Al-Quran dan Nabi Muhammad Merespon Blasphemy

Al-Quran dan Nabi Muhammad Merespon Blasphemy

Penembakan Charlie Hebdo memicu kecaman dari dunia internasional. Bagaimana sesungguhnya Islam memandang blasphemy?

Persoalan tentang hal-hal yang dianggap menghujat simbol-simbol sakral agama (blasphemy) tidaklah baru dalam sejarah Islam. Dalam tiga dekade mutakhir, umat Islam sudah beberapa kali mengalaminya. Di antara hal itu yang kemudian menjadi isu global, misalnya, kasus Salman Rushdie dengan Satanic Verses-nya, kartun Danish di surat kabar Denmark Jyllands-Postenfilm Innocence of Muslims, gerakan pembakaran al-Quran di Amerika, hingga yang terakhir satir-satir di majalah Perancis, Charlie Hebdo.

Terhadap hal-hal yang dianggap blasphemy itu, respon dari umat Islam kontemporer cukup beragam: dari yang diam tak tahu-menahu (karena tak baca berita), tahu tapi mengabaikannya (karena merasa itu urusan nun jauh di sana), menggelar aksi protes damai, fatwa mati atau ancaman pembunuhan, hingga membunuh betulan. Dan setelah terjadi pembunuhan, segeralah mengemuka debat atau diskusi tentang siapa yang paling bertanggungjawab terhadap hal itu; apakah hal itu merepresentasikan Islam (atau, persisnya, orang-orang Islam); apakah ajaran Islam bisa kompatibel dengan free speech yang menjadi nilai dasar demokrasi; apakah Islam mengajarkan pembunuhan terhadap pelaku blashpemy; dan sebagainya.

Ada beberapa orang yang menghubung-hubungkan kasus-kasus itu dengan Islam karena pelaku kriminalnya memang membawa simbol-simbol Islam (dengan bendera yang mengandung syahadat, misalnya, atau meneriakkan takbir, atau, seperti diberitakan dalam kasus Charlie Hebdo, mereka yang membunuh itu mendaku membalas dendam atas nama Muhammad). Bahkan, pengasosiasian itu implisit disetujui oleh beberapa Muslim di sini, di negeri ini, dengan tanpa rasa bersalah dan malah bangga menyatakan, antara lain, bahwa hukuman mati terhadap penghina Nabi itu benar, atau bahkan membuat alibi “salah situ yang mulai memprovokasi.” Jadi, argumen Islamofobia yang mengidentikkan Islam dengan pembunuhan karikaturis yang dianggap menghina Nabi itu telah dikonfirmasi oleh beberapa Muslim itu.

Read More

Mayoritas orang Islam kini, sejauh yang saya baca dalam berita-berita, menentang tindakan pembunuhan terhadap mereka yang melakukan blasphemy terhadap simbol-simbol suci Islam.  Dan memang, terdapat secercah kesan, para jubir komunitas Islam khusunya di Barat mesti terus berulang kali menyatakan ke publik Barat bahwa mereka yang membunuh itu sangat minoritas dalam Islam, sehingga tak merepresentasikan Islam (atau, persisnya, umat Islam). Jenis respon lainnya, mereka yang membunuh itu adalah ekstremis, radikal, teroris, dan istilah-istilah lain yang senada, sehingga tak usah disangkut-pautkan dengan agama (karena, sering dikatakan, terrorism has no religion, terorisme tak punya agama). Berbagai jenis respon lain dapat Anda temui di artikel-artikel hingga status Facebook dan cuitan-cuitan di Twitter. Di antaranya ada yang reaktif-apologetis (dan tidak ada yang salah dengan reaktif-apologetis selama ia proporsional), tapi juga ada yang perlu dihayati, terutama tentang standar ganda dalam penerapan free speech dan pengasosiasian terorisme kepada agama tertentu, bukan kepada tindakan kriminalnya.

Baca selengkapnya di blog Aziz Fachrudin