritualitas.

Pada akhirnya, segala miskonsepsi soal kesehatan mental di atas, melahirkan stigma, baik yang sifatnya individu maupun sosial. Masih lumrah bahwa masalah kejiwaan hanya dikarenakan faktor tunggal. Padahal, persoalan mental sangat kompleks, mencakup mulai struktur kondisi fisik dan persepsi individu, keluarga, masyarakat, lingkungan kerja, agama, atau biasa disebut faktor biopsikososial – biologis, psikologis, sosial.

Salah satu persoalan kesehatan mental yang mendesak untuk dibicarakan adalah persoalan tindakan menyakiti diri sendiri dan bunuh diri. Isu ini agaknya sensitif untuk dibicarakan. Tapi fenomena angka kejadian kematian akibat bunuh diri, maupun gagasan ingin bunuh diri yang memicu adanya perilaku menyakiti diri sendiri di kalangan masyarakat – dan belakangan banyak dialami generasi muda, perlu menjadi sorotan.

Self harm ini tidak hanya soal menyakiti fisik sendiri, seperti melukai diri. Pembiaran dan pengabaian terhadap kebutuhan tubuh juga salah satu bentuk self harm. Sebagai muslim, bagaimana idealnya kita menyikapi gangguan mental atau adanya fenomena bunuh diri di masyarakat, dan jika mampu, bagaimana mencegahnya?

Mayoritas ulama menyebutkan bahwa tindakan bunuh diri dilarang oleh Islam. Meski dilarang, sebagian muslim bisa memiliki gagasan, keinginan, bahkan sampai melakukan tindakan bunuh diri. Bunuh diri adalah fenomena yang kompleks, sebagaimana persoalan kesehatan mental yang disinggung di atas. Ada lapis-lapis masalah yang dapat menyebabkan seseorang memiliki keinginan, atau berani memutuskan untuk menyakiti diri sendiri dan bahkan mengakhiri hidupnya.

Bunuh diri adalah jenis kematian yang memiliki dimensi lain: selain ada stigma maupun masalah yang dimiliki pelakunya, ada stigma dan beban psikologis berat yang ditanggung oleh penyintas dari kalangan keluarga maupun rekan dekat yang kehilangan, atau yang disebut suicide loss survivors.

Bunuh diri bisa dicegah

Dalam konteks Indonesia, pendidikan soal kesehatan jiwa maupun ketersediaan pusat krisis yang terjangkau memang masih jauh dari memadai, namun masyarakat dapat berkontribusi dalam menghapus stigma, termasuk mencegah terjadinya bunuh diri.

Islam mengajarkan bahwa menyelamatkan satu jiwa, seakan menyelamatkan nyawa seluruh manusia, sebagaimana difirmankan Allah di Surah Al Maidah ayat 32:

وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا….

“…Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…“

Ketika seorang kawan memiliki tendensi atau gagasan ingin bunuh diri (suicide ideation), ada beberapa hal selaku muslim yang bisa dilakukan. Langkah-langkah berikut disarikan dari artikel Suicide Prevention for Muslim Communities, yang ditulis oleh Rania Awaad, akademisi dari Stanford Muslim Mental Health & Islamic Psychology Lab, Universitas Stanford.

  1. Mengikuti kegiatan komunitas atau jamaah

Mengurangi rasa keterasingan yang kerap muncul mengiringi gangguan kesehatan mental bisa dimulai dengan mengikuti kegiatan keagamaan di masyarakat. Survei CDC menunjukkan bahwa anak muda yang merasa terkoneksi dengan orang lain, kemungkinannya jauh lebih rendah untuk memikirkan atau mencoba bunuh diri, ketimbang mereka yang tidak punya koneksi sosial. Tahlilan, shalawatan, atau majelis taklim bisa menjadi ruang sosial.

Tanpa mengurangi nilai positifinya, kegiatan berjamaah juga perlu dicermati: ia bisa menjadi mengurangi rasa keterasingan, atau malah menambahkan rasa tertekan akibat stigma yang ada dalam lingkungan jamaah tersebut. Di sinilah peran pemuka agama dan tokoh masyarakat untuk memberi ruang pada siapa saja dalam kegiatan berjamaah, dan menjadikan masjid atau musala sebagai wadah inklusif bagi siapapun.

  1. Menghapus stigma dalam pergaulan

Menghapus stigma dapat dilakukan lewat usaha-usaha edukasi, maupun membahasnya dalam lingkup orang-orang yang memiliki perhatian soal kesehatan mental. Bicara isu kesehatan mental memang masih tabu di masyarakat Indonesia, khususnya kalangan muslim. Tapi dengan menyadarkan diri sendiri maupun rekan-rekan sekitar bahwa problem kesehatan mental ini riil, agaknya bisa menjadikan stigma dapat dikikis.

  1. Mengenali tanda-tanda tindakan bunuh diri

Bunuh diri bisa memiliki banyak tanda, tapi perilaku menarik diri, kehilangan harapan dan rasa rendah diri (hopelessness dan worthlessness), maupun perilaku self harm, mesti mendapat perhatian lebih dari keluarga, ataupun pemuka masyarakat yang dapat dipercaya. Dengan mengenali faktor dan pertanda gagasan bunuh diri (suicide ideation) atau upaya bunuh diri (suicide attempt), dukungan sosial dan penghapusan stigma menjadi relevan untuk terus disuarakan.

  1. Pertimbangkan berbagai opsi bantuan

Dalam konteks Indonesia, khususnya muslim, kepercayaan pada pemuka agama sangat kuat. Meski begitu, banyak kondisi ketika konseling saja tak cukup, dan butuh pertolongan profesional seperti psikolog maupun psikiater. Menjadi teman bicara yang suportif dan tidak judgmental, adalah opsi pertolongan yang mesti menjadi perhatian bersama. Kita perlu sepakat sedari mula: urusan kesehatan mental adalah isu kompleks, dan tiap unsur masyarakat berupaya sesuai kompetensinya.

  1. Tidak semua upaya bisa dituntaskan sendiri, mintalah bantuan

Pada pendampingan orang dengan problem kesehatan mental, orang mesti tahu batas dirinya. Ada hal-hal yang tidak mungkin dilakukan sendiri, dan keterbatasan itulah yang meniscayakan kolaborasi. Kita tak mungkin memberi obat – kita memotivasi untuk berobat ke psikiater. Konseling memerlukan keterampilan – kita bisa arahkan pada psikolog atau orang yang terlatih untuk itu. Wawasan keagamaan kita terbatas – para kiai atau tokoh masyarakat yang kita percaya kebijaksanaannya barangkali bisa menjadi mitra yang baik.

  1. Tetap jaga privasi diri dan orang lain

Perlu disadari bahwa jangan sampai upaya kita menolong, malah mencapuri hal-hal yang sebenarnya merupakan prvasi mereka. Kesadaran tentang Mental health bukan hanya soal para penyintas atau keluarganya saja. Begitupun privasi seseorang tidak boleh dilanggar — tidak seorang pun ingin cerita pribadi mereka diumbar kepada umum. Urusan motif pribadi tidak relevan untuk menjadi perhatian publik.

Sebagai penutup, setiap elemen masyarakat dapat terlibat aktif dalam edukasi mental health dan pencegahan bunuh diri. Ketika mental health mendapat atensi, siapapun akan merasa aman dan tercipta lingkungan yang suportif. Begitupun bantuan profesional menjadi terjangkau dan tidak menjadi cap buruk bagi yang membutuhkannya. Kita berhak untuk sehat fisik maupun mental, dan ketika terjadi sesuatu yang mungkin tak menyenangkan, tidak mengapa untuk mencari pertolongan.

Jika kalian mengenal seseorang yang sedang tertarik atau memiliki gagasan bunuh diri, luangkan waktu sejenak membantu mereka. Edukasi terkait perilaku bunuh diri dapat mengakses laman Into The Light Indonesia atau LSM kesehatan jiwa lain yang terkait.