Yang Salah Ketika Anime Ghibli Mewarnai Hari Raya dan Kita Merasa Baik-baik Saja

Yang Salah Ketika Anime Ghibli Mewarnai Hari Raya dan Kita Merasa Baik-baik Saja

Yang Salah Ketika Anime Ghibli Mewarnai Hari Raya dan Kita Merasa Baik-baik Saja

“Buatkan pesan Hari Raya” pinta Ayah saya setiap akhir Ramadan. Kala punya telepon genggam pertama kali, beliau merasa wajib mengirimkan pesan ucapan Hari Raya Idul Fitri kepada banyak langganan, vendor, hingga keluarga. Kala SMS menjadi primadona berkirim pesan, kalimat yang dikirimkan tidak saja dirangkai seindah mungkin namun juga harus memenuhi batas huruf dalam sistem.

Ayah saya hanya bergelut dengan short messenge system atau SMS. Walhasil, “ritual” ayah saya ini mungkin terasa asing atau tidak relate bagi anak muda hari ini. Kemampuan merangkai kata-kata pun vital kala itu. Sayangnya, saya kala itu hingga hari ini masih tidak memiliki kelihaian itu. Saya pun biasanya menunggu waktu menjelang Hari Raya, dan menyalin tempel pesan yang saya nilai bagus.

Jauh sebelum kemunculan ChatGPT dan Deepseek, kecerdasan buatan atau AI sudah banyak membantu membuat pesan Idul Fitri semakin bagus. Canva atau Twibbon di antara aplikasi populer menolong banyak orang yang tidak memiliki kecakapan dalam menulis. Apakah berhenti di sini, tentu saja tidak. Hari ini kita menyaksikannya.

***

Seperti bingkisan lebaran, entah siapa yang memulai, tradisi mengucapkan Selamat Hari Raya di masyarakat kita. Ucapan itu pun hari ini mengalami banyak perubahan. Teman saya pernah bercanda, “Satu hal paling awal berubah di Hari Raya adalah model ucapan.” Klaim teman saya itu mungkin bersandar pada pengamatan sederhana saja. Dia pun mungkin tidak bisa membuktikannya.

Perubahan model dan gaya pengucapan Hari Raya tahun ini mengonfirmasi perubahan yang teman saya sebutkan di atas. Bagaimana bisa? Dua hari terakhir, entah kita sadari atau tidak, penggunaan model anime khas Ghibli pun menjamur. Fenomena ini disebut-sebut didorong oleh dua hal, proses pembuatan yang mudah karna dibantu kecerdasan buatan dan irisan antara memori dan selera masyarakat Indonesia atas anime.

Iya, kegemaran masyarakat Indonesia atas anime Jepang tentu mendorong pemakaian model Ghibli menjadi lebih masif. Tren ini mungkin bertahan lebih lama, karna ditengarai warna pastel dan model anime Ghibli lebih dekat dengan kondisi dan emosi warga Indonesia beberapa waktu ini, yakni berjuang dengan dilema universal: lingkungan, identitas, dan nostalgia.

Kecerdasan buatan bagai buah simalakama. Walau, ia lebih sering dihujat, ketimbang dipuji. Padahal, penggunaan kecerdasan buatan seakan tak terpisahkan di berbagai lini kehidupan kita. Idul Fitri kali ini buktinya. Masyarakat kita telah mengalami pergeseran budaya komunikasi, dari teks ke visual. Kita mulai merasa tidak “nyaman” berkomunikasi jika harus mengetik atau mengetuk tuts di layar gawai kita. Kecerdasan buatan pun menyediakan alternatif dari ketidaknyamanan kita tersebut.

Sebelum Ghibli, kita mungkin lupa pernah menggunakan aplikasi twibbon dalam meramaikan Idul Fitri. Hanya dengan mengunggah foto yang telah dipilih, kita mendapatkan sebuah kartu ucapan Hari Raya, yang kemudian kita sebarkan di berbagai platform.

Dalam film Chunks on Earth, satu fakta satire yang diungkap di sana adalah salah satu peninggalan tulisan sejarah masa lampau yang masih bertahan hingga hari  ini, yakni emoji, karna mirip dengan Hieroglif (aksara yang digunakan di masa Mesir kuno). Ya, fakta ini mungkin sedikit memaksa, namun kita juga bisa melihat bagaimana kita berkomunikasi dengan penggunaan emoji.

Menariknya, di Hari Raya ini, emoji malah juga digunakan untuk ungkapan selamat atau membalas ucapan selamat Idul Fitri. Fenomena ini mungkin khas di aplikasi berbagi pesan. Orang tidak lagi perlu merangkai kata-kata indah nan sastrawi, hanya dengan menambahkan emoji yang disukai kala didapatkan di berbagai pesan yang didapatkan, maka emoji “Sama-Sama” atau “Mohon Maaf Lahir Batin” pun tersebar luas. Entah siapa yang memulai atau membuatnya.

Perkembangan teknologi telah mengubah cara kita berkomunikasi. Dan cara kita menyampaikan ucapan Hari Raya pun turut berubah. Setiap evolusi tentu menuntut pergeseran di berbagai sisi kehidupan.

***

Ivan Lanin, seorang “polisi bahasa”, pernah membuat konten khusus terkait ucapan hari raya dalam penulisan baku dan sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia. Beberapa tahun terakhir, konten Uda Lanin pun sempat menjadi perbincangan dan favorit banyak orang, khususnya dalam menyadari bagaimana penulisan

Selamat Idul Fitri berubah. Kala Canva dan Twibbon populer, kita “dipaksa” untuk memiliki foto eksklusif untuk dipasang sebagai model “kartu” ucapan hasil pengolahan aplikasi. Tentu, jasa fotografer professional pun dicari, bersolek dengan gaya terkini menjadi pencarian favorit, hingga order pakaian yang benada seragam pun meningkat pesat.

Di sinilah kita. Perubahan dunia juga “menggeser paksa” keberislaman kita pun beradaptasi. Hari Raya tak terhindar dari nada bersukacita, walau tak semua kita sepenuhnya “bahagia” di saat itu. Kita mungkin saja sedikit “mengabaikan” banyak nestapa, di tengah kondisi Indonesia tidak baik-baik saja ini. “Selamat Idul Fitri, Terus Melawan” RUU TNI dan RUU Polri masih mengintai kita.