Belajar Etika dari Umar dan Utsman

Umar bin Khattab merupakan salah satu sahabat nabi yang paling disegani. Poto ini bukanlah Umar, melainkan seorang aktor yang memerangkan sosok beliau

Belajar Etika dari Umar dan Utsman

Suatu ketika Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman mendapat tugas dari Rasulullah Saw. tugas belum selesai namun telah tiba waktu shalat Ashar. Saat itulah terjadi perdebatan siapa yang selayaknya menjadi imam. Perdebatan tersebut terekam dalam dialog berikut ini :

Umar     : Anda majulah dan imami kami shalat !

Ustman   : Anda lebih pantas maju daripada saya karena Rasulullah saw. telah mengajukan anda dan memuji anda.

Read More

Umar     : Saya tak mungkin maju di depan anda karena saya mendengar Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Utsman. Ia menanntuku, istri putriku dan Allah mengumpulkan nurku dengannya”.

Utsman   : Saya tak mungkin maju di depan Anda karena saya sungguh mendengar Rasulullah saw.bersabda, “ Umar, dengannya Allah menyempurnakan Islam.”

Umar     : Saya tak mungkin maju di depan Anda karena saya sungguh mendengar Rasulullah saw.bersabda, “Utsman, malaikatpun malu kepadanya.”

Umar     : Saya tak mungkin maju di depan Anda karena saya sungguh mendengar Rasulullah saw.bersabda, “Utsman mengumpulkan Al-Quran dan kekasih ar-rahman (Dzat Yang Maha pengasih).”

Utsman: Saya tak mungkin maju di depan Anda karena saya sungguh mendengar Rasulullah saw.bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Umar. Ia selalu memperhatikan para janda dan anak yatim serta membawa makanan pada mereka di saat semua tidur.”

Umar     : Saya tak mungkin maju di depan Anda karena saya sungguh mendengar Rasulullah saw.bersabda tentang Anda, “Semoga Allah mengampuni Utsman, orang yang telah menyediakan persiapan pasukan perang di kala sulit.”

Utsman   : Saya tak mungkin maju di depan Anda karena saya sungguh mendengar Rasulullah saw.bersabda tentang Anda,”Ya Allah, mulyakanlah islam dengan Umar bin Khattab.” Rasulullah juga telah menggelari Anda dengan Al-Faruq, dengan Anda Allah memisahkan perkara haq dan batil.

Perdebatan tersebut sampai kepada Rasulullah saw. beliau kemudian memanggil mereka dan memuji adab mereka satu sama lain.

 

Sumber : Nûr al-Abshâr fî Manâqib Âli an-Nabi al-Mukhtâr karya Syekh Mukmin bin Hasan Mukmin as-Syabalanjiy.