Dua Perempuan Hebat di Belakang Khalifah Harun al-Rasyid

Dua Perempuan Hebat di Belakang Khalifah Harun al-Rasyid

Dua Perempuan Hebat di Belakang Khalifah Harun al-Rasyid

Ada pepatah mengatakan, “Di balik lelaki hebat, terdapat perempuan hebat”. Dalam redaksi Arab berbunyi: wara’a kulla rajulin adhim imraatun. Atau dalam redaksi bahasa Inggris berbunyi: There always the tough woman behind a great man.

Semua pasti setuju dengan pepatah di atas. Semua pasti setuju bahwa masa kekhalifahan Harun ar-Rasyid adalah masa keemasan Islam. Semua bidang mengalami kemajuan. Khalifah Harun tidak hanya fokus pada satu sektor saja. Melainkan semua sektor strategis tak luput dari perhatiannya.

Beliau membangun sarana pendidikan, kesenian, kesehatan, dan perdagangan, mendirikan Baitul Hikmah, sebagai lembaga penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi, perpustakaan, dan penelitian. Selain itu, Harun juga mampu mendirikan majelis al-Muzakarah, yakni lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, masjid-masjid, dan istana kerajaannya.

Dibalik itu semua siapa sangka kalau ternyata dibelakang Khalifah Harun ar-Rasyid terdapat dua perempuan hebat yang selalu mendukung semua kebijakan khalifah, juga memberi masukan ketika dibutuhkan. Siapa mereka?

Mereka berdua tak lain adalah Ibu dan Istrinya sendiri. Ibunya adalah Khaizuran binti Atha’, seorang hamba sahaya yang diperistri oleh Khalifah al-Mahdi, ayahnya. Walaupun ia berasal dari golongan hamba sahaya. Namun, sejarah mencatat tidak ada perempuan di dunia ini yang melahirkan dua orang khalifah kecuali Khaizuran dan Istri Abdul Malik bin Marwan, Khalifah kelima Bani Umayyah. Lewat rahim keduanya lahir dua orang khalifah keempat dan kelima dinasti Abbasiyah, yakni Khalifah Abu Muhammad Musa al-Hadi dan Khalifah Harun ar-Rasyid.

Khaizuran termasuk perempuan yang cerdas dan baik hati. Sejak kecil ia telah hafal al-Quran. Ia termasuk perempuan yang menguasai Fiqh secara mendalam. Khaizuran mendalami Fiqh di bawah asuhan Imam ‘Auza’i. Ia juga berguru pada Imam Sofyan al-Tsauri, karena kepribadiannya yang menawan itu pula, Al-Mahdi sangat mencintai Khaizuran.

Selain itu, dalam menjalankan posisinya sebagai ibu negara, ia juga aktif menjadi penasihat sang suami ketika menjabat sebagai khalifah. Begitupula ketika roda kekuasaan diwarisi kedua anaknya. Ia aktif dibelakang singgasana ikut memikirkan rakyatnya.

Terbukti, ketika terjadi instabilitas politik di masa kekuasaan anaknya yang pertama al-Hadi, ia aktif mengawal hingga kematian anaknya. Walaupun banyak sejarawan yang mengatakan kondisi itu merupakan ulah dari Khaizuran sendiri.

Ia terus mendampingi sang anak di istana Hingga ia wafat. Ia wafat pada malam Jumat di sepertiga akhir bulan Jumadil Akhir tahun 173 H.

Sementara itu satu perempuan lagi yang menjadi salah satu kunci sukses Harun al-Rasyid adalah istrinya sendiri. Zubaidah binti Jafar bin Abu Jafar al-Manshur. Ia merupakan cucu dari khalifah dinasti Abbasiyah yang kedua.

Sebenarnya itu bukan nama aslinya. Nama aslinya adalah Ummul Aziz. Ada perbedaan pendapat mengenai asul-usul namanya itu. Ada yang mengatakan nama itu merupakan panggilan kecil ketika ia dimomong kakeknya. Ada juga yang mengatakan ia dijuluki itu karena kulitnya yang sangat putih dan kecerdasan yang dimilikinnya.

Sayyidah Zubaidah merupakan seorang ibu negara yang sangat cakap dalam membantu tugas suaminya. Ia tak segan untuk berbagi tugas dengan suaminya ketika suaminya hendak keluar kota untuk melakukan ekspansi pemerintahan.

Salah satu peninggalan kebijakannya yang sangat dikenang bangsa Arab adalah sumber air dan jalan yang menghubungkan kota kufah dan Mekah. Kedua infrastruktur tersebut merupakan infrastruktur yang ia bangun ketika kepergian suaminya.

Ketika ia mengunjungi kota Mekkah untuk blusukan ia melihat begitu banyak peziarah haji yang sangat kesulitan untuk menuju Mekkah, karena infrastruktur yang belum memadai. Tidak hanya itu, di sepanjang jalan pun tidak ia temukan sebuah sumber air yang bisa dijadikan bekal minum para jamaah haji. Akhirnya ia memutuskan untuk membangun Jalan dan sumber air yang menghabiskan anggaran negara 60 juta dirham.

Tak ayal kedua infrastruktur tersebut hingga sekarang diberi nama sesuai dengan namanya. Sumber air zubaidah dan jalan Zubaidah.

Mengenai pribadi Zubaidah sendiri, para sejarawan menyifati istri Harun ar-Rasyid sebagai seorang yang cinta akan ilmu pengetahuan.

Jika kita semua tahu pada masa Harun ar-Rasyid semua cabang ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang signifikan. Maka itu semua, tak lepas dari peran Sayyidah Zubaidah. Pada saat itu, ia mendorong khalifah untuk menekuni dan memfasilitasi semua ulama’ dan ilmuwan dalam risetnya. Ia juga yang memberikan gaji bulanan kepada setiap dokter yang membuka praktek kesehatan pada masanya. Hingga tak ayal, Baghdad menjadi sentra keilmuan dunia pada waktu itu.

Zubaidah wafat 32 tahun setelah kematian suaminya. Tepatnya pada tahun 216 H/ 831M. Ia dimakamkan di Baghdad. Sejarah Islam ternyata banyak dihiasi oleh perempuan-perempuan hebat. (AN)