17 Ramadhan: Wafatnya Ruqayyah binti Muhammad SAW di Tengah Suasana Kemenangan Badar

17 Ramadhan: Wafatnya Ruqayyah binti Muhammad SAW di Tengah Suasana Kemenangan Badar

Tanggal 17 Ramadhan merupakan hari kebahagiaan karena kemenangan Badar, sekaligus hari kesedihan karena wafatnya putri Rasulullah SAW, Ruqayyah binti Muhammad.

17 Ramadhan: Wafatnya Ruqayyah binti Muhammad SAW di Tengah Suasana Kemenangan Badar

Selain disyariatkannya puasa, pada tahun kedua Hijriyah juga turun perintah menunaikan shalat Id, zakat, dan perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah. Pada tahun pertama umat Islam menunaikan kewajiban puasa tersebut, mereka sudah disibukkan dengan peperangan di medan Badar. Peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW itu mendapatkan kemenangan yang luar biasa dan tak terduga. Walaupun menang, Rasulullah harus menerima kenyataan pahit atas wafat putrinya, Ruqayyah binti Muhammad pada tanggal 17 Ramadhan.

Rasulullah SAW dikaruniai empat anak perempuan dari pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwaylid, di antaranya Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah az-Zahra.

Atas perhatian dan kasih sayang yang selalu Rasulullah curahkan serta didorong dengan didikan yang luhur dari Khadijah binti Khuwaylid, keempat putri Rasulullah SAW tumbuh dengan perangai agung.

Pernikahan saat itu, menurut budaya Arab, berlangsung pada usia muda. Begitu pula dengan putri-putri Rasulullah SAW: Zainab dinikahkan dengan Abu Al-Ash bin Rabi’, Ruqayyah dan Ummu Kultsum dinikahkan dengan putra Abu Lahab yaitu Utbah dan Utaibah. Tersisa Fatimah az-Zahra yang saat itu usianya belum mencapai usia pernikahan.

Setelah Rasulullah diutus menjadi Nabi, Khadijah binti Khuwailid dan empat putri Rasulullah masuk Islam melalui dakwah secara sembunyi-sembunyi. Ketika dakwah Rasulullah mulai menyebar, banyak penolakan bahkan cacian yang datang dari pemuka Quraisy, salah satunya adalah Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil.

Hal ini mengakibatkan Ummu Jamil menyuruh kedua anaknya untuk menceraikan istri-istri mereka yaitu putri Rasulullah SAW. Abu Lahab dan istrinya berkata kepada putranya, “Ceraikainlah putri-putri Muhammad!” Pernikahan tersebut tidak berlangsung lama, kemudian kembalilah Ruqayyah dan Ummu Kultsum ke rumah ayahnya.

Rasulullah menikahkan Ruqoyyah dengan salah satu dari delapan orang yang dijuluki Assabiquna al- Awwalun sekaligus satu dari sepuluh orang yang Al-Mubasyirina bil Jannah, yaitu Utsman bin Affan. Saat Utsman hendak hijrah ke Habasyah, Rasulullah meminta agar Ruqayyah turut serta bersamanya karena kedaan kota Mekah yang masih kacau akibat penolakan atas dakwah Rasulullah.

Rombongan ini terdiri dari empat orang wanita dan dua belas laki-laki yang dipimpin oleh Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah binti Muhammad. Mereka diterima dengan baik oleh masyarakat Habasyah.

Kerinduan akan kampung halaman di Mekah mereka rasakan, terlebih setelah Utsman bin Affan dan Ruqayyah mendengar kabar Islamnya Umar bin Khattab. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Mekah bersama rombongannya. Sesampainya di kota Mekah, ternyata keadaan justru makin memburuk sehingga mengharuskan keduanya untuk melakukan hijrah lagi ke kota Madinah. Dari dua hijrah inilah Ruqayyah memiliki kunyahDzatu Hijratain’ (perempuan yang melakukan dua kali hijrah).

Tak lama setelah melakukan hijrah ke Madinah, umat Islam mendapat seruan berperang di medan Badar, namun Utsman bin Affan meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk tidak ikut serta dalam perang badar karena ingin mendampingi istrinya yang pada saat itu sedang mengalami sakit parah. Rasulullah pun mengizinkannya.

Ketika Zaid bin Haritsah mengumumkan berita kemenangan badar di kota Madinah, saat itu pula kabar duka mengaduk suasana bahagia. Putri Rasulullah SAW wafat di sisi suaminya, Utsman bin Affan pada tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Ruqoyah wafat dalam usia 22 tahun dan dimakamkan di Baqi’ al-Gharqad Madinah. (AN)

Wallahu a’lam.

 

Baca juga artikel lain tentang Sirah Nabawiyah, Sejarah Hidup Rasulullah SAW