20 Tahun Pusat Studi Al-Quran, Warisan Prof Quraish Shihab bagi Dunia Islam

20 Tahun Pusat Studi Al-Quran, Warisan Prof Quraish Shihab bagi Dunia Islam

20 Tahun Pusat Studi Al-Quran, Warisan Prof Quraish Shihab bagi Dunia Islam

20 Tahun Pusat Studi Al-Quran.

 

Sejak selesai ditulis pada tahun 2003, hingga kini Tafsir Al-Mishbah telah beredar selama ± 22 tahun. Selama itu pula Tafsir Al-Mishbah telah dibaca, diteliti dan menghasilkan karya akademik yang tidak sedikit. Tafsir Al-Mishbah memang menjadi magnum opus-nya Prof. M. Quraish Shihab (MQS). Namun melihat Prof. Quraish tidak cukup hanya dari Tafsir Al-Mishbah saja. Ada sekian banyak buku lain yang dapat dijadikan standing point untuk melihat Prof. Quraish lebih dalam, yang menjadikannya poros dalam kajian tafsir al-Quran di Indonesia. Lebih jauh, kontribusi dan dedikasi Prof. Quraish dalam tafsir al-Quran banyak mempengaruhi perkembangan kajian al-Quran di Indonesia. Jika ingin lebih spesifik, tafsir tematik disebut-sebut sebagai kategori tafsir yang cukup berkembang, khususnya di perguruan tinggi. Kajian (karya akademik) yang berkembang di UIN banyak dipengaruhi tren yang diawali Prof. Quraish.

 

Adalah Wawasan Al-Quran dan Membumikan Al-Quran, dua karya monumental Prof. Quraish yang memberi dampak signifikan dalam dunia tafsir, khususnya dalam pendekatan tematik. Keduanya bertagline “Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat” dan “Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat”. Sangat tampak harapan Prof. Quraish agar al-Quran benar-benar menjadi tuntunan hidup. Dua buku inilah yang meng-influence dan memantik para sarjana dan peneliti untuk menulis tafsir dengan pendekatan serupa. Karya-karya akademik dengan jenis Maudhu’i, hampir bisa dipastikan tidak lepas dari buku-buku Prof. Quraish. Meminjam istilah Prof. Ishlah, Prof. Quraish dengan dua bukunya itu punya daya dentum dan vibrasi besar, yang mendorong banyak orang untuk mengkaji al-Qur’an dengan cara yang lebih kontekstual dan relevan dengan isu kekinian.

 

Daya vibrasi gagasan dan pemikiran Prof. Quraish ini makin terakselerasi seiring berdirinya Pusat Studi Al-Quran (PSQ), lembaga yang didirikannya pada 2004 untuk menunjang kajian al-Quran dan tafsir. Dengan atau tanpa pengaruh Prof. Quraish, yang jelas ada sekian tafsir bermunculan pasca Tafsir Al-Mishbah, baik dari individu, lembaga pemerintahan, ormas, maupun instansi perguruan tinggi. Tafsir-tafsir ini tidak hanya hadir dalam bahasa Arab, tetapi juga dalam bahasa Indonesia dan bahkan bahasa daerah. Fenomena ini menunjukkan adanya upaya kolektif untuk membumikan pesan al-Qur’an dan membuatnya lebih mudah dipahami masyarakat luas.

 

Selain PSQ, upaya mendekatkan nilai-nilai al-Quran di masyarakat didukung dengan kemunculan Prof. Quraish dengan program Tafsir Al-Mishbah di televisi. Program yang mengudara sejak tahun 2004-2021 di MetroTV itu menjadi elemen penting dalam penyebarluasan kajian tafsir di Indonesia. Inilah yang disebut sebagai upaya Prof. Quraish membumikan al-Quran lewat media massa. Belakangan, Prof. Quraish bersama tim PSQ melakukan digitalisasi Tafsir Al-Mishbah dalam bentuk aplikasi. Bahkan yang terbaru Tafsir Al-Mishbah juga diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Sebuah upaya besar untuk membuat Tafsir Al-Mishbah bisa accesable, dapat disakses semua pihak.

 

Upaya Membumikan Al-Quran

 

Selain itu, ada beberapa langkah kerja yang dilakukan oleh Prof. Quraish untuk menyampaikan pesan-pesan itu.

1. Menimbang aspek sosial masyarakat dalam tafsir

Prof. Quraish menyadari bahwa pengetahuan modern memiliki metode dan cara berpikir yang didasarkan pada eksperimen atau bukti empiris. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan modern cenderung memanfaatkan data yang dapat diamati dan diuji secara langsung, serta bergantung pada pendekatan yang lebih terstruktur dan ilmiah. Dalam konteks tafsir, Prof. Quraish memandang pentingnya menimbang konteks sosial masyarakat dalam menjelaskan makna sebuah ayat. Pemahaman terhadap kondisi sosial, budaya, dan sejarah masyarakat pada saat ayat tersebut turun dan kondisi sosial di mana ayat tersebut akan diberlakukan, menjadi elemen penting untuk mencapai signifikansi makna yang sesuai. Dengan begitu, tafsir yang dihidangkan Prof. Quraish tidak hanya fokus pada makna tekstual semata, tetapi juga mengkalkulasi bagaimana agar ayat itu tetap menemukan relevansinya.

 

2. Keragaman pendapat

Upaya mendekatkan pesan al-Quran kepada pembaca juga kentara dari karya Prof. Quraish yang kerap memberikan opsi beberapa pendapat. Alih-alih menggiring pembaca untuk menganut satu pendapat tunggal, Prof. Quraish justru menghadirkan berbagai macam jawaban. Pola yang memberikan beberapa opsi pilihan pendapat ini seringkali digambarkan dengan istilah “hidangan prasmanan”, meski kemudian cara ini juga mengundang kritik. Namun keragaman pendapat ini, bagi Prof. Quraish, bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Justru menjadi sebuah anugrah sebagai solusi dan jalan alternatif, terlebih di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Hal ini semakin tampak nyata dengan misi utama yang diusung PSQ, yaitu “Membumikan Al-Quran di Tengah Masyarakat Plural”.

 

3. Media televisi

Kemunculan Prof. Quraish dengan program Al-Mishbah di televisi pada 2004 dapat dinilai sebagai salah satu upaya kuat Prof. Quraish menyebarkan gagasannya. Berbeda dengan sekarang, di tahun itu televisi menjadi satu-satunya media dan saluran yang cukup efisien dan efektif untuk menjangkau khalayak lebih luas. Televisi memiliki daya tarik yang lebih besar karena lebih mudah diakses oleh masyarakat, bahkan di daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki akses internet.

 

Program ini dikemas dengan menghadirkan audiens secara langsung di studio yang membuat suasana acara menjadi lebih hidup. Di sisi lain, terkadang program ini juga menghadirkan tokoh masyarakat sebagai tamu, berperan sebagai narasumber yang membawa perspektif berbeda terkait tema yang dibahas. Sesi tanya jawab di akhir episode bisa dilihat sebagai upaya melibatkan audiens untuk berpartisipasi aktif. Segmen ini membuka ruang klarifikasi dan diskusi untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut. Secara keseluruhan, sajian program ini lebih dari dakwah biasa. Keterlibatan audiens, kehadiran tokoh masyarakat, dan sesi tanya membuat acara ini dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Ditambah lagi, program ini tayang di waktu prime time Ramadan, yaitu saat makan sahur. Bahkan saya berkeyakinan, banyak dari kita yang mengenal Prof. Quraish bermula dari program yang tayang di MetroTV ini.

 

4. Merespon isu

Ada sekian banyak buku yang spesifik ditulis sebagai respon atas problem/isu yang tengah ramai jadi sorotan. Tujuannya tentu saja untuk memberikan perspektif yang memadai berdasar perspektif al-Quran. Dari sini, al-Quran diposisikan sebagai pedoman hidup yang harus bisa diterjemahkan ke dalam konteks sosial dan budaya yang terus berkembang. Kemampuannya merespon isu adalah bukti bahwa Prof. Quraish benar-benar memahami realitas sosial. Dengan begitu, upaya membumikan pesan al-Quran dapat diartikulasikan dengan baik. Tak hanya melalui buku, tetapi juga melalui platform talkshow yang dibawakan bersama putrinya, seperti program Shihab & Shihab dan Hidup Bersama Al-Quran. Talkshow ini banyak membahas isu kekinian yang seringkali menjadi pertanyaann banyak pihak.

 

Layak untuk menunggu inovasi yang akan terus dilakukan oleh Prof. Quraish dan Pusat Studi Al-Quran.

Mengutip kata Dr. Muchlis, “energi Prof. Quraish ini seolah tak ada habisnya. Produktifitasnya sama sekali tak luntur di usianya yang terus bertambah”.

Semoga selalu sehat dan panjang umur untuk Prof. Quraish dan seluruh keluarga Pusat Studi Al-Quran. Ya Rabb