Agama dan Hal-Hal yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya di Amerika Latin: Cara untuk Mengatasi Rasisme dan Ketidaksetaraan

Agama dan Hal-Hal yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya di Amerika Latin: Cara untuk Mengatasi Rasisme dan Ketidaksetaraan

Penting untuk diingat bahwa postur dominan di antara agama-agama adalah yang membela pluralisme, demokratisasi negara, menghargai partisipasi warga negara, dan penyelesaian resolusi konflik domestik dan internasional.

Agama dan Hal-Hal yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya di Amerika Latin: Cara untuk Mengatasi Rasisme dan Ketidaksetaraan
Foto: Akun Twitter @alexandrebrasil

Pada akhir abad ke-20, dunia menyaksikan agama yang semakin melimpah secara tak terduga. Konflik agama dalam skala global mendapatkan perhatian dan menciptakan apa yang disebut “agama publik” (Casanova, 1994).

Terdapat konsensus bahwa “Era Sekuler” tidak lagi mewakili gagasan penolakan eksistensi agama, tetapi sebagai upaya untuk memahami kondisi dan syarat keberadaannya (Taylor, 2007) serta perannya (Kuru, 2009). Di Brasil, baru dalam beberapa tahun terakhir, negara Katolik terbesar di dunia itu mengalami pluralisme agama yang efektif (Fonseca, 2020).

Ketidaksetaraan Brasil ditunjukkan secara dramatis dalam kaitannya dengan warna kulit. Kurang lebih dari setengah populasi, orang kulit hitam menderita di bawah rasisme kekerasan yang terus berlanjut setiap hari. Tidak ada data yang menyelisihi realitas ini: di antara 10% populasi terkaya, hanya 15% yang berkulit hitam. Sedangkan 70% dari 10% termiskin berkulit hitam (Martins 2001).

Di Brasil, data perkiraan terbaru menunjukkan bahwa 55% dari populasi di sana adalah Katolik dan 30%-nya adalah evangelis, yang mayoritas adalah Pentakosta. Sedangkan sisanya adalah 17% dari populasi, atau 35 juta jiwa. Artinya, Brasil memiliki jemaat Pentakosta terbesar di dunia.

Dalam beberapa situasi, para jemaat itu telah bertindak sebagai agen emansipasi sosial dan gencar mempromosikan hak asasi manusia (Santos 2013). Ini menunjukkan potensi adanya kontribusi (dari pihak Pentakosta) pada transformasi sosial, terutama mengingat kehadiran mereka yang tidak proporsional di antara perempuan, orang miskin, dan orang kulit hitam–umumnya berlokasi di kota-kota kumuh dan di pinggiran kota.

Untuk mengidentifikasi kontribusi gereja Injili terhadap transformasi sosial, perlu adanya obervasi dari kita yang melampaui eksistensi para pendeta itu, yaitu dengan kehadiran media dan para pemimpin denominasi.

Apa yang kita lihat dengan jelas dalam pemilihan presiden baru-baru ini adalah perpaduan yang disayangkan antara agama dan politik oleh kebanyakan pemimpin, di tengah penyebaran berita hoaks dalam skala besar di gereja-gereja, serta politisasi agama oleh beberapa orang pemimpin politik sehingga membahayakan nilai-nilai demokrasi yang fundamental.

Karenanya kita perlu melihat sudut pandang lain, ke para pemimpin tingkat menengah, kepada kearifan lokal, dan inisiatif dalam jaringan kecil solidaritas dan dukungan sosial.

Amerika Latin adalah tempat kelahiran Teologi Pembebasan, yang muncul dari Katolik dan berusaha mengembangkan iman Kristen yang berelasi secara sosial. Dalam dunia injili, ada Theology of Integral Mission, yang menekankan pentingnya kontekstualisasi. Ini, di benua seperti Amerika Latin, adalah dasar bagi kelompok-kelompok Kristen yang mencari emansipasi sosial, mengatasi ketidaksetaraan dan rasisme.

Dialog teologi Kristen ini, melalui karya seorang guru Brasil, Paulo Freire, menjadi penting. Saya akan menekankan di sini konsep conscientização (peningkatan kesadaran), hasil dari proses di mana orang melihat sekeliling mereka dengan lebih jelas.

Conscientização adalah perilaku pengetahuan, pendekatan kritis terhadap realitas. Ini adalah proses pendidikan yang disiplin dan direncanakan, yang dicirikan sebagai tindakan budaya. Sebuah proses berkelanjutan yang berimplikasi pada sebuah praksis, dengan hubungan dialektis antara tindakan dan refleksi (Freire, 1980).

Psikolog Argentina, Daniel Schipani (1993) berbicara tentang teologi implisit conscientização: “Freire menegaskan bahwa, tanpa iman, dialog yang membebaskan tidak dapat terjadi; tanpa cinta, tidak ada ruang untuk transformasi dan revolusi yang otentik; dan tanpa harapan kita tidak mungkin berjuang untuk dunia yang lebih baik”.

Freire berpendapat bahwa conscientização ini, penguasaan realitas, dunia, orang lain dan diri sendiri, melalui dialog dan pendidikan, akan mampu meningkatkan kemungkinan mengatasi kondisi kehidupan dan mengubah realitas.

Conscientização mengajak kita untuk mengambil sikap utopis terhadap dunia. Freire memahami utopia itu sebagai dialektika antara syiar dan kecaman; tindakan mengecam struktur yang tidak manusiawi dan mensyiarkan struktur yang humanis. Semakin kita sadar, semakin mampu kita menjadi penyiar dan pengecam.

Contoh para pengecam realitas Amerika Latin sangat banyak. Para pemimpin melawan ketidaksetaraan dengan cara damai dan melalui dialog. Orang-orang Kristen yang mencela situasi ketidakadilan dan mensyiarkan cara-cara untuk menyelesaikannya. Mereka adalah cahaya yang mengudar dan garam yang “mengawetkan” dan mempromosikan. Tindakan ini melibatkan pencarian akan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana “realitas tidak diberikan tetapi merupakan sebuah konstruksi sosial, dan oleh karena itu dapat diubah” (Freitas 2005:5).

Dalam mengambil sikap kesadaran kritis, kami juga mengambil jalan perjuangan untuk membangun yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, dalam sikap kesabaran sejarah. Untuk itu, berharap saja tidak cukup. Kita harus mengetahui kapan berharap dan kapan bertindak.

Di Peru, tindakan para pemimpin Evangelis merupakan inti dari proses rekonsiliasi nasional. Konflik besar diatasi dan demokrasi diperkuat, melalui proses kesadaran dan pembangunan yang belum pernah terjadi sebelumnya tetapi layak. Aksi kekerasan dan konflik bersenjata terjadi, tetapi organisasi Peace and Hope mampu melibatkan berbagai lapisan masyarakat, membangun jembatan dan membangun aksi yang efektif dan luas untuk mempromosikan dan membela hak asasi manusia (López 1989).

Dalam kasus Brasil, aksi kelompok-kelompok agama merupakan locus yang mampu membangun jembatan antara masyarakat sipil dan Negara, yang melibatkan sektor-sektor penting dalam mempromosikan perdamaian dan aksi-aksi yang berkontribusi pada penguatan demokrasi serta mengatasi ketidaksetaraan dan rasisme. Ada beberapa contoh mengenai realitas ini (Santos 2013; Miller dan Morgan 2019).

Untuk itu, penting untuk diingat bahwa postur dominan di antara agama-agama adalah yang membela pluralisme, demokratisasi negara, menghargai partisipasi warga negara, dan penyelesaian resolusi konflik domestik dan internasional.

Seperti yang ditunjukkan dalam pengalaman Peace and Hope, bahwa memungkinkan untuk bertindak dengan membangun dan memelihara jaringan luas yang mengambil agenda seputar kemajuan dalam pertanyaan-pertanyaan sosial; seputar berkurangnya kekerasan, ujaran kebencian dan ketidaksetaraan; juga seputar menghadapi rasisme, xenofobia dan kebencian terhadap wanita; dan soal promosi bentuk pembangunan yang berkelanjutan dan yang menghargai penghormatan terhadap keragaman dan inklusi sosial.

 

*Artikel ini merupakan versi terjemah Bahasa Indonesia dari makalah Alexandre Brasil Fonseca yang berjudul Religion and the unprecedented-but-viable in Latin America: ways towards overcoming racism and inequalities”. Makalah ini dipresentasikan untuk Forum R20 Summit di Nusa Dua, Bali (2-3 November 2022). 

Untuk diketahui, Alexandre Brasil Fonseca adalah sosiolog dan Profesor di Institut NUTES untuk Pendidikan Sains dan Kesehatan dan Wakil Rektor di Universitas Federal Rio de Janeiro (UFRJ), Brasil. Dia adalah anggota koordinasi umum kolektif profesor kulit hitam di UFRJ. Dari 2012-2016 ia menjadi penasihat khusus Presiden Brasil untuk urusan agama.

 

Bacaan

CASANOVA, J. (1994). Public religions in the modern world. Chicago: UCP.

FONSECA, A. B. (2020). Religious Intolerance in Brazil: An Analysis of the Social Reality. In: Vitorino, R. (Org.). Latin American Perspectives on Law and Religion. Springer International Publishing, p. 95-115.

FREIRE, P. (1980). Conscientização: teoria e prática da libertação: uma introdução ao pensamento de Paulo Freire. São Paulo, Moraes.

FREITAS, A. L. (2005). Pedagogia do inédito-viável: Contribuições de Paulo Freire para fortalecer o potencial emancipatório das relações ensinar-aprender-pesquisar. Recife: V Colóquio Internacional Paulo Freire. Disponível em http://www.paulofreire.ufpb.br.

KURU, A. (2009). Secularism and State Policies toward Religion: The United States, France, and Turkey. Cambridage, CUP.

LÓPEZ, D. (1998). Los evangélicos y los Derechos Humanos. Lima: Puma.

MARTINS, R. B. (2001). Desigualdades raciais no Brasil. Rio de Janeiro: IPEA.

MILLER, E.; MORGAN, R. (orgs.) (2019). Brazilian Evangelicalism in the Twenty-First Century: An Inside and Outside Look. New York. Palgrave.

SANTOS, B. S. (2013). Se Deus fosse um ativista dos Direitos Humanos. São Paulo: Cortez.

SCHIPANI, D. (1993). Teología del Ministerio Educativo: Perspectivas Latinoamericanas. Buenos Aires: Eerdmans.

TAYLOR, Charles (2007). A secular age. Cambridge: Harvard University Press.