Doktor Tajwid dan Imam Shalat Pensiun

Doktor Tajwid dan Imam Shalat Pensiun

Kisah Mbah Ngalimun shalat

Puluhan tahun sudah Mbah Ngalimun diminta dan dipercaya warga memimpin shalat berjamaah di surau di desanya.

Mbah Ngalimun bukan orang berpendidikan tinggi. Ia hanya pernah sekolah di SR pada masa Hindia Belanda. Ia tak pernah belajar di pesantren. Ia hanya hapal surat-surat pendek dan bacaan-bacaan doa dalam ritual-ritual yang ia hapal semua lantaran sering mendengar.

Ada pendatang baru lulusan universitas Islam pindah ke desanya Mbah Ngalimun. Pekerjaannya adalah dosen. Kesibukannya banyak sehingga tak selalu bisa shalat berjamaah di surau. Dia biasa disapa “Doktor Tajwid” lantaran kerap mengevaluasi bacaan Arab orang-orang di sekitarnya. Mbah Ngalimun pun tak lolos dari evaluasinya.

Read More

“Mbah, bacaan sampeyan melanggar ilmu tajwid dan makharijul hurufnya keliru,” kata Doktor Tajwid ke Mbah Ngalimun.

Mbah Ngalimun mafhum dan meminta Doktor Tajwid menggantikannya sebagai imam shalat. Doktor Tajwid halus menolak permintaan ini dengan menyampaikan kepadatan jadwalnya mengajar, seminar dan menulis makalah ilmiah.

Jalan tengahnya adalah Doktor Tajwid melatih Mbah Ngalimun ilmu tajwid dan makhorijul huruf.

Agak sukar melatih lidah setua lidah Mbah Ngalimun. Dan juga tak mudah menancapkan pemahaman teori ilmu tajwid ke dalam ingatan orang sesepuh beliau.

Mbah Ngalimun pantang menyerah. Ia gigih menjalani latihan. Bacaannya mulai lebih baik dan ia makin percaya diri memimpin shalat berjamaah. Para jamaah pun memuji bacaan surat-surat pendeknya yang makin bagus.

Namun tak ada warga yang tahu setiap memimpin shalat pikiran Mbah Ngalimun sibuk dengan teori-teori tajwid. Lidahnya berjuang menekuk ke kanan-kiri dan ke atas dan ke bawah agar ucapan hurufnya sesuai pentunjuk Doktor Tajwid.

Mbah Ngalimun hanya teringat ilmu tajwid dan makharijul huruf saat mengimami shalat di surau. Kekhusyukannya merosot. Juga pujian warga atas bacaannya kadang menerbitkan ‘ujub, bangga diri, dalam dirinya.

Mbah Ngalimun menangis saat merenungkan nasib shalatnya sejak ia latihan ilmu tajwid dan makharijul huruf. Juga penyakit hati yang tumbuh dalam dirinya. ‘Ujub.

Dilematis.

Kenapa bacaan yang benar dalam shalat merusak kekhusyukannya? Apakah ilmu tajwid lebih utama ketimbang shalat? Kenapa ‘ujub merusak hatinya sejak latihan ilmu tajwid?

Mbah Ngalimun mengadu ke Doktor Tajwid dan ingin pensiun dari imam shalat. Doktor Tajwid keberatan. Mbah Ngalimun mau bertahan sebagai imam shalat dengan syarat jika ilmu tajwid dan makharijul huruf tak merusak kekhusyukannya saat mengimami shalat. Juga menjaga hatinya dari ‘ujub.

Di hadapan Dokter Tajwid Mbah Ngalimun mengenang kekhusyukannya mengimami shalat dan kerendahhatian batinnya sebelum ia menjalani latihan ilmu tajwid dan makharijul huruf.

Doktor Tajwid merasa berdosa.