Saya Membayangkan Islam Indonesia Tanpa Muhamadiyah dan NU

Saya Membayangkan Islam Indonesia Tanpa Muhamadiyah dan NU

Tanpa dua ormas penting ini, Muhamadiyah dan NU, apa jadinya nasib Islam di Indonesia?

Saya Membayangkan Islam Indonesia Tanpa Muhamadiyah dan NU
Keduanya merupakan ulama besar dan pendiri dua organisasi besar di Indonesia: Muhammadiyah dan NU. Pict by Muslimdaily.net

Judul di atas sempat terbesit di pikiran penulis setelah mengikuti seminar bertajuk “Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi Damai Nusantara Untuk Dunia” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM pada Jum’at 25 Januari 2019. Selain untuk mengemukakan penemuan riset mereka yang dituangkan dalam buku Dua Menyemai Damai Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi, seminar ini juga dalam rangka mendukung dua organisasi Muslim Indonesia terbesar tersebut untuk meraih Nobel Perdamaian.

Dalam sambutannya, Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono mengatakan bahwa proses transisi dan konsolidasi demokrasi dapat berjalan dengan baik di Indonesia berkat dukungan dan keterlibatan aktif masyarakat madani yang digerakkan oleh NU dan Muhammadiyah.

Senafas dengan itu, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Abdurrahman Mohammad Fachir menceritakan bahwa Islam moderat ala Indonesia merupakan aset diplomasi yang sangat penting dalam pergaulan Indonesia dengan dunia global. Indonesia termasuk negara yang paling aktif mempromosikan interfaith dialogue.

PBNU ketika masih dipimpin oleh KH. Hasyim Muzadi menginisiasi International Conference of Islamic Scholars (ICIS) pada tahun 2004 dan 2006 yang dihadiri peserta dari 53 negara untuk menyuarakan pesan-pesan damai Islam tatkala pandangan negatif atas Islam kian merebak pasca peristiwa WTC 11 September 2001.

Sementara itu, Prof. Din Syamsuddin yang merupakan Mantan Ketua PP Muhammadiyah pernah ditunjuk sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP), sebuah organisasi lintas iman bergengsi di tingkat global. Fachir juga mengisahkan bahwa kini di Afghanistan sudah berdiri NU. Begitu juga Muhammadiyah yang sudah meluaskan perannya di Filipina dan Thailand.

Dari kelompok Muhammadiyah keynote speech disampaikan oleh Buya Syafii Ma’arif. Menurut Buya, kalangan Muslim moderat harus speak up!. “Jangan sampai yang waras mengalah nanti kita didominasi oleh orang yang tidak waras,” pungkas beliau. Buya juga menegaskan agar kita mengantisipasi jangan sampai terjadi “pembusukan peradaban” di tanah air kita.

Yahya Cholil Staquf sebagai representasi dari NU menyampaikan bahwa Pancasila dan NKRI sudah menjadi konsensus para ulama dan umaropendiri bangsa. “Meski dari perspektif Islam yang sangat ortodoks tidak ada ayat atau hadis yang menyebut secara literal “persatuan Indonesia” atau “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”, tetapi ini sudah menjadi konsensus yang harus kita jaga,” tegas beliau.

Empat pembicara lainnya, yaitu Prof. Azyumardi Azra, Dr. Jose Manuel Ramos Horta, Prof. Dr. Mark Woodward, dan Tim Riset PSKP, juga bersepakat atas besarnya peran NU dan Muhammadiyah. “Dari segi pendidikan, ada sekitar 24 ribuan pesantren yang sebagian besarnya berada di bawah naungan NU. Begitu juga Muhammadiyah, ada 15 ribuan sekolah dan 954 perguruan tinggi yang dikelola,” kata Azra, “yang kesemua ini mengajarkan model Islam wasathiyyah (moderat).”

Ketika para peneliti sudah mengemukakan begitu besarnya jasa kedua organisasi ini, maka apa yang akan terjadi jika seandainya kedua organisasi ini tidak pernah hadir di bumi nusantara? Yang terjadi adalah tidak akan ada cerita optimistik seperti yang digambarkan di atas.

Bisa saja Indonesia akan mengalami huru-hara, konflik berdarah, lalu hancur lebur seperti yang terjadi di Timur Tengah atau mengalami apa yang disebut oleh Buya Syafii Ma’arif sebagai “pembusukan peradaban”. Tanpa peran NU dan Muhammadiyah, sebagian oknum akan terus mempertentangkan antara nasionalisme dan keislaman yang bisa memicu tercabik-cabiknya kebinekaan. Tanpa kehadiran NU dan Muhammadiyah, bisa saja Indonesia bubar di tahun 2030 mendatang.

Sebelum menutup orasinya, Fachir mengatakan bahwa lebih dari 41% warga Amerika Serikat melihat Islam sebagai agama yang mendorong kekerasan. Ini adalah panggilan bagi NU dan Muhammadiyah yang telah berjasa di lingkup nasional agar segera mengepakkan sayapnya lebih tinggi lagi dan menampilkan kepada dunia the smiling face of Islam, wajah Islam nan tersenyum manis.

Kepada para pendiri NU dan Muhammadiyah lahum al-fatihah.