Belajar Tasawuf: Amal yang Amanah

Belajar Tasawuf: Amal yang Amanah

Belajar tasawuf, bagaimana sih menjadikan amal kita terus mengalir

Belajar Tasawuf: Amal yang Amanah

Setiap orang yang berusaha menunjukkan ketaatan kepada Allah niscaya akan beramal saleh karena ada amanah dari Tuhan yang dipikul oleh manusia.

Ada perbedaan antara sekadar merasa diterima dengan diterima sungguhan. Setiap orang bisa saja merasa ibadahnya sudah bagus, tetapi penilaian dari Allah tentu berbeda dari penilaian manusia karena Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Penilaian manusia, baik saat menilai diri sendiri maupun orang lain, tetap terbatas. Dengan keterbatasannya itu, manusia tidak bisa memastikan penilaian dari Zat Yang Mahatakterbatas, dan tak bisa memastikan secara paripurna apakah amalnya sudah sesuai dengan kehendak Allah.

Banyak pendapat berbeda tentang menunaikan amanah, amal saleh dan penerimaan oleh Tuhan ini, baik dalam kitab tafsir Quran, syarah hadis, ilmu kalam (teologi), kitab tasawuf, filsafat agama dan ribuan buku sejenis yang membahasnya. Kita bisa belajar dengan membaca dan mengaji kepada ulama yang mendalam ilmunya.

Kalau kita tak berhenti belajar dan mengaji niscaya kita akan menyaksikan dan merasakan betapa luas dan dalamnya salah satu dari sekian banyak persoalan ilmu agama. Karenanya ada pepatah ilmu padi — semakin konsisten/istiqomah belajar, semakin tahu bahwa kita lebih banyak tidak tahu. Dan bahkan satu keping pengetahuan yang kita anggap tahu itupun tak pernah sempurna kita pahami. Maka idealnya orang yang terus belajar akan semakin rendah hati.

Misal, orang yang istiqomah belajar menunaikan amanah membentuk akhlak mulia, baik akhlak perbuatan lahir maupun dalam dimensi spiritual, akan semakin sadar dan menjauhi sikap sombong, amarah, menghina orang lain, kata kasar dan caci-maki, menyakiti hati, dan semacam itu.

Karena amanah itu didelegasikan kepada kita, artinya hakikat amanah itu bukan milik kita. Kita hanya harus menjalankan dan memelihara amanah itu dengan amal saleh dan mengembalikan hakikatnya kepada si pemilik amanah. Dalam “pemeliharaan” dan “pengembalian” amanah inilah terdapat kunci yang membukakan pintu pengenalan (makrifat) Allah sebagaimana Dia kehendaki dan izinkan, bukan sebagaimana yang kita pikir-pikirkan dengan akal yang terbatas.