7 Wasiat Tamu kepada Ibrahim bin Adham: Dari Larangan Banyak Bicara Hingga Riya’

7 Wasiat Tamu kepada Ibrahim bin Adham: Dari Larangan Banyak Bicara Hingga Riya’

Suatu hari datang beberapa tamu kepada Ibrahim bin Idham. Mereka memberikan tujuh wasiat yang sangat berharga kepadanya.

7 Wasiat Tamu kepada Ibrahim bin Adham: Dari Larangan Banyak Bicara Hingga Riya’

Banyak kisah yang menceritakan sosok ulama sekaligus ahli sufi, Ibrahim bin Adham. Sufi satu ini berasal dari Balkh yang sekarang lebih dikenal dengan Afghanistan. Sebenarnya Ibrahim adalah salah seorang putra mahkota kerajaan. Ia meninggalkan segalah gerlap duniawi menuju perjalanan ilahi. tamu

Ibrahim bin Adham diceritakan mengenai kebiasaannya yang suka berburu. Kebiasaan ini diajarkan oleh ayahnya yang juga seorang raja di Khurasan. Ketika hendak menuntaskan perburuannya, ia mendengar suara gaib yang berbunyi, “Bukan untuk hal ini kau diciptakan, bukan hal ini engkau wajib lakukan”.

Suara tersebut membuat Ibrahim bin Adham menghentikan perburuannya, ia lihat sekelilngnya tidak ada orang sama sekali. Hanya ada anjing yang memang dibawa dalam perburuan tersebut. Peristiwa ini konon menjadi cikal bakal pertaubatan seorang pangeran dari Khurasan tersebut.

Cerita lain juga dikisahkan oleh Syaikh Muhammad Amin al Kurdi dalam karyanya Tanwirul Qulub. Kisah Ibrahim bin Adham diceritakan dalam bab Tasawuf yang membahas tentang persoalan kasrotul kalam (banyak bicara).

Suatu hari sekelompok orang bertamu kepada Ibrahim bin Adham. Ia menyambut tamu-tamu tersebut. Kemudian diketahuinya bahwa tamu-tamu yang datang ini adalah gerombolan orang-orang yang mulia.

Berkatalah Ibrahim bin Adham kepada tamu-tamunya, “Wasiatilah aku dengan wasiat yang dapat menyababkanku takut kepada Allah seperti takutnya kalian kepada-Nya.” Ibrahim meminta tamu-tamunya untuk memberikan nasihat kepadanya.

Berkatalah para tamunya, “Kami akan memberikan wasiat berupa tujuh perkara.” Para tamu itu kemudian memberikan tujuh perkara sebagai wasiat yang diminta oleh Ibrahim bin Adham kepada mereka.

Apa saja tujuh perkara yang diwasiatkan para tamu untuk Ibrahim bin Adham?

Pertama, para tamu itu mewasiatkan,

من كثر كلامه فلاتطمع في يقظة قلبه

“Siapa yang banyak bicaranya, maka jangan harap akan terjaga hatinya.

Dalam keterangan sebelumnya, mushonif menyertakan sebuah hadist yang berbunyi, “Jangan banyak berbicara selain menyebut nama Allah, maka sesungguhnya banyak bicara selain menyebut nama Allah menyebabkan kerasnya hati, dan sesungguhnya manusia paling jauh dari Allah adalah mereka yang keras hatinya” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah waghairihima).

Wasiat kedua,

من كثر كلامه فلاتطمع في ان تصل اليه الحكمة

“Siapa yang banyak bicaranya, maka jangan harap mendapatkan hikmah.”

Hati yang keras akan menyebabkan segalah hikmah kesulitan masuk ke dalam dirinya, karena hati sudah tidak bisa mendeteksi mana yang hikmah dan mana yang penyakit.

Ketiga,

من كثر اختلاطه بالناس فلاتطمع في نواله حلاوة العبادة

“Siapa yang kebanyakan bergaul dengan manusia, maka jangan harap memperoleh manisnya ibadah.”

Maksud kata bergaul di sini bukan berarti kita dianjurkan untuk menjadi orang yang individualis dan tidak melakukan hubungan sosial dengan orang lain. Tetapi nasihat yang dimaksud agar kita tidak berhubungan dengan manusia hingga kita melupakan ibadah dan mengurus duniawi saja. Dalam berinteraksi, juga dibutuhkan batasan-batasan dan porsi yang tepat.

Keempat,

من افرط في حب الدنيا خيف عليه سوء الخاتمة والعياذ بالله,

“Siapa yang meninggalkan kecintaan pada dunia, maka ditakutkan ia akan meninggal dengan suul khotimah. Semoga kita mendapatkan perlindungan Allah.”

Kelima,

من كان جاهلا فلاترج فيه حياة القلب ,

“Siapa yang bodoh maka jangan harap hatinya hidup.”

Bodoh dalam arti ketidaktahuannya karena memang tidak adanya ilmu. Ilmu adalah cahaya, sehingga orang yang berilmu akan menyinari hatinya.

Wasiat keenam adalah,

من اختار صحبة الظلم فلا ترج فيه استقامة الدين

“Siapa yang memilih bersahabat dengan orang yang zalim, maka jangan harap mendapatkan akan keistiqomaan dalam beragama.”

Wasiat ketujuh atau terakhir adalah,

من طلب رضاالناس فقلما ينال رضاالله تعالى عنه

Orang yang hanya mencari ridha manusia maka tidak akan sedikitpun ia memperoleh ridha Allah”

Mengapa demikian? Karena seluruh perbuatan yang kita lakukan hendaknya ditujukan kepada Allah, bukan kepada manusia. Jika kita hanya mengharap ridha manusia setiap melakukan perbuatan baik, maka kita akan tergolong dalam perbuatan riya’.

Itu lah tujuh wasiat yang diberikan oleh para tamu kepada Ibrahim bin Adham. Nasihat-nasihat tersebut juga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua akan bahayanya kasrotul kalam (banyak omong), kasrotul ikhtilatho bin nass (sering nongkrong), hubbud dunya (cinta dunia), tidak berilmu, dan melakukan sesuatu atas dasar ridhonnas bukan ridhollahi.

Semoga kita selalu dapat meneladani setiap pelajaran tersebut. (AN)

Wallahu a’lam.