Dialog Agama untuk Muslim Kaffah

Dialog Agama untuk Muslim Kaffah

Dialog Agama untuk Muslim Kaffah

Selama ini, konflik atas nama agama sering terjadi. Kisah-kisah perang dalam panggung agama, menjadi catatan sejarah yang kelam. Kisah Perang Salib yang begitu membekas, merupakan jejak bagaimana agama-agama, jika tidak dimaknai sebagai pengikat kebaikan antar makhluk, akan menjadi tragedi yang menyulut pembantaian antar umat.

Pada abad ini, kita masih bisa menyaksikan, bagaimana agama dengan mudahnya menjadi penyulut konflik, yang pada titik tertentu, berkelindan dengan kepentingan politik dan ambisi sebagian dari elite-elite agama. Lalu, bagaimana kita menciptakan dialog, membangun jembatan yang menjadi titian umat antar agama?

Melalui buku ini, Dr. Waryono Abdul Ghafur mengajak untuk membuka mata-hati agar terbangun dialog antar agama yang dapat menjadi titik semai kerukunan antar beragama.

Persemaian pemahaman terhadap agama-agama, sambil turut mengurai problem lain yang menyertainya merupakan langkah yang tepat dan pas diterapkan di Indonesia yang plural secara agama, etnis, suku dan lainnya. Caranya tentu bisa bermacam-macam, salah satunya melalui kajian atas al-Qur’an dan tafsirnya yang diproduksi oleh para mufassir.

 

Millah Ibrahim

Nilai-nilai dasar millah Ibrahim, dalam pandangan Waryono Abdul Ghafur terangkum dalam ungkapan kalimatun sawa’. Dalam konteks ini, al-Qur’an menggunakan istilah “kalimat”, menurut Thabathaba’i, sebagai petunjuk bahwa keberadaan kalimat tersebut berlaku di antara orang-orang yang mengaku sebagai pemeluk Yahudi, Nasrani dan muslim.

Ungkapan ini, bermakna mereka tunduk, mengakui, menyebarkan dan menyiarkan kalimat tersebut, sebagai bentuk kesepakatan bersama. Dalam pemahaman Waryono, predikat sawa’ dalam kalimat tersebut bukan sekedar wacana, juga disertai amal (aksi) yang mencerminkan kalimat tersebut. Dalam pemahaman atas isu ini, Thabathaba’i mengungkapkan tentang tauhid teoretis (tauhid nadhari) dan tauhid praktis (tauhid ‘amali), sehingga ajakan kepada tauhid, bukan sekedar keyakinan (i’tiqad), namun juga perbuatan (hal. 102).

Dalam buku ini, dijelaskan tentang pemahaman atas Agama Ibrahim. “Agama Allah itu tunggal, yaitu agama tauhid dan itulah agama Ibrahim (din Ibrahim) yang wajib diikuti semua manusia. Agama Ibrahim dan orang-orang yang mengikutinya disebut Islam dan agama yang haq,” (hal. 104).

Dalam pandangan Thabathaba’i, millah merupakan al-sunnah al-hayawiyyah al-maslukah baina al-nas, yakni sunnah yang hidup dan berlaku di antara manusia. Dalam konteks ini, Millah mengandung pengertian bahwa tuntutan yang didiktekan atau yang diambil dari orang lain, kemudian menjadi thariqah atau cara pandang kehidupan.

Millah Ibrahim mempunyai tiga prinsip dasar yang saling berkait, yakni mengakui Allah sebagai Tuhan, hanya percaya kepada Allah sebagai Zat Yang MahaKuasa, serta menerima dan menjalankan semua perintahNya meluai ajaran nabi/Rasul. Tiga prinsip inilah yang menjadikan seorang hamba menjadi muslim yang hanif, yang menjadikan akhlak terpuji sebagai sikap hidupnya. Seraya menebar kebaikan kepada semua makhluk dan membuka ruang-ruang dialog bagi perbedaan.

Dalam pandangan Thabathaba’i, agama memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai alat kontrol terhadap perbuatan-perbuatan manusia, sebagai sarana pendorong kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar, sebagai peringatan perbuatan manusia, serta sebagai pengingat bahwa Allah sebagai penguasa alam semesta dan semua makhluk. Lebih lanjut, Thabathaba’i menegaskan bahwa agama merupakan sistem yang paling baik untuk mengorganisasi masyarakat manusia (hal. 110).

Buku ini berusaha mengajak pembaca untuk melakukan dialog teologis atas agama-agama samawi, atau yang disebut Millah al-Ibrahim. Agama-agama yang lahir dari penafsiran teologis dari keturunan Nabi Ibrahim: Yahudi, Nasrani dan Islam. Buku ini, membuka dialog antar agama, dengan berpijak pada tafsir al-Mizan, karya Imam Thabathaba’i. Figur Thabathaba’i menjadi jaminan atas karya elegan yang menggabungkan filsafat dengan tafsir al-Qur’an (Munawir Aziz).

 

Data Buku:

Waryono Abdul Ghafur | Persaudaraan Agama-Agama, Millah Ibrahim dalam Tafsir al-Mizan

Mizan, November 2016

Tebal: xiv+247 hal.

ISBN: 978-602-441-004-9