Fenomena Ustadz Malpraktik yang Menyebut Lagu Balonku Sebagai Ajaran untuk Benci Islam

Fenomena Ustadz Malpraktik yang Menyebut Lagu Balonku Sebagai Ajaran untuk Benci Islam

Fenomena ustaz setamsil Zainal Abidin itu seyogianya menjadi catatan tersendiri bagi umat Islam Indonesia. Salah-salah nama Islam akan menjadi taruhannya.

Fenomena Ustadz Malpraktik yang Menyebut Lagu Balonku Sebagai Ajaran untuk Benci Islam

Baru-baru ini, ramai lagi di media sosial sebuah potongan video seorang ustadz, sebut saja Zainal Abidin yang kembali mengingatkan agar kita tetap mencurigai agenda-agenda terselubung yang dapat merugikan umat.

Ya, menjatuhkan Islam, agenda kristenisasi, anti-Islam, atau apalah itu namanya adalah senarai narasi pamungkas yang kerap dipakai segelintir orang untuk membakar semangat kebencian umat.

Apakah sekadar mengingatkan umat agar tetap waspada terhadap agenda terselubung para musuh Islam itu merupakan perbuatan yang salah? Tidak juga.

Bahwa kemudian terdapat upaya untuk memojokkan umat Islam, itu memang benar adanya. Tapi, harus segera disadari bilamana yang demikian itu telah menjadi proses sejarah yang wajar belaka.

Jangan salah, umat Islam sejak dulu telah mengalami penentangan. Mulai dari zaman Nabi, era sahabat, sampai orde baru, hari-hari yang dilalui seolah tak pernah sepi dari upaya-upaya untuk melemahkan posisi umat Islam.

Tapi, naini, itu semua adalah realitas yang benar adanya dan bukan karena prasangka semata. Fakta sejarahnya pun terjereng secara benderang. Tinggal kita mau baca atau tidak, itu adalah soal lain.

Kembali ke Ustadz Zainal. Ditengarai, video itu merupakan ceramah lawas bertajuk “Prioritas Tauhid” di Imam Bukhori Center Dumai Riau.

Begini kurang lebih verbatimnya:

…. untuk menjatuhkan Islam. Dan, di Indonesia kan juga banyak. Antum gak berasa. Contoh: anak-anak kecil sejak umur TK aja sudah dilatih untuk benci Islam.

Lalu nyanyi: balonku ada lima…. Rupa-rupa warnanya… Yang Meletus balon apa? Yang Meletus apa? Hijau!!

Lanjut nyanyi: Hatiku sangat kacau. Lhoh, Islam itu bikin kacau saja. Tinggal empat pegang erat-erat. Apa? Merah, Kuning, ituu… Apalagi nyanyi yang jelas-jelas untuk mengajak membenarkan agama Kristen.

Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali, kiri kanan….

Anda lihat kalau Messi berhasil nembak bola?

(Lalu) Kulihat saja banyak pohon, apa? Kenapa cemara? Padahal Sumatera banyak pohon sawit. Apalagi di Jawa, (pohon) pisang. Dan cemara itu pohon imporan. Nggak banyak. Lihat ditanamkan untuk mencintai pohon cemara, pohon Natal, dan dibiasakan untuk beribadah, tangan ke atas naik-naik

Bagi sebagian orang, ceramah itu boleh jadi sangat serius dan menghujam kesadaran mereka. Bukti paling sederhana tentu saja adalah ceramah itu ada dan bahkan dikelola dengan cukup baik secara multimedia.

Tapi bagi sebagian lainnya, ceramah tersebut cukup untuk menandai bahwa situasi dakwah keberagamaan kita sedang berada di stadium tidak baik-baik saja.

Betapa tidak, bagaimana mungkin kualitas tauhid seseorang bisa ditakar lewat lagu kanak-kanak?

Atau, bagaimana mungkin seorang ustaz yang (konon) sedang mendakwahkan Islam, tapi materi yang dibawa justru merupakan perkara yang sangat jauh dari Islam itu sendiri, dengan ajakan untuk membenci atau mencurigai, misal?

Itu baru satu “ustaz”. Selebihnya masih banyak lagi ustaz-ustaz malpraktik yang sekadar mengejar hasrat “pokoknya dakwah” tanpa mengerti esensi dari dakwah itu sendiri.

Akibatnya, logika keagamaan yang diluapkan kepada umat hanyalah kebencian, kebencian, dan kebencian. Lalu, mereka menjadi sangat eksklusif, terasing dari segala hal yang sebetulnya biasa-biasa saja, dan pada puncaknya adalah merasa dirinya paling besar dan paling benar sendiri.

Di titik ini, umat harusnya menjadi lebih sadar bahwa apa-apa yang mengajarkan hasrat kebencian, meletakkan kecurigaan tanpa dasar, dan menabuh genderang permusuhan kepada pihak yang berbeda adalah watak dari peradaban jahiliyah.

Tentu saja, fenomena ustadz setamsil Zainal Abidin itu menjadi catatan tersendiri bagi umat Islam Indonesia. Salah-salah nama Islam akan menjadi taruhannya.

Meski begitu, bukan berarti pula kita lantas melarang-larang mereka berceramah atau mencari panggung. Mengapa?

Karena fenomena seperti itu akan tetap ada sepanjang zaman. Siapa tahu kalau memang begitulah cara dia mencari rezeki. Dan, itulah masalahnya. Dakwah kok jadi profesi. Dakwah itu ya berangkat dari kesadaran yang organik, tanpa embel-embel ini atau itu. Apakah dengan berdakwah lalu mendapat profit secara materi, itu tentu saja lain soal.

Lagi pula, biarkan saja mereka bicara, sebab kalau toh tidak berdasar pada ilmu, kelak akan kelihatan betapa menggelikannya jejak digital yang dibuatnya sendiri.

Dan, saya kira umat Muslim pun akan semakin cerdas dalam menyikapi kontestasi wacana keislaman di dunia digital, sejauh konten-konten yang membawa narasi positif semakin melimpah ruah.

BACA JUGA Hafalan Qur’an Ustaz Maaher At-Thuwailibi dan Alarm Bagi Warga Pesantren Atau Artikel-artikel Menarik Lainnya di Sini