
Dalam keyakinan umat Islam, semua Nabi dan Rasul, dari Nabi Adam sampai Nabi Isa, dan kemudian disempurnakan oleh Nabi Muhammad , semuanya adalah Muslim. Dalam Al-Quran, tepatnya di Surat Ali Imran ayat 19, Allah menegaskan:
إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ
Artinya:
“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”
Karena itu, semua Nabi dan Rasul adalah Muslim, dan mereka yang tidak mengikuti ajaran mereka, seperti Firaun dan Namrud, disebut sebagai orang kafir.
“Ini juga penegasan dari Tuhan bahwa Tuhan itu konsisten dengan apa yang disebut kebenaran, sejak awal manusia sampai kiamat kebenaran itu satu. Perbedaannya kemudian antara Islam Nabi Muhammad dan Rasul sebelumnya terletak pada syariat, atau aturan dan hukum pada aspek-aspek yang tidak mendasar, yang memang berbeda-beda antara nabi-nabi. Namun inti ajaran mereka tetap sama, yaitu Islam,” Jelas Habib Husein Ja’far al-Hadar.
Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah Islam secara substansi dan juga syariat. Islam yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya hanya mencakup substansi atau inti ajarannya saja, sedangkan syariatnya berbeda-beda. Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah yang sempurna, tidak hanya pada inti ajaran, tetapi juga pada syariatnya. Hal ini karena Nabi Muhammad diutus untuk seluruh alam semesta, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Anbiya ayat 107:
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
Artinya:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia, sementara nabi-nabi sebelumnya diutus untuk umat dan zaman mereka masing-masing. Contohnya, Nabi Luth diutus untuk kaum Luth, Nabi Musa untuk Bani Israil, Nabi Saleh untuk kaum Tsamud, dan seterusnya. Semua Nabi dan Rasul itu diutus untuk kaumnya masing-masing. Hanya Nabi Muhammad yang diutus untuk alam semesta.
“Substansi ajaran Nabi dan rasul semuanya adalah tetap Islam, karenanya mereka menyebut diri mereka sebagai muslim. seperti yang tercantum dalam Surat Yunus ayat 72, di mana Nabi Nuh menyebut dirinya sebagai seorang Muslim, dan juga dalam Surat Al-Baqarah ayat 136, yang menyebutkan Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Ibrahim, Nabi Yakub, Nabi Ismail, dan Nabi Ishaq yang semuanya menyebut diri mereka sebagai Muslim,” Tegas Habib Husein Ja’far al-Hadar
Selain itu, syariat yang mendasar juga telah ditetapkan pada nabi-nabi sebelumnya, seperti yang tercatat dalam Surat Al-Ma’idah ayat 27, di mana perintah berkurban telah diberikan sejak Nabi Adam kepada anak-anaknya, Habil dan Qabil, yang menjadi umatnya Nabi Adam. Begitu juga dengan puasa, yang disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 183, bahwa puasa telah diwajibkan kepada umat Islam sebagaimana juga diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya. Hanya saja cara berkurban dan cara berpuasanya itu berbeda-beda. Inti semuanya sama, mengorbankan diri dan menahan diri.
Dengan demikian, Islam dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad adalah satu dan sama dalam substansinya: menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Perbedaannya hanya pada syariat yang menyesuaikan dengan zaman dan kaum yang diutus nabi tersebut. Sedangkan nabi Muhammad sudah sempurna islam di tangan beliau. Itu pun karena zaman berubah, butuh pembaruan di level kecil, karenanya Nabi memperkenankan perbedaan di kalangan umat Islam.
Contoh pembaharuan dalam ibadah terjadi pada masa Khalifah Utsman, di mana adzan shalat Jumat pada awalnya hanya dilakukan sekali, namun kemudian menjadi dua kali karena perkembangan jumlah umat Islam dan wilayah yang lebih luas.
Akan tetapi, pada hal-hal yang bersifat substansi, seperti jumlah rakaat shalat, tidak dapat berubah. Misalnya, shalat subuh tetap dua rakaat, tidak bisa ditambah menjadi tiga meskipun dalam keadaan tertentu.
Lalu, apakah Nabi Adam hingga Nabi Isa juga melakukan shalat? Dalam berbagai riwayat, termasuk dalam Al-Quran, kita menemukan bahwa mereka juga melakukan shalat. Shalat adalah ibadah yang merupakan bagian dari ajaran semua Nabi dan Rasul, meskipun caranya berbeda-beda. Dalam Surat Al-Ma’idah ayat 12, dikisahkan bahwa Nabi Musa dan kaumnya juga shalat, dan dalam Surat Maryam ayat 31, disebutkan bahwa Nabi Isa dan kaumnya juga melaksanakan shalat.
“Jadi shalat itu adalah ajaran yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhamamd. Bedanya, cara dan jenis shalat mereka,” Ungkap Habib Husein Ja’far al-Hadar
Nabi Adam, misalnya, melakukan shalat ketika fajar, mirip dengan shalat subuh kita, yang terdiri dari dua rakaat. Dengan asumsi, rakaat pertama sebagai bentuk syukur atas terlepasnya dari kegelapan malam, dan rakaat kedua sebagai syukur atas tibanya cahaya. Semua Nabi menjalankan shalat dengan cara mereka masing-masing sebagai bentuk penghambaan mutlak kepada Allah.
Nabi Muhammad juga melaksanakan shalat, baik sebelum menerima perintah salat secara langsung dari Allah pada peristiwa Isra Mi’raj, maupun setelahnya. Beliau juga mengajarkan bahwa jarak terdekat kita dengan Allah adalah saat kita sujud dalam shalat.
Jadi shalat adalah ajaran inti dari semua Nabi. Karena itu Nabi Muhammad katakan, perintah dalam Islam adalah shalat, berkata jujur, dan menjaga harga diri.
Perintah salat juga menjadi hal yang pertama kali diperintahkan kepada umat Nabi Muhammad, diikuti dengan perintah untuk berkata jujur dan menjaga harga diri. Karenanya, kalau anda suka hoax dan tidak punya harga diri, anda bukan muslim sejati.
“Itu yang menjadi dasar seorang muslim. Kalau anda tidak shalat, ia tidak hanya melanggar syariat Nabi Muhammad, tetapi juga seluruh Nabi dan Rasul tidak mengakui anda,” Tutup Habib Husein Ja’far al-Hadar.